MIMPI MENJADI KOUMNIS: Dari Impian Masa Kecil Menuju Ruang Litersi Digital

2026-03-16 06:41:12 | Diperbaharui: 2026-03-16 06:41:28
MIMPI MENJADI KOUMNIS: Dari Impian Masa Kecil Menuju Ruang Litersi Digital
Sumber: Ilustrasi From dream to digital writer's desk. Dibuat dengan bantuan AI (DALL·E / ChatGPT), 16/03/2026)

 

Mimpi Menjadi Kolumnis: Dari Impian Masa Kecil Menuju Ruang Literasi Digital

Oleh: A. Rusdiana

Pada era 1970-an, kolumnis koran memiliki tempat istimewa dalam kehidupan intelektual masyarakat. Kolom-kolom di surat kabar menjadi ruang bagi para pemikir untuk menyampaikan refleksi sosial, budaya, dan moral kepada publik. Banyak orang yang tumbuh pada masa itu memandang kolumnis sebagai sosok intelektual yang mampu memengaruhi cara pandang masyarakat. Surat kabar tidak hanya menjadi sumber berita, tetapi juga menjadi ruang dialog publik tempat gagasan dipertemukan dengan realitas kehidupan masyarakat.

Mimpi seperti itu pernah tumbuh dalam benak seorang anak kecil yang gemar membaca koran. Bukan koran baru yang dibeli khusus, melainkan koran bekas yang sering menjadi bungkus belanjaan dari warung. Lembaran-lembaran kusut yang telah berpindah fungsi itu justru menjadi jendela kecil untuk melihat dunia yang lebih luas. Dari potongan berita hingga kolom opini yang terselip di halaman tengah, semuanya dibaca dengan penuh rasa ingin tahu. Pada masa itu, membaca koran bukan sekadar kegiatan mengisi waktu, melainkan proses belajar memahami kehidupan melalui kata-kata.

Kenangan itu semakin kuat ketika pada akhir dekade 1970-an sekitar tahun 1978 kehidupan mulai lebih menetap di Bandung. Kota ini pada masa itu dikenal sebagai kota pendidikan sekaligus kota intelektual. Kehadiran berbagai perguruan tinggi menghadirkan atmosfer diskusi yang hidup. Dosen, mahasiswa, dan para pemikir sering terlibat dalam percakapan tentang berbagai persoalan bangsa, baik dalam forum akademik maupun dalam obrolan santai di kantin kampus dan warung kopi.

Bagi seorang remaja yang gemar membaca, suasana seperti itu menjadi sekolah kehidupan yang sangat berharga. Interaksi dengan para akademisi, dosen, dan mahasiswa membuka cakrawala berpikir yang lebih luas. Dari percakapan-percakapan tersebut mulai tumbuh kesadaran bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata, tetapi juga alat refleksi sosial yang mampu menyampaikan gagasan kepada masyarakat.

Dalam konteks itu, membaca tulisan di surat kabar Pikiran Rakyat (PR) pada era 1970–1980-an menjadi pengalaman intelektual yang sangat berkesan. Harian tersebut tidak hanya menjadi media informasi, tetapi juga menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat Sunda. Banyak tokoh penulis dan kolumnis yang tulisannya lekat dengan kehidupan masyarakat Jawa Barat.

Salah satu tokoh yang sangat ikonik adalah Atang Ruswita (AR). Ia dikenal melalui kolom-kolomnya yang tajam namun tetap lembut, khas gaya komunikasi masyarakat Sunda. Kritik sosial yang disampaikannya sering menggunakan perumpamaan sehari-hari yang mudah dipahami masyarakat. Istilah seperti “berkulit badak” misalnya, digunakan untuk menggambarkan pejabat yang tidak peka terhadap kritik publik. Gaya bahasa seperti ini membuat tulisannya terasa dekat dengan kehidupan rakyat.

