MENULIS DENGAN MEMBACA KRITIS: Dari Pantun ke Quote, Dari Sensasi Menuju Peradaban

2026-05-11 03:11:47 | Diperbaharui: 2026-05-11 03:22:07
MENULIS DENGAN MEMBACA KRITIS: Dari Pantun ke Quote, Dari Sensasi Menuju Peradaban
Ilustrasi Menulis dan membaca kritis untuk peradaban. Dibuat dan dimodifikasi oleh Penulis  dengan bantuan AI (DALL·E/ChatGPT, 11/05/2026)

 

Oleh: A. Rusdiana

Seiring perjalanan PBB episode ke-178 yang kini diikuti sekitar 2.574 anggota pengikut, budaya menulis di ruang digital semakin berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari pantun reflektif, quote motivasi, hingga opini singkat di media sosial. Namun fenomena tersebut juga menghadirkan tantangan baru, karena tidak semua tulisan lahir dari proses membaca dan refleksi yang mendalam. Secara teoretis, literasi sejati bukan sekadar menuangkan gagasan, tetapi membangun kejernihan berpikir, kepekaan sosial, dan tanggung jawab moral. Namun demikian, terdapat GAP antara idealitas literasi bermakna dengan budaya tulisan instan yang lebih mengejar sensasi dibanding substansi. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan menegaskan pentingnya membaca kritis sebagai fondasi menulis bermakna agar literasi mampu menjadi cahaya peradaban. Untuk lebih jelasnya, mari kita elaborasi satu persatu:

Pertama: Membaca Kritis sebagai Fondasi Literasi Bermakna; Langkah awal menulis yang bermakna adalah memperkuat kualitas bacaan sebelum menyampaikan gagasan. Literasi bukan sekadar membaca teks, tetapi memahami konteks, makna, dan dampak sosial dari informasi yang diterima. Penulis yang terbiasa membaca kritis akan lebih mampu menghadirkan tulisan yang reflektif, jernih, dan tidak mudah terjebak pada narasi instan. Membaca kritis melatih kejujuran berpikir serta kemampuan melihat realitas secara utuh. Dari sinilah tulisan yang bermutu lahir, bukan sekadar mengejar perhatian publik, tetapi menghadirkan nilai dan pencerahan bagi masyarakat.

Kedua: Dari Pantun Reflektif Menuju Kesadaran Literasi; Pantun refleksi alumni FU/Dak 1982–1987 tanggal 10 Mei 2026 yang berjudul “Ilmu dan Amal Cahaya Peradaban” menjadi ruang refleksi yang menarik dalam perjalanan literasi PBB. Respon Ustad Alfiqrie, “Nuju panas tiris Prof… kadang sakit juga menuntut haknya dari badan untuk sakit. Masa sehat terus,” sesungguhnya menghadirkan pelajaran kemanusiaan yang mendalam. Di balik candaan ringan tersebut terdapat pesan bahwa perjuangan ilmu, pengabdian, dan aktivitas menulis tetap melewati batas fisik, rasa lelah, dan ujian kehidupan. Dari pantun lahir refleksi, dan dari refleksi tumbuh kesadaran bahwa literasi bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga perjalanan ruhani dan kemanusiaan.

Ketiga: Dari Quote Menuju Inspirasi dan Pengabdian; Permintaan dari CDC UIN Sunan Gunung Djati Bandung melalui program Inspirasi Guru Besar memperlihatkan bahwa tulisan singkat berupa quote kini menjadi bagian penting dari budaya literasi digital. Namun quote yang bermakna tidak lahir dari kalimat indah semata, melainkan dari pengalaman, pembacaan kritis, dan perjalanan pengabdian yang panjang. Ketika quote mampu menghadirkan motivasi, harapan, dan arah kehidupan bagi mahasiswa dan generasi muda, maka tulisan pendek tersebut berubah menjadi energi perubahan sosial. Dari pantun menuju quote, literasi bergerak dari ekspresi menuju inspirasi yang hidup dan menyentuh realitas kehidupan.

Ilustrasi Meningkatkan bangsa melalui ilmu dan amal. Pesanan CDC UIN Bandung Dibuat dan dimodifikasi oleh Penulis  dengan bantuan AI (DALL·E/ChatGPT, 11/05/2026)

Keempat: Dari Sensasi Menuju Cahaya Peradaban; Realitas media sosial sering menunjukkan bahwa tulisan sensasional lebih cepat viral dibanding tulisan reflektif. Kasus “Kado Pahit” Milad ke-42 YSDP Al-Mishbah menjadi contoh bagaimana sebagian masyarakat lebih cepat menilai tampilan fisik dibanding membaca sejarah pengabdian, perjuangan guru honorer, dan dedikasi pendidikan selama puluhan tahun. Dalam konteks inilah membaca kritis menjadi sangat penting agar masyarakat tidak mudah terjebak pada persepsi sesaat. Literasi bermakna harus mampu menghadirkan empati, keadilan berpikir, dan penghormatan terhadap proses panjang pengabdian manusia dalam dunia pendidikan dan kehidupan sosial.

Pada akhirnya, menulis dengan membaca kritis merupakan jalan membangun literasi bermakna di tengah derasnya budaya digital yang serba cepat. Tulisan yang baik tidak lahir dari keinginan menjadi viral, tetapi dari kemampuan membaca realitas secara jernih dan menghadirkannya menjadi nilai kehidupan. Dari pantun lahir refleksi, dari quote tumbuh inspirasi, dan dari literasi yang bermakna akan menyala cahaya peradaban. Ketika tulisan menghadirkan empati, memperkuat pendidikan, serta membangun kesadaran moral masyarakat, maka literasi tidak lagi sekadar ramai dibicarakan lalu dilupakan, tetapi menjadi energi perubahan yang menghidupkan ilmu, amal, dan kebermanfaatan bagi umat sepanjang zaman. Wallahu A’lam.

________________

*) Profil Penulis di Kompasiana ini berpangkat Penjelajah:

Dokumen Pribadi, dipersiapkan untuk kelenkapan pendampinng meulis di Media sejak tahun 2020

Dokumen Pribadi, dipersiapkan untuk kelenkapan pendampinng meulis di Media sejak tahun 2020

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar