Oleh: A. Rusdiana
PBB Edisi 206 Saat ini didukung oleh 2.650 Anggota
Fenomena dunia digital menunjukkan bahwa proses berkarya tidak selalu berjalan mulus. Gangguan teknis, perubahan sistem, bahkan hambatan akses sering menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi para penulis. Dalam perspektif psikologi pendidikan, Carol S. Dweck melalui teori Growth Mindset menjelaskan bahwa hambatan bukanlah tanda kegagalan, melainkan kesempatan untuk belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kapasitas diri. Sejalan dengan itu, teori resilience menyatakan bahwa ketangguhan seseorang justru dibentuk ketika ia mampu bangkit dari berbagai kesulitan yang dihadapinya. Pengalaman tersebut saya rasakan ketika pada 25–28 Juni 2026 hampir 35 naskah yang telah dipersiapkan tidak dapat diunggah ke Kompasiana. Pengalaman pernah mengalami pemblokiran akun pada tahun 2024 sempat menghadirkan kekhawatiran yang sama. Namun, atas izin Allah SWT, pada dini hari 29 Juni 2026, setelah berpindah dari Mozilla Firefox ke Google Chrome, proses unggah kembali berjalan normal. Peristiwa sederhana ini menyadarkan saya bahwa setiap ikhtiar pasti memiliki jalan keluar selama tidak menyerah.
Dalam perspektif teori langit, Allah SWT berfirman, "...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu..." (QS. Al-Baqarah [2]: 216). Ayat tersebut mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan tersimpan hikmah yang sering kali baru disadari setelah ujian berlalu. Nilai inilah yang sejalan dengan semangat Muharram sebagai momentum hijrah, yakni berpindah dari rasa putus asa menuju optimisme, dari keluh kesah menuju ikhtiar, dan dari sekadar menulis menjadi menulis sebagai bentuk ibadah serta ungkapan syukur. Oleh karena itu, pengalaman tersebut menghadirkan pelajaran berharga bahwa rasa syukur tidak hanya lahir ketika berhasil, tetapi juga ketika seseorang tetap istiqamah berkarya, mampu menemukan hikmah di balik setiap ujian, serta menjadikan setiap hambatan sebagai jalan untuk semakin mendekat kepada Allah SWT dan terus menebarkan manfaat melalui tulisan.
Peristiwa sederhana ini menghadirkan pelajaran berharga bahwa rasa syukur bukan hanya lahir ketika berhasil, tetapi juga ketika mampu bertahan menghadapi ujian dalam berkarya. Berikut empat pembelajaran yang perlu dimaknai:
Pertama: Menulis sebagai Wujud Syukur atas Nikmat Ilmu; Ilmu merupakan amanah Allah SWT yang tidak boleh berhenti pada diri pemiliknya. Salah satu bentuk syukur yang paling nyata adalah mengubah ilmu menjadi karya yang bermanfaat bagi orang lain. Peter F. Drucker menyatakan bahwa "Knowledge has to be improved, challenged, and increased constantly, or it vanishes." Pengetahuan harus terus dikembangkan, dibagikan, dan dimanfaatkan agar tetap hidup. Dalam perspektif Islam, Allah SWT berfirman, "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu" (QS. Ibrahim [14]: 7). Menulis menjadi wujud syukur karena ilmu yang dituliskan tidak hanya memperkaya diri sendiri, tetapi juga menjadi amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir. Semangat Muharram mengingatkan bahwa hijrah ilmu harus diwujudkan melalui karya nyata yang menginspirasi umat dan membangun peradaban.
Kedua: Hambatan Adalah Bagian dari Proses Hijrah Berkarya; Tidak ada perjalanan besar tanpa rintangan. Gangguan teknis yang membuat hampir tiga puluh lima tulisan tertunda selama beberapa hari mengajarkan bahwa kesabaran merupakan bagian dari proses menuju keberhasilan. Angela Duckworth melalui teori Grit menjelaskan bahwa keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh ketekunan dan konsistensi dibandingkan sekadar kecerdasan. Allah SWT juga menegaskan, "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6). Berpindah dari Mozilla Firefox ke Google Chrome hanyalah ikhtiar teknis, tetapi di baliknya terdapat pelajaran bahwa solusi akan hadir bagi mereka yang tidak berhenti berusaha. Hikmah Muharram mengajarkan bahwa hijrah selalu diawali oleh keberanian meninggalkan cara lama menuju ikhtiar yang lebih baik.
Ketiga: Menulis adalah Bentuk Bakti kepada Guru; Setiap guru meninggalkan jejak dalam perjalanan intelektual muridnya. Menulis tentang guru merupakan bentuk penghormatan sekaligus rasa syukur atas ilmu yang pernah diterima. Ketika saya menulis tentang Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, sesungguhnya saya sedang mengabadikan nilai-nilai kepemimpinan, integritas, dan pengabdian beliau kepada dunia pendidikan. Albert Bandura melalui Social Learning Theory menjelaskan bahwa manusia belajar melalui keteladanan (modeling). Dalam Islam, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda." (HR. Ahmad). Menulis tentang guru bukan sekadar mengenang sosoknya, tetapi melanjutkan warisan pemikirannya agar tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Keempat: Komunitas Literasi Menjadi Energi Kebangkitan Peradaban; Perjalanan menulis akan lebih bermakna ketika dilakukan bersama dalam ekosistem yang saling menguatkan. Kehadiran Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini didukung oleh 2.650 anggota membuktikan bahwa budaya literasi dapat tumbuh melalui semangat kolaborasi. Etienne Wenger dalam teori Community of Practice menjelaskan bahwa pembelajaran terbaik lahir dari komunitas yang saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Allah SWT berfirman, "...Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 2). Semangat Muharram mengingatkan bahwa hijrah bukanlah perjalanan individual, melainkan gerakan kolektif menuju kehidupan yang lebih baik. Karena itu, setiap tulisan yang lahir dari komunitas literasi sesungguhnya menjadi investasi peradaban yang akan terus memberi manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, pengalaman tertundanya puluhan tulisan mengajarkan bahwa Allah SWT tidak pernah menyia-nyiakan setiap ikhtiar yang dilakukan dengan sabar dan penuh keikhlasan. Menulis bukan sekadar menyusun rangkaian kata, tetapi merupakan ungkapan syukur atas nikmat ilmu, bentuk penghormatan kepada guru, latihan ketangguhan menghadapi ujian, sekaligus kontribusi nyata membangun peradaban melalui komunitas literasi. Semangat hijrah di bulan Muharram mengingatkan bahwa setiap hambatan dapat menjadi awal kebangkitan apabila disikapi dengan iman, ikhtiar, dan istiqamah. Oleh karena itu, teruslah menulis, karena setiap tulisan yang lahir dari hati yang bersyukur akan menjadi cahaya ilmu yang menerangi perjalanan generasi mendatang. Wallahu A'lam.
_____________
*) Profil Penulis: Berpangkat Penjelajah di Kompasiana sejak 22 Januari 2025: