Di kelas hari ini pembahasannya lumayan “nendang”:
bagaimana menentukan metode, media, strategi komunikasi, sampai advokasi kesehatan yang tepat.
Dan ternyata, masalah terbesar di lapangan sering bukan karena masyarakat “nggak pernah dikasih tahu”, tapi karena komunikasinya gagal nyampe.
Padahal datanya nyata.
Prevalensi stunting nasional memang turun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024 menurut hasil SSGI Kemenkes.
Tapi angka 19,8% itu tetap berarti sekitar 4,4 juta balita stunting di Indonesia.
Dan di balik angka itu, masalahnya sering bukan cuma soal makanan.
Mahasiswa Kebidanan Belajar Jadi “Problem Analyst”
Tugas kuliah kali ini cukup realistis:
- identifikasi masalah prioritas,
- wawancara bidan atau koordinator KIA,
- asesmen pengetahuan pada 3 ibu dan 1 nakes,
- lalu merancang intervensi komunitas.
Boleh offline.
Boleh online.
Boleh lewat media sosial.
Kelihatannya sederhana.
Padahal ini inti kerja layanan primer.
Karena bidan di puskesmas nggak cuma menangani persalinan, tapi juga membaca pola masalah masyarakat.
Kenapa Komunikasi Kesehatan Sering Gagal?
Karena edukasi kesehatan masih sering:
- terlalu formal,
- terlalu teoritis,
- dan tidak sesuai konteks sosial.
Contoh paling sering:
ibu hamil tahu tablet tambah darah itu penting, tapi tetap tidak diminum.
Kenapa?
Bisa karena:
- mual,
- takut bayi besar,
- mitos keluarga,
- atau merasa dirinya sehat.
Artinya masalahnya bukan sekadar “kurang pengetahuan”.
Masalahnya ada di:
- persepsi risiko,
- budaya,
- dukungan keluarga,
- dan cara pesan kesehatan disampaikan.
Media Edukasi Harus Sesuai Target
Ini yang sering salah.
Semua dikasih leaflet.
Semua disuruh ikut penyuluhan.
Padahal targetnya beda-beda.
Ibu muda mungkin lebih responsif dengan:
- reels Instagram,
- TikTok singkat,
- WhatsApp poster,
- atau video pendek.
Sedangkan kader dan ibu posyandu lebih cocok:
- diskusi kelompok kecil,
- demonstrasi,
- atau edukasi langsung.
Media yang bagus bukan yang paling estetik.
Tapi yang paling dipahami.
IMS dan Stigma: Masalah yang Jarang Dibahas Terbuka
Salah satu tema tugas adalah ibu dengan IMS.
Dan ini isu yang sering sensitif di lapangan.
Kasus IMS pada remaja dan usia muda di Indonesia dilaporkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk HIV, sifilis dan gonore.
Masalahnya?
Banyak yang takut diperiksa karena stigma.
Akhirnya:
- terlambat pengobatan,
- tidak skrining,
- dan risiko penularan ke bayi meningkat.
Di sinilah komunikasi bidan jadi penting:
bukan menghakimi, tapi membangun rasa aman.
Advokasi Itu Dimulai dari Hal Kecil
Di kelas tadi juga dibahas soal advokasi.
Dan ternyata advokasi bukan cuma urusan kementerian.
Di level puskesmas, advokasi bisa berupa:
- mengusulkan kelas ibu hamil,
- skrining anemia remaja,
- edukasi IMS,
- atau kerja sama dengan kader dan sekolah.
Karena perubahan perilaku nggak bisa jalan kalau sistem pendukungnya nggak ikut bergerak.
Yang Sering Terlupakan: Data Tidak Selalu Sama dengan Realita
Angka nasional bisa turun.
Program bisa terlihat berhasil.
Tapi realita lapangan sering lebih rumit.
Masih ada:
- ibu terlambat dirujuk,
- keluarga denial soal stunting,
- akses layanan terbatas,
- dan masyarakat yang takut datang ke fasilitas kesehatan.
Makanya mahasiswa kebidanan perlu belajar analisis masalah sejak awal.
Dan mungkin itu kenapa profesi bidan tidak cukup hanya terampil secara klinis.
Bidan juga harus mampu menjadi komunikator, edukator, dan advokat kesehatan masyarakat.
#KebidananUMJ #MahasiswaKebidanan #PromosiKesehatan #Stunting #IMS #AnemiaBumil #KIA #Puskesmas #PublicHealth