MENULIS SEBAGAI INVESTASI PERADABAN

2026-01-23 19:26:08 | Diperbaharui: 2026-01-23 19:26:08
MENULIS SEBAGAI INVESTASI PERADABAN

 

Sumber ilustrasi: Menulis adalah Investasi Peradaban: Merawat Amal Ilmu di Bulan Sya’ban (Dibuat dengan bantuan AI (ilustrasi artistik);dimodifikasi dengan gambar kiriman Bos Priangansaru 23 Januari 2026). 

Menulis sebagai Investasi Peradaban: Merawat Amal Ilmu di Bulan Sya’ban

 "Refleksi setahun perjalanan menulis dan belajar di Kompasiana, menjaga amanah ilmu dari Penjelajah menuju Fanatik."

Oleh: A. Rusdiana

Menulis bukan sekadar aktivitas personal, melainkan investasi peradaban. Tulisan yang jujur dan bertanggung jawab tidak hanya bermanfaat bagi penulisnya, tetapi juga berpotensi menjadi rujukan kebijakan pendidikan, penguatan keluarga, dan literasi keagamaan yang meneduhkan. Dalam sejarah peradaban, gagasan besar selalu diawali oleh keberanian menuangkannya dalam kata-kata dirawat dengan kesabaran, dan diuji oleh waktu.

Di tengah meningkatnya tuntutan akademik dan publikasi, menulis yang beretika menjadi benteng penting terhadap plagiarisme, manipulasi data, dan pencarian pengakuan instan. Tantangan ini menuntut lebih dari kecakapan teknis; ia memerlukan keteguhan karakter. Di sinilah relevansi refleksi bulan Sya’ban menemukan tempatnya. Para ulama dan filsuf Muslim menggambarkan Sya’ban sebagai masa menyiram dan merawat amal yang ditanam di Rajab, agar Ramadan benar-benar menjadi musim panen iman yang matang dan bermakna. Spirit ini menegaskan bahwa pertumbuhan ruhani—termasuk pertumbuhan intelektual tidak lahir dari hiruk-pikuk pencapaian, melainkan dari kesetiaan pada proses yang sunyi dan konsisten.

Memasuki tahun 2026, bertepatan dengan awal Semester Genap Tahun Pelajaran 2025/2026, refleksi ini menemukan momentumnya. Terlebih saat menutup satu tahun perjalanan menulis dan belajar di Kompasiana dengan mempertahankan kedudukan Penjelajah munuju kedudukan Fanatk (22 Januari 2025–22 Januari 2026). Pengalaman ini menegaskan bahwa keberlanjutan menulis bukan perkara viralitas, melainkan ketekunan, kejujuran, dan amanah ilmu.

Secara teoretis, gagasan “menulis sebagai investasi peradaban” sejalan dengan teori modal budaya Pierre Bourdieu, yang menempatkan pengetahuan dan literasi sebagai aset jangka panjang masyarakat. Ia juga selaras dengan pemikiran Paulo Freire tentang literasi kritis: menulis bukan hanya memindahkan kata, tetapi membebaskan kesadaran. Dari perspektif pendidikan karakter, Thomas Lickona menegaskan bahwa kejujuran dan tanggung jawab adalah fondasi pembelajaran bermakna nilai yang hanya dapat dirawat melalui praktik menulis yang konsisten dan etis.

Landasan spiritualnya pun kuat. Al-Qur’an menegaskan, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya” (QS. Asy-Syams: 9). Rasulullah ï·º bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh” (HR. Muslim). Menulis, ketika diniatkan sebagai penyebaran ilmu yang bermanfaat, adalah bentuk amal jariyah intelektual.

Dari refleksi ini, setidaknya terdapat lima pembelajaran penting bagi anggota Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) Episode ke-82 yang kini beranggotakan 2.429 penulis:

Pertama, menulis melatih disiplin peradaban. Seperti amal yang disiram di Sya’ban, tulisan yang konsisten membentuk ketahanan intelektual jangka panjang bukan sekadar capaian sesaat.

Kedua, menulis menuntut kejujuran sebagai fondasi. Kejujuran dalam sumber, data, dan gagasan adalah benteng utama dari plagiarisme. Di sinilah karakter penulis diuji.

Ketiga, menulis adalah sarana tazkiyatun nafs. Proses menulis yang reflektif membantu melepaskan beban batin: ego, ambisi berlebih, dan kecenderungan pamer intelektual. Ia mendidik kerendahan hati.

Keempat, menulis memperluas manfaat sosial. Tulisan yang baik berkontribusi pada kebijakan pendidikan, penguatan keluarga, dan literasi keagamaan yang menyejukkan fungsi sosial yang menjadi ruh PBB.

Kelima, menulis membangun kesinambungan jalan literasi. Dalam konteks Kompasiana, mempertahankan status Penjelajah membutuhkan konsistensi, kualitas, dan etika. Strategi menuju Fanatik bukanlah mengejar kuantitas semata, melainkan menjaga mutu tulisan, relevansi tema, dan integritas pribadi.

Menutup refleksi ini, menulis sebagai investasi peradaban menuntut kesabaran seorang penyemai. Bulan Sya’ban mengajarkan bahwa yang disiram dengan tekun akan berbuah pada waktunya. Menyongsong Semester Genap 2025/2026 dan melanjutkan perjalanan literasi di PBB serta Kompasiana, semoga menulis kita tetap menjadi jalan amanah ilmu yang menumbuhkan diri, meneduhkan masyarakat, dan memberi makna bagi peradaban. Wallahu A'lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar