![]()
Menulis sebagai Zikir Intelektual: Psikologi Langit, Terapi Pendidikan, dan Jalan Menuju Fanatik Nilai
Oleh: A. Rusdiana
Pendidikan kita sedang menghadapi kelelahan makna. Aktivitas akademik berjalan, kurikulum diperbarui, teknologi diperkenalkan, tetapi kedalaman refleksi belum sepenuhnya tumbuh. Di ruang-ruang kampus, tugas menumpuk, kelas berlangsung, dan administrasi terselesaikan, namun tradisi menulis sebagai proses pematangan ilmu masih belum menjadi budaya. Padahal, menulis bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan jalan spiritual yang menyatukan ilmu, amal, dan niat.
Dalam perspektif Psikologi Langit – wahyu memandu ilmu, menulis adalah zikir intelektual. Ia bukan hanya aktivitas kognitif, tetapi proses tadabbur—merenungi realitas dengan kesadaran akan kehadiran Allah. Neurosains kontemporer menjelaskan bahwa kebiasaan reflektif melalui menulis mampu menata emosi, meningkatkan ketenangan mental, dan memperkuat makna diri (James Pennebaker – expressive writing). Sementara dalam pendidikan humanistik, Paulo Freire menempatkan refleksi sebagai inti pembebasan: manusia yang menulis adalah manusia yang sadar.
Fenomena rendahnya minat menulis di kalangan masyarakat pendidikan menunjukkan adanya jarak antara pengetahuan dan kesadaran. Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki episode ke-113 dengan 2.483 anggota adalah energi sosial yang luar biasa. Namun pertanyaan peradabannya bukan pada jumlah, melainkan pada dampak: sejauh mana tulisan-tulisan itu menjadi cahaya yang menenangkan, mencerahkan, dan membebaskan.
Di tengah tugas pembelajaran abad 21 pada empat kelas—S1 Manajemen Pendidikan Islam Internasional (VI/C-D) dan S2 Studi Pembiayaan Pendidikan (II/A-B)—menulis menjadi terapi akademik. Ia menata pikiran, menjernihkan niat, dan menghadirkan ketenangan di tengah padatnya amanah. Setiap hari menulis yang diawali dengan pantun Psikologi Langit bukan sekadar rutinitas, tetapi proses tazkiyatun nafs: menyucikan jiwa melalui amal berulang yang diniatkan karena Allah.
Sebagaimana ungkapan para filosof Muslim: “Sya’ban adalah masa menyiram amal yang ditanam di Rajab agar Ramadan menjadi musim panen iman.”
Menulis setiap hari adalah proses menyiram itu. Dari perjalanan ini terdapat lima pembelajaran utama:
Pertana: Menulis melatih keikhlasan; Tulisan yang lahir setiap hari mengajarkan bahwa karya bukan untuk pujian, tetapi untuk kebermanfaatan. Dalam hadis disebutkan bahwa amal tergantung niatnya. Menulis menjadi latihan menjaga orientasi.
Kedua: Menulis menumbuhkan empati akademik; Ketika menulis tentang pembiayaan pendidikan, kita tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi tentang beban psikologis keluarga dan masa depan mahasiswa. Inilah ilmu yang hidup.
Ketiga: Menulis adalah zikir intelektual; Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir dan merenung. Menulis adalah bentuk dzikir dalam dimensi intelektual: menghubungkan akal, hati, dan wahyu. Ia menenangkan, sebagaimana dzikir menenangkan hati (QS. Ar-Ra’d: 28).
Keempat. Menulis membangun peradaban kolaboratif; Tulisan yang dibagikan melahirkan ekosistem ilmu. PBB bukan sekadar komunitas, tetapi gerakan peradaban berbasis literasi spiritual.
Kelima. Konsistensi menulis adalah jalan transformasi diri; Teori deliberate practice dari Anders Ericsson menegaskan bahwa keahlian lahir dari latihan yang konsisten. Dalam perspektif ruhani, konsistensi adalah istiqamah—ciri amal yang paling dicintai Allah.
Proses mempertahankan posisi penjelajah di Kompasiana menuju fanatik nilai bukan sekadar capaian digital, tetapi perjalanan menjaga ruh tulisan. Fanatik di sini adalah keteguhan pada nilai kebermanfaatan, bukan pada pengakuan.
Menjelang pembelajaran semester genap 2025/2026, menulis menjadi energi untuk menghadirkan kelas yang reflektif, bukan sekadar informatif. Mahasiswa tidak hanya belajar konsep, tetapi belajar memaknai ilmu sebagai jalan memuliakan manusia.
Pada akhirnya, menulis sebagai zikir intelektual adalah terapi pendidikan. Ia menyembuhkan kelelahan makna, menumbuhkan kesadaran, dan melahirkan ketenangan. Dari tulisan-tulisan yang lahir setiap hari, peradaban dibangun—pelan, tetapi pasti.
Wallahu a’lam.