Menulis sebagai Jalan Menyiram Waktu

2026-02-12 06:12:34 | Diperbaharui: 2026-02-12 06:13:06
Menulis sebagai Jalan Menyiram Waktu
Sumber: Ilustrasi digital berbasis AI tentang “Menulis sebagai Jalan Menyiram Waktu”, disusun penulis, dengan berbantuan Artificial Intelligence (AI), 12 Februari 2026

Menulis sebagai Jalan Menyiram Waktu

(Refleksi untuk PPBB Episode ke-100 – dibulan Bulan Sya'ban Menyiram)

Oleh: A. Rusdiana

Ada fase dalam hidup ketika kita merasa tertinggal. Saya pernah mengalaminya. Empat tahun tertunda dari ritme pendidikan formal yang semestinya berjalan bersama teman sebaya. Waktu itu terasa seperti kehilangan arah. Namun dari ruang sunyi itulah saya menemukan satu jalan: menulis. Selama hampir enam tahun terakhir, menulis menjadi disiplin batin. Di tengah derasmya perkembangan jumlah dosen dan Guru Besar di linkumngan UIN Bandung, saya dipercaya menjadi kontributor terpopuler dan kontributor terbanyak di ”digilibuinsgd” Bandung. Angka itu bukan kebanggaan pribadi, melainkan bukti bahwa konsistensi dapat melampaui keterlambatan.

Beberapa waktu lalu, seorang teman seusia, alumi satu jurusan, bercerita tentang misinya: khatam Qur’an sebulan sekali. Saya tersenyum. Dua tahun ini saya belum juga selesai, tinggal empat juz tersisa. Ada rasa kecil hati. Namun kemudian saya merenung: mungkin cara saya berinteraksi dengan Al-Qur’an berbeda. Hampir setiap tulisan saya selalu saya kaitkan dengan ayat. Saat ini sedang menulis Buku Ajar ”pembiayaan pendidikan”, manajemen, atau unit cost, selalu saya usahakan memiliki pijakan nilai ilahiah. Mungkin saya tidak khatam secara kuantitas, tetapi saya berusaha menadabburi dalam bentuk tulisan. Kabetulan bulan ini adalah bulan menyiram bulan merawat niat sebelum panen amal. Menulis bagi saya adalah cara menyiram waktu yang pernah tertinggal. Dari perjalanan ini, saya memetik lima pelajaran:

Pelajaran Pertama: Keterlambatan Akademik, adalah Proses Pemurnian; Empat tahun tertinggal bukan akhir. Ia melatih daya tahan. Dalam psikologi disebut resilience, dalam tasawuf disebut tazkiyatun nafs. Luka waktu bisa berubah menjadi energi kontribusi jika disikapi dengan kesungguhan.

Pelajaran Kedua: Konsistensi Mengalahkan Kecepatan; Menulis hampir enam tahun tanpa henti mengajarkan bahwa keberhasilan bukan tentang siapa paling cepat, tetapi siapa paling istiqamah. Setiap tulisan adalah tetes air yang menyiram pohon ilmu.

Pelajaran Ketiga: Khidmah Lebih Panjang dari Jabatan; Setelah menjadi Guru Besar, saya pernah ditawari jabatan struktural dan memilih fokus mengajar serta menulis. Dalam tradisi keilmuan, khidmah pelayanan ilmu sering lebih abadi daripada riyasah. Menulis adalah bentuk khidmah sunyi.

Pelajaran Keempat: Ilmu Adalah Warisan yang Tak Terlihat; Sebagian pembimbing dan teman sebaya telah berpulang sebelum menyaksikan saya sampai pada jabatan ini. Mereka mungkin tidak melihat hasilnya, tetapi nilai yang mereka tanamkan hidup dalam setiap tulisan yang saya hasilkan.

Pelajaran Kelima: Al-Qur’an Tidak Hanya Dibaca, tetapi Dihidupkan; Saya mungkin belum khatam setiap bulan. Namun saya belajar bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk diselesaikan, tetapi untuk dihidupkan dalam pemikiran dan karya. Jika setiap tulisan berusaha berpijak pada ayat, maka itu adalah bentuk tadabbur yang berjalan.

Episode ke-100 PPBB ini menjadi pengingat: menulis adalah cara menyiram waktu, merawat niat, dan menguatkan langkah. Jika pernah tertinggal, jangan berhenti. Jika pernah merasa kurang, jangan menyerah. Mungkin Allah tidak meminta kita sama jalannya, tetapi meminta kita sungguh dalam perjalanan. Wallahu a’lam.

___________

*) Ditulis untuk PBB Episode ke-100 (2.455 anggota) sebagai bagian dari gerakan literasi reflektif dan penguatan inspirasi pendidikan, selaras dengan semangat Kompasiana.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar