MENULIS UNTUK MENGUATKAN UKHUWAH DAN KEPEDULIAN

2026-07-20 00:16:57 | Diperbaharui: 2026-07-20 00:31:33
MENULIS UNTUK MENGUATKAN UKHUWAH DAN KEPEDULIAN
Ilustrasi MENULIS untuk Kembali Menguatkan Ukhuwah dan Kepedulian: Tiga Hari Jeda Menulis, Saatnya Berbagi Inspirasi melalui Literasi. Sumber: dibuat dan dimodifikasi oleh penulis dengan berbantuan teknologi kecerdasan buatan (DALL•E/ChatGPT, 19 Juli 2026).

MENULIS UNTUK MENGUATKAN UKHUWAH DAN KEPEDULIAN Tiga Hari Jeda Menulis, Saatnya Berbagi Inspirasi melalui Literasi

Oleh: A. Rusdiana

PBB Ke-213 Didukung oleh 2.663 Anggota

Tiga hari tidak menulis di Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) bukan berarti berhenti berkarya. Waktu tersebut saya manfaatkan untuk menuntaskan serial Pantun 4 Safar 1448 H bertema Menguatkan Ukhuwah dan Kepedulian, sekaligus mengejar target peningkatan poin di Kompasiana pasca gangguan teknis yang terjadi sekitar dua minggu lalu. Kini, dengan dukungan 2.663 anggota PBB, semangat untuk kembali berbagi gagasan semakin menguat.

Dalam perspektif teori Modal Sosial (Social Capital) yang dikemukakan Robert D. Putnam, hubungan sosial yang dibangun atas dasar kepercayaan, kerja sama, dan kepedulian merupakan modal utama dalam membangun masyarakat yang harmonis, produktif, dan berdaya. Demikian pula Albert Bandura melalui Social Learning Theory menjelaskan bahwa manusia belajar melalui keteladanan, interaksi, dan pengalaman sosial. Oleh karena itu, tulisan yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi teladan yang menginspirasi lahirnya budaya saling peduli dan saling menguatkan.

Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam. Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat [49]: 10).

Rasulullah saw. juga bersabda: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur." (HR. Bukhari dan Muslim).

Bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan. Rasulullah saw. menegaskan: "Tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, Safar justru menjadi momentum memperbanyak amal saleh, mempererat persaudaraan, memperluas kepedulian, dan menghadirkan manfaat melalui karya tulis. Menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan media dakwah, sarana mempererat ukhuwah, serta jalan berbagi ilmu yang bernilai ibadah.

Tujuan Penulisan ini. mengaktualisasikan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dan kepedulian sosial melalui budaya menulis sebagai media berbagi ilmu, mempererat persaudaraan, serta membangun peradaban literasi yang bermanfaat dan berkelanjutan. Berikut penjelasnya:

Pertama: Menulis Mempererat Silaturahmi; Menurut Robert D. Putnam, modal sosial yang dibangun melalui kepercayaan, komunikasi, dan jejaring sosial akan memperkuat solidaritas masyarakat. Menulis menjadi salah satu media yang mampu menyambungkan hati, memperluas persahabatan, dan menghadirkan dialog yang mencerahkan. Allah Swt. berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat [49]: 10).

Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim).

Momentum Safar mengajarkan bahwa keberkahan hadir melalui persaudaraan yang terus dipelihara, termasuk melalui tulisan yang menyatukan.

Kedua: Menulis sebagai Wujud Berbagi; Teori Prosocial Behavior menjelaskan bahwa berbagi lahir dari empati dan akan meningkatkan kesejahteraan individu maupun masyarakat. Menulis merupakan bentuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang. Allah Swt. berfirman: "Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri..." (QS. Al-Hasyr [59]: 9).

Rasulullah saw. bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad).

Setiap tulisan yang memberikan manfaat merupakan sedekah ilmu yang pahalanya terus mengalir.

Ketiga: Menulis Menumbuhkan Kepedulian terhadap Lingkungan Sosial; Teori Sustainable Development menempatkan kepedulian sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan. Tulisan yang baik mampu menggerakkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, menghormati sesama, dan memperkuat kehidupan sosial. Allah Swt. berfirman: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya." (QS. Al-A'raf [7]: 56).

Rasulullah saw. bersabda: "Apabila di tangan salah seorang di antara kalian terdapat benih tanaman, maka tanamlah." (HR. Ahmad).

Bulan Safar menjadi kesempatan memperbanyak amal yang membawa kemaslahatan bagi manusia dan alam.

Keempat: Menulis Menguatkan Persatuan; Menurut Émile Durkheim, solidaritas sosial merupakan perekat kehidupan masyarakat. Menulis yang santun, objektif, dan membangun akan memperkokoh persatuan di tengah keberagaman. Allah Swt. berfirman: "Berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai." (QS. Ali 'Imran [3]: 103).

Allah juga berfirman: "Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa." (QS. Al-Ma'idah [5]: 2).

Rasulullah saw. bersabda: "Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Persatuan yang dibangun melalui literasi akan melahirkan masyarakat yang cerdas, damai, dan berkarakter.

Singkatnya, menulis pada hakikatnya adalah berbagi. Berbagi ilmu, pengalaman, inspirasi, nilai, dan harapan agar kehidupan menjadi lebih bermakna. Tulisan yang lahir dari hati yang ikhlas akan menjadi jembatan ukhuwah, memperkuat kepedulian, menumbuhkan empati, serta menggerakkan semangat saling menolong dalam kebaikan. Karena itu, setiap kata yang ditulis hendaknya menjadi sedekah ilmu yang mencerahkan, bukan sekadar rangkaian kalimat yang mengejar popularitas. Bulan Safar mengingatkan bahwa tidak ada waktu yang membawa kesialan; yang ada adalah kesempatan memperbanyak amal saleh dan menebarkan manfaat. Menulis pun termasuk amal tersebut apabila diniatkan untuk mengajak kepada kebaikan, mempererat persaudaraan, menjaga persatuan, dan membangun peradaban literasi yang berakhlak. Semoga setiap tulisan menjadi jejak kebajikan yang terus mengalir pahalanya, menguatkan ukhuwah, memperluas kepedulian, menghadirkan keberkahan bagi penulis dan pembaca, serta menjadi amal jariyah yang diridhai Allah Swt. Wallahu A’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar