Kota Bekasi dan Jalan Panjang Menuju Smart City

2026-03-15 06:57:40 | Diperbaharui: 2026-03-15 06:57:40
Kota Bekasi dan Jalan Panjang Menuju Smart City
Suasana Kota Bekasi malam hari (Dok Pemkot Bekasi)

Di tengah hiruk pikuk kawasan metropolitan Jakarta, Kota Bekasi pelan-pelan mencoba menata diri. Kota yang selama ini dikenal sebagai kota penyangga ibu kota itu kini mulai serius menapaki jalur baru, menjadi kota yang lebih modern melalui konsep smart city atau kota cerdas.

Gagasan ini pada dasarnya sederhana. Teknologi tidak hanya dipakai untuk gaya-gayaan, tetapi digunakan untuk memperbaiki pelayanan publik, mempercepat birokrasi, dan membuat pengelolaan kota menjadi lebih efisien.

Di Bekasi, konsep smart city mulai dirumuskan secara serius sekitar tahun 2016, pada masa Wali Kota Rahmat Effendi. Saat itu pemerintah kota mulai menyusun arah pembangunan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam pengelolaan pemerintahan. Bekasi juga ikut dalam program nasional Gerakan 100 Smart City yang digagas Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Dari situlah fondasi awal mulai dibangun. Pemerintah kota menyusun masterplan smart city, mengembangkan berbagai aplikasi layanan publik, dan membangun Command Center sebagai pusat kendali kota. Tempat ini berfungsi memantau berbagai aktivitas kota sekaligus mengintegrasikan informasi dari berbagai perangkat daerah.

Dalam praktiknya, pengembangan kota cerdas di Bekasi bertumpu pada enam pilar utama, yaitu smart governance, smart branding, smart economy, smart living, smart society, dan smart environment. Enam pilar ini menjadi kerangka untuk mendorong pembangunan kota yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas hidup warganya.

Pada sisi pelayanan publik misalnya, berbagai layanan administrasi mulai diarahkan agar bisa diakses secara daring. Warga tidak harus selalu datang ke kantor pemerintahan untuk mengurus dokumen atau perizinan. Teknologi diharapkan membuat pelayanan menjadi lebih cepat dan praktis.

Upaya lain juga terlihat dari penataan infrastruktur digital kota. Pemerintah Kota Bekasi mulai membangun jaringan ducting kabel bawah tanah untuk menata utilitas sekaligus memperkuat jaringan telekomunikasi. Selain memperbaiki konektivitas, langkah ini juga membuat wajah kota menjadi lebih rapi tanpa kabel udara yang semrawut.

Di bidang ekonomi, konsep smart economy diarahkan untuk mendorong pertumbuhan usaha berbasis inovasi dan teknologi. Pemerintah kota berupaya membuka peluang bagi pelaku usaha kecil dan menengah agar bisa ikut memanfaatkan perkembangan ekonomi digital.

Sementara itu, penguatan masyarakat juga menjadi bagian penting dari konsep smart city. Berbagai program literasi digital, pelatihan teknologi, hingga penguatan komunitas kreatif dilakukan untuk membangun masyarakat yang mampu memanfaatkan teknologi secara produktif.

Memasuki masa kepemimpinan Wali Kota Tri Adhianto, arah pengembangan smart city di Bekasi mulai bergerak ke tahap berikutnya. Jika pada periode sebelumnya fokus berada pada pembangunan fondasi sistem, kini perhatian lebih diarahkan pada integrasi layanan yang sudah ada.

Digitalisasi pelayanan diperluas ke berbagai sektor, mulai dari administrasi kependudukan, kesehatan, hingga perizinan. Command Center tetap dimanfaatkan sebagai pusat pemantauan aktivitas kota sekaligus sumber data bagi pengambilan kebijakan.

Pemerintah kota juga memperkuat konsep pelayanