Menulis Terapi Pendidikan

2026-02-11 23:36:40 | Diperbaharui: 2026-02-11 23:36:40
Menulis Terapi Pendidikan
Sumber: Ilustrasi digital berbasis AI tentang “Menulis sebagai Terapi Pendidikan”, disusun penulis, dengan berbantuan Artificial Intelligence (AI), 11 Februari 2026

 

Menulis adalah Terapi Pendidikan: Masihkah Kita Percaya pada Daya Sembuh Kata?

Oleh: A. Rusdiana

Pendidikan kita sedang berada pada fase yang melelahkan. Target kurikulum menumpuk, administrasi menekan, evaluasi berlapis, dan transformasi digital berjalan cepat. Di ruang-ruang kelas, dosen dan mahasiswa sering terjebak dalam ritme produktivitas yang kering makna. Kita sibuk mengejar capaian, tetapi jarang berhenti untuk merawat jiwa.

Dalam refleksi yang kerap dikutip, Imam Suprayogo mengingatkan bahwa pendidikan kita “sedang sakit di bagian hati.” Pernyataan ini bukan sekadar kritik, tetapi panggilan untuk kembali pada dimensi ruhani pendidikan. Psikologi Langit menempatkan pendidikan sebagai proses penyembuhan jiwa, bukan sekadar pengukuran kognitif. Pertanyaannya: di tengah tekanan sistem, adakah ruang untuk menyembuhkan diri?

Di sinilah menulis menemukan maknanya. Menulis sebagai Terapi Batin; Merawat bonsai sering menjadi terapi batin. Saat memangkas dahan, pikiran ikut dirapikan. Saat menyiram, hati ikut ditenangkan. Ada jeda, ada keheningan, ada proses adaptasi. Hal yang sama terjadi dalam menulis. Ketika pendidik atau mahasiswa menuangkan pengalaman ke dalam kata, sesungguhnya mereka sedang merapikan kegelisahan dan menata ulang makna.

Teori expressive writing dari James Pennebaker menunjukkan bahwa menulis tentang pengalaman emosional dapat meningkatkan kesehatan psikologis dan memperkuat daya tahan mental. Dalam konteks pendidikan, menulis reflektif membantu individu memahami pengalaman belajar secara lebih utuh. Ia bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan proses pemulihan.

Namun, fenomenanya berbeda. Minat menulis di kalangan masyarakat pendidikan masih rendah. Banyak yang membaca, tetapi sedikit yang menuliskan pengalaman batinnya. Padahal, di Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) episode ke-99 dengan 2.455 anggota, kita memiliki ruang kolektif untuk saling menyemai inspirasi. Pertanyaannya bukan sekadar jumlah anggota, tetapi dampaknya: apakah tulisan kita benar-benar menyembuhkan dan menggerakkan? Berikut Lima Pembelajaran dari Menulis sebagai Terapi Pendidikan:

Pertama, menulis merapikan pikiran. Dalam dunia yang penuh distraksi digital, menulis memaksa kita berhenti sejenak. Ia seperti proses pruning pada bonsai membuang ranting berlebih agar bentuknya lebih proporsional. Refleksi tertulis membantu pendidik dan mahasiswa memahami ulang tujuan belajar.

Kedua, menulis menyembuhkan emosi. Al-Qur’an menyebutkan bahwa hati menjadi tenang dengan mengingat Allah (QS. Ar-Ra’d: 28). Menulis reflektif dapat menjadi bentuk dzikir intelektual menghadirkan kesadaran, rasa syukur, dan keikhlasan dalam proses pendidikan.

Ketiga, menulis membangun jejak makna. Filsuf Muslim mengingatkan bahwa bulan Sya’ban adalah masa menyiram amal yang ditanam di Rajab agar Ramadan menjadi musim panen iman. Menulis adalah proses “menyiram” pengalaman, agar kelak ia menjadi panen hikmah. Setiap tulisan adalah investasi makna jangka panjang.

Keempat, menulis memperkuat komunitas. PBB bukan sekadar wadah publikasi, tetapi ruang terapi kolektif. Ketika satu anggota menulis tentang kegelisahan pendidikan, anggota lain merasa tidak sendiri. Solidaritas lahir dari keterbukaan.

Kelima, menulis membangun konsistensi. Dalam menyongsong Semester Genap 2025/2026, menulis dapat menjadi strategi menjaga ritme refleksi. Konsistensi inilah yang juga membantu mempertahankan posisi sebagai Penjelajah di Kompasiana, bahkan menuju Fanatik bukan semata status, tetapi komitmen berkarya.

Bagaimana Strategi Menyalakan Inspirasi?; Agar menulis benar-benar menjadi terapi pendidikan, diperlukan tiga strategi. Pertama, biasakan jurnal reflektif mingguan bagi pendidik dan mahasiswa. Kedua, aktifkan ruang diskusi di komunitas seperti PBB agar tulisan tidak berhenti sebagai monolog. Ketiga, integrasikan nilai Psikologi Langit dalam narasi—menghadirkan sentuhan spiritual, bukan sekadar opini teknis.

Menulis bukan tentang menjadi terkenal, tetapi tentang menjadi jujur. Ia adalah ruang jeda setelah kelelahan administrasi, ruang hening di tengah kebisingan algoritma.

Pada akhirnya, pendidikan yang sehat bukan hanya yang memiliki sistem rapi, tetapi yang memiliki hati yang terawat. Dan menulis adalah salah satu cara paling sederhana untuk merawatnya. Masihkah kita percaya pada kisah keteladanan? Jawabannya mungkin ada pada satu hal sederhana: seberapa konsisten kita menulis dengan hati. Wallahu A’lam


*) Ditulis untuk PBB Episode ke-99 (2.455 anggota) sebagai bagian dari gerakan literasi reflektif dan penguatan inspirasi pendidikan, selaras dengan semangat Kompasiana.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar