Oleh: A. Rusdiana
Sabtu pagi 9 Mei 2026 menjadi momentum reflektif dalam perjalanan literasi PBB ke-176 yang kini diikuti 2.574 anggota. Di tengah rutinitas menulis dan mengunggah pantun bertema ilmu, muncul kesadaran bahwa dunia digital hari ini dipenuhi tulisan yang cepat viral, tetapi belum tentu bermakna. Pada saat yang sama, unggahan elaborasi pantun “Mengukuhkan Makna Ilmu, Sujud, dan Cahaya Peradaban” memperoleh respons menarik dari Ustad Alfaqier yang menegaskan bahwa ilmu sejati seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Pernyataan itu sangat kontras dengan apa yang terjadi pada Kasus Kado pahit Milad ke 42 yang menilai pengabdian haya dengan Bangunan Fisik. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa menulis hari ini sedang berada di persimpangan penting: antara menjadi jalan pencerahan atau sekadar alat membangun sensasi sesaat. Tulisan yang lahir dari kedalaman ilmu, kejujuran berpikir, dan ketulusan pengabdian akan menghadirkan cahaya peradaban. Sebaliknya, tulisan yang hanya dibangun atas dasar pengakuan, emosi, dan penilaian permukaan justru mudah melahirkan kegaduhan sosial serta mengaburkan makna pengabdian yang sesungguhnya. Kasus “Kado Pahit” Milad ke-42 YSDP Al-Mishbah menjadi contoh nyata bagaimana sebagian masyarakat masih menilai pendidikan hanya dari tampilan fisik bangunan, sementara ruh perjuangan, dedikasi guru honorer, dan keberlanjutan pengabdian selama 42 tahun sering luput dari perhatian. Dalam konteks inilah, langkah menulis menuju literasi bermakna menjadi sangat penting: tulisan harus bergerak dari sensasi menuju refleksi, dari penilaian lahiriah menuju pemahaman substantif, serta dari sekadar komentar menuju kontribusi nyata membangun umat dan peradaban.
Secara teoretis, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi proses memahami, merefleksikan, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan. Namun demikian, terdapat GAP antara idealitas literasi bermakna dengan praktik menulis yang sering berorientasi pada popularitas, validasi sosial, dan sensasi sesaat. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa menulis hari ini tidak cukup hanya menghadirkan banyak kata, tetapi harus mampu menghadirkan makna dan kesadaran.
Literasi sejati bukan sekadar aktivitas menuangkan gagasan, melainkan proses membangun kejernihan berpikir, kepekaan sosial, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengah budaya digital yang serba cepat, tulisan sering kali lebih mudah viral karena sensasi dibanding karena kedalaman substansi. Akibatnya, penilaian terhadap seseorang, lembaga, atau pengabdian panjang sering berhenti pada tampilan luar dan persepsi sesaat. Kasus “Kado Pahit” Milad ke-42 YSDP Al-Mishbah menjadi contoh bagaimana sebagian masyarakat masih melihat pendidikan hanya dari fisik bangunan, sementara perjuangan guru honorer, semangat kebersamaan, dan dedikasi pengabdian selama puluhan tahun justru luput dari perhatian. Dalam konteks inilah, langkah menulis menuju literasi bermakna menjadi penting agar tulisan tidak sekadar menjadi ruang komentar, tetapi berubah menjadi cahaya yang mencerdaskan, membangun empati, dan meneguhkan peradaban. Untuk lebih jelasnya mari kita elaborasi satu persatu:
Pertama: Membaca Kritis sebagai Fondasi Literasi Bermakna; Langkah pertama menuju tulisan bermakna adalah meningkatkan kualitas bacaan sebelum menulis. Literasi bukan sekadar membaca teks, tetapi memahami konteks, makna, dan dampaknya. Penulis yang terbiasa membaca kritis akan lebih mampu menghadirkan tulisan yang mendalam dan reflektif. Inilah yang membedakan tulisan bermakna dengan tulisan sensasional. Membaca kritis melatih penulis untuk berpikir jernih, memahami realitas secara utuh, dan tidak mudah terjebak pada narasi instan yang hanya mengejar perhatian publik.
Kedua: Verifikasi Data untuk Melawan Hoaks dan Distorsi Informasi; Era digital menghadirkan kemudahan menyebarkan informasi, tetapi juga membuka ruang bagi hoaks dan manipulasi opini. Karena itu, seorang penulis harus memastikan kebenaran data sebelum menulis. Verifikasi informasi menjadi bagian penting dari integritas literasi. Tulisan yang baik tidak dibangun di atas asumsi liar atau emosi sesaat, tetapi berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks ini, menulis bukan hanya soal kebebasan berekspresi, melainkan juga tanggung jawab moral untuk menjaga ruang publik tetap sehat dan mencerdaskan.
Ketiga: Fokus pada Nilai dan Dampak Positif Tulisan; Langkah berikutnya adalah menghadirkan nilai dalam setiap tulisan. Penulis perlu bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah tulisan ini memberi manfaat, solusi, atau pencerahan?” Pertanyaan sederhana ini menjadi pembeda antara tulisan yang sekadar sensasi dengan tulisan yang memiliki makna peradaban. Pantun 22 Dzulqa’dah 1447 H mengingatkan bahwa ilmu dan keikhlasan harus menjadi cahaya kehidupan. Tulisan yang lahir dari semangat pengabdian akan lebih mampu membangun kesadaran kolektif, memperkuat pendidikan berkeadilan, dan menghadirkan optimisme bagi masyarakat.
Keempat: Etika Penulisan sebagai Tanggung Jawab Peradaban; Menulis tidak boleh hanya mengejar popularitas dan validasi sosial. Etika penulisan harus menjadi pondasi utama dalam literasi bermakna. Respons Ustad Alfaqier menegaskan bahwa puncak ilmu adalah semakin rendah hati dan semakin dekat kepada Allah SWT. Dalam konteks menulis, etika menghadirkan kesadaran bahwa setiap kata memiliki dampak sosial dan moral. Tulisan yang etis akan menghindari fitnah, provokasi, dan penghinaan. Sebaliknya, ia akan menjadi jalan memperbaiki diri, membangun dialog sehat, dan menghadirkan cahaya bagi kehidupan bersama.
Pada akhirnya, langkah menulis menuju literasi bermakna adalah perjalanan mengubah tulisan dari sekadar sensasi menuju cahaya peradaban. Membaca kritis, verifikasi data, fokus pada nilai, dan etika penulisan merupakan strategi penting agar literasi tidak kehilangan ruhnya. Tulisan yang bermakna akan menjadi alat yang kuat untuk mencerdaskan kehidupan, memperkuat pendidikan, dan memberdayakan masyarakat. Ketika ilmu melahirkan kerendahan hati dan tulisan menghadirkan manfaat, maka literasi tidak lagi sekadar ramai dibicarakan lalu dilupakan, tetapi menjadi energi perubahan yang membangun umat dan meneguhkan peradaban bermakna. Wallahu A’lam.
__________
*) Profil Penulis di Kompasiana Berpangkat Penjelajah sejak 22 Januari 2025