MENULIS SEBAGAI AMANAH MORAL: TANGGUNGJAWAB ETIS MENUJU CAHAYA PERADABAN

2026-05-14 23:40:39 | Diperbaharui: 2026-05-15 00:34:32
MENULIS SEBAGAI AMANAH MORAL: TANGGUNGJAWAB ETIS MENUJU CAHAYA PERADABAN
Ilustrasi Menulis sebagai amanah moral Focused work in a bright room. Dibuat dan dimodifikasi oleh Penulis  dengan bantuan AI (DALL·E/ChatGPT, 15/05/2026)

Oleh: A. Rusdiana

Seiring perjalanan PBB hingga episode ke-181 yang kini diikuti sekitar 2.578 anggota pengikut, ruang literasi digital memperlihatkan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, media sosial membuka kesempatan luas bagi siapa saja untuk menulis dan menyampaikan gagasan. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga menghadirkan fenomena tulisan yang sering kehilangan etika, tabayyun, dan tanggung jawab moral. Banyak tulisan lahir lebih karena dorongan mencari perhatian, validasi sosial, dan sensasi sesaat daripada menghadirkan manfaat serta ketenangan bagi kehidupan bersama. Fenomena tersebut tampak dalam peristiwa yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai “Kado Pahit” Milad ke-42 YSDP Al-Mishbah, ketika perhatian publik lebih banyak tertuju pada tampilan fisik dan kesederhanaan bangunan dibandingkan memahami perjalanan panjang pengabdian pendidikan yang dibangun dengan amanah, keterbatasan, dan ketulusan para guru honorer tersertifikasi selama puluhan tahun. Realitas tersebut menunjukkan bahwa budaya literasi digital sering kali lebih cepat membangun penilaian permukaan daripada menghadirkan sikap empati, tabayyun, dan penghargaan terhadap nilai pengabdian yang tersembunyi di balik sebuah perjuangan panjang.

Dalam konteks 27 Dzulqa’dah 1447 H / 14 Mei 2026 M, video kiriman BosPriangan Sari kembali menjadi pengingat lembut bahwa ketenangan hidup tidak selalu lahir dari sorotan manusia, tetapi justru hadir ketika hati belajar sederhana, ikhlas, dan tidak sibuk mengejar pengakuan semu. Namun demikian, masih terdapat GAP antara idealitas menulis sebagai amanah moral dengan praktik literasi digital yang sering dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, pencitraan, dan budaya saling menjatuhkan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan menegaskan pentingnya menulis dengan etika sebagai tanggung jawab moral menuju cahaya peradaban.

Tujuan penulisan ini sekaligus menjadi narasi pengantar bahwa literasi sejati tidak hanya diukur dari banyaknya tulisan yang diproduksi, tetapi dari sejauh mana tulisan mampu menjaga martabat manusia, menghadirkan kejujuran, dan membangun kehidupan sosial yang lebih damai dan bermakna. Untuk lebih jelasnya, mari kita elaborasi satu persatu:

Pertama: Menulis sebagai Amanah Moral; Menulis bukan sekadar menyusun kata, tetapi amanah moral yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Allah SWT. Setiap tulisan memiliki dampak sosial yang dapat membangun atau justru melukai kehidupan bersama. Karena itu, seorang penulis harus menjaga kejujuran, tabayyun, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Tulisan yang lahir tanpa etika berpotensi melahirkan fitnah, kebencian, dan kerusakan sosial. Sebaliknya, tulisan yang dijaga dengan amanah akan menjadi cahaya ilmu yang menghadirkan manfaat dan ketenangan bagi masyarakat. Dalam perspektif Islam, menulis juga harus dijauhkan dari kesombongan dan budaya mencari validasi semu sebagaimana diingatkan dalam QS. Luqman [31]: 18–19 tentang larangan berlaku angkuh dan membanggakan diri di hadapan manusia.

Kedua: Kesederhanaan sebagai Etika Penulis; Video reflektif kiriman BosPriangan Sari menghadirkan pelajaran bahwa hidup tidak harus selalu tampil paling penting agar bernilai. Prinsip tersebut relevan dengan dunia literasi hari ini yang sering dipenuhi persaingan pencitraan dan keinginan untuk selalu dianggap paling benar. Penulis yang sederhana tidak sibuk membangun kultus diri, tetapi lebih fokus menghadirkan manfaat dan keteduhan melalui tulisannya. Kesederhanaan dalam menulis berarti mampu menerima kritik, rendah hati dalam berdialog, dan tidak mudah merendahkan orang lain demi popularitas sesaat. Karena itu, tulisan yang lahir dari hati yang sederhana cenderung lebih jujur, menenangkan, dan menghadirkan keberkahan sosial bagi pembacanya. Ketiga: Literasi sebagai Jalan Penyembuhan Sosial; Mohr dalam buku Islamic Liberation Psychology menegaskan bahwa masyarakat memiliki kekuatan kolektif berupa solidaritas, spiritualitas, kasih sayang, dan perjuangan bersama yang dapat menjadi sumber penyembuhan sosial. Perspektif ini menunjukkan bahwa tulisan tidak seharusnya menjadi alat memecah belah masyarakat, tetapi menjadi ruang membangun kesadaran kritis dan kepedulian sosial. Dalam konteks Islam, nilai ukhuwah, musyawarah, keadilan, anti-rasisme, dan penghormatan terhadap martabat manusia menjadi fondasi penting dalam membangun literasi yang sehat. Karena itu, menulis dengan etika berarti menghadirkan tulisan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga menumbuhkan empati, solidaritas, dan harapan sosial di tengah masyarakat yang semakin mudah terpecah oleh informasi yang provokatif.

Keempat: Menulis menuju Cahaya Peradaban; Pada akhirnya, tulisan yang dijaga dengan etika akan menjadi cahaya ilmu yang menerangi kehidupan. Menulis bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi bagian dari ibadah sosial yang dapat menghadirkan ketenangan, pendidikan moral, dan peradaban yang lebih bermartabat. Dalam dunia digital yang semakin gaduh oleh sensasi dan pencitraan, penulis perlu kembali menata niat bahwa tujuan utama literasi bukan sekadar menjadi viral, tetapi menghadirkan manfaat dan keberkahan bagi umat. Karena itu, menulis menuju cahaya peradaban berarti menghadirkan tulisan yang jujur, santun, berkeadilan, serta mampu menjaga martabat manusia dan memperkuat persaudaraan sosial di tengah kehidupan modern.

Pada akhirnya, menulis dengan etika merupakan tanggung jawab moral yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Tulisan memiliki kekuatan membangun kesadaran, menghadirkan kedamaian, sekaligus dapat melukai kehidupan sosial jika tidak dijaga dengan amanah. Karena itu, penulis harus menjadikan kejujuran, tabayyun, kesederhanaan, dan kepedulian sosial sebagai fondasi utama dalam berliterasi. Perspektif Mohr tentang solidaritas dan penyembuhan sosial menunjukkan bahwa tulisan dapat menjadi jalan menghadirkan harapan dan persaudaraan di tengah masyarakat yang mudah terpecah oleh budaya sensasi dan validasi semu. Dengan demikian, menulis bukan sekadar aktivitas menyusun kata, tetapi ikhtiar moral menghadirkan cahaya ilmu, keteduhan hati, dan peradaban yang lebih bermartabat bagi kehidupan bersama. Wallahu A’lam.

____________

*) Profil Penulis Berpankat Penjelajah di Kompasiana ini sejak 22 Januari 2025:

Dokumen Pribadi dibuat khusus untuk pendaping pada penulisan esesai/opini di media sejak tahun 2020
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar