Oleh: A. Rusdiana
Seiring perjalanan PBB hingga episode ke-183 yang kini diikuti sekitar 2.582 anggota pengikut, ruang literasi digital terus memperlihatkan dinamika yang menarik sekaligus memerlukan perenungan bersama. Di satu sisi, media sosial menghadirkan kesempatan luas bagi siapa saja untuk menulis, mengutip ayat Al-Qur’an, menyampaikan nasihat, dan membagikan refleksi keagamaan kepada masyarakat. Namun, di sisi lain, muncul fenomena ketika ilmu lebih banyak berhenti pada pembahasan, tampilan, dan simbol verbal, tetapi belum sepenuhnya menjelma menjadi akhlak serta amal nyata. Respon reflektif Abah (A-BR), “Mudah-mudahan Al-Qur’an dibaca, difahami, diamalkan, jangan ilusi ilmu…”, menjadi pengingat lembut bahwa literasi spiritual harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual. Fenomena ini menunjukkan GAP antara banyaknya pembahasan keagamaan dengan kedalaman pengamalan nilai Al-Qur’an. Karena itu, tulisan ini bertujuan merefleksikan pentingnya menjaga kesatuan ilmu, amal, akhlak, dan kerendahan hati agar menulis tidak berubah menjadi pencitraan spiritual semata.
Pertama: Ilmu Harus Melahirkan Kerendahan Hati; Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan lembut perilakunya. Dalam perspektif psikologi spiritual, ilmu yang benar akan melahirkan kesadaran bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan di hadapan Allah SWT. Karena itu, ilmu tidak boleh menjadi alat untuk merasa paling benar atau merendahkan orang lain. Respon Abah (A-BR) menunjukkan bahwa membaca dan membahas Al-Qur’an seharusnya menghadirkan kesadaran hati, bukan kesombongan intelektual yang tersembunyi di balik retorika agama. Menulis tentang agama seharusnya menjadi ruang muhasabah, bukan panggung untuk terlihat paling suci.
Kedua: Ilmu Harus Menjadi Amal Nyata; Ilmu yang hidup tidak berhenti pada ucapan, kutipan, dan tulisan, tetapi bergerak menjadi amal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an bukan sekadar bahan kajian atau simbol kesalehan digital, melainkan petunjuk hidup yang menuntun manusia kepada akhlak mulia. Ketika seseorang menulis tentang kebaikan, kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan, maka nilai-nilai itu perlu diupayakan hadir dalam perilaku sosialnya. Inilah makna penting dari pesan Abah agar Al-Qur’an dibaca, dipahami, dan diamalkan. Tanpa amal, ilmu dapat berubah menjadi beban moral; dengan amal, ilmu menjadi cahaya kehidupan.
Ketiga: Ilmu Harus Menumbuhkan Akhlak Sosial; Kerendahan hati dalam ilmu akan tampak dari cara seseorang berinteraksi dengan sesama. Orang berilmu tidak mudah menghakimi, tidak cepat merendahkan, dan tidak menjadikan pengetahuan sebagai alat menyerang orang lain. Dalam ruang digital, akhlak sosial menjadi sangat penting karena tulisan mudah menyebar dan membentuk persepsi publik. Literasi spiritual yang sehat harus menghadirkan keteduhan, tabayyun, empati, dan manfaat sosial. Karena itu, menulis bukan sekadar menyampaikan pikiran, tetapi juga menjaga hati pembaca agar tercerahkan, bukan terluka. Ilmu yang benar seharusnya memperhalus lisan, melembutkan hati, dan memperkuat persaudaraan.
Keempat: Ilmu Harus Membebaskan dari Ilusi Diri; “Ilusi ilmu” muncul ketika seseorang merasa telah dekat dengan kebenaran hanya karena sering membahas, menulis, atau mengutip ayat, padahal perilakunya belum bergerak menuju perubahan nyata. Di sinilah pentingnya kesadaran diri agar manusia tidak tertipu oleh citra religius yang dibangun di ruang publik. Menulis dengan kerendahan hati berarti berani mengakui bahwa diri masih belajar, masih berproses, dan masih membutuhkan bimbingan Allah SWT. Ilmu yang membebaskan dari ilusi diri akan melahirkan sikap jujur, tawadhu, dan ikhlas. Dengan demikian, literasi spiritual menjadi jalan memperbaiki diri, bukan sekadar memperindah tampilan diri.
Pada akhirnya, ilmu yang benar seharusnya melahirkan kerendahan hati, amal nyata, akhlak sosial, dan kesadaran diri. Membahas Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada tulisan dan diskusi, tetapi harus menghadirkan perubahan perilaku, kelembutan hati, serta keteduhan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah budaya literasi digital yang penuh pencitraan dan validasi sosial, manusia perlu menjaga agar ilmu tetap menjadi cahaya amal dan kesadaran spiritual. Karena itu, menulis tentang ilmu agama harus dilakukan dengan hati yang tawadhu, niat yang bersih, dan semangat memberi manfaat, agar tidak terjebak dalam “ilusi ilmu” yang berhenti pada ucapan semata. Wallahu A’lam.
*) Profil Penulis Berpangkat Penjelajah di Kompasiana ini sejak 22 Januari 2025.