Selain itu terdapat Sakti Alamsyah, sosok penting yang berperan dalam membangun fondasi editorial Pikiran Rakyat. Ia menjaga agar koran tersebut tetap memiliki ruh lokalitas yang kuat. Bersama para penulis lainnya, ia membangun manajemen redaksi yang membuat Pikiran Rakyat menjadi salah satu suara penting masyarakat Jawa Barat di tingkat nasional.

Nama lain yang tidak kalah berpengaruh adalah Aam Amilia, seorang penulis perempuan yang sangat produktif. Selain dikenal melalui karya sastranya seperti novel Kalangkang Japati, tulisan-tulisannya di Pikiran Rakyat sering mengangkat sisi humanis kehidupan keluarga Sunda. Gaya tulisannya menghadirkan kedalaman emosi sekaligus refleksi sosial yang kuat.

Kemudian ada Tatang Sumarsono, penulis yang sangat setia pada literatur Sunda. Tulisan-tulisannya sering menjadi rujukan untuk memahami dinamika perubahan budaya dan bahasa Sunda di tengah arus modernisasi. Ia mampu menghadirkan refleksi budaya dengan pendekatan yang akademis sekaligus komunikatif.

Tidak kalah penting adalah Usep Romli HM, sosok yang sangat dekat dengan isu perdesaan dan religiusitas masyarakat Sunda. Gaya tulisannya sering menyelipkan humor atau bodor khas Sunda, namun di balik humor tersebut tersimpan kritik sosial yang mendalam. Melalui tulisan-tulisannya, pembaca diajak memahami kehidupan masyarakat dari perspektif yang lebih humanis.

Bagi banyak pembaca muda pada masa itu, para penulis tersebut bukan sekadar kolumnis. Mereka adalah guru intelektual yang mengajarkan cara membaca realitas sosial melalui tulisan. Kolom-kolom mereka menjadi semacam ruang belajar informal yang membentuk kesadaran berpikir kritis masyarakat.

Kini zaman telah berubah. Jika pada era 1970-an ruang menulis terbatas pada media cetak, maka pada era literasi digital ruang tersebut menjadi jauh lebih terbuka. Internet menghadirkan platform yang memungkinkan siapa saja menulis dan berbagi gagasan kepada publik. Blog, portal opini, hingga komunitas menulis digital membuka kesempatan bagi lahirnya generasi baru kolumnis.

Mimpi menjadi kolumnis yang dahulu terasa jauh kini menemukan bentuk baru melalui ruang literasi digital. Teknologi tidak menghapus tradisi menulis, justru memperluas jangkauan gagasan yang dapat disampaikan kepada masyarakat. Jika dahulu tulisan harus menunggu ruang di halaman koran, kini gagasan dapat langsung menjangkau pembaca dari berbagai wilayah bahkan lintas negara.

Dari refleksi perjalanan tersebut, setidaknya terdapat beberapa pembelajaran penting. Pertama, mimpi sering kali lahir dari pengalaman sederhana—seperti membaca koran bekas di masa kecil. Kedua, lingkungan intelektual memiliki peran besar dalam menumbuhkan keberanian berpikir dan menulis. Ketiga, tradisi menulis para kolumnis generasi sebelumnya memberikan teladan bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang berpihak pada kemanusiaan dan masyarakat. Keempat, perkembangan teknologi tidak menghapus nilai literasi, tetapi justru membuka ruang baru bagi lahirnya kolumnis generasi digital.

Dengan demikian, perjalanan dari membaca koran bekas hingga menulis di ruang literasi digital sesungguhnya adalah perjalanan literasi yang panjang. Ia menunjukkan bahwa mimpi masa kecil tidak selalu hilang ditelan waktu. Dalam banyak kasus, mimpi itu justru menemukan jalannya sendiri melalui kata-kata, melalui tulisan, dan melalui ruang literasi yang terus berkembang. Wallahu A'lam. 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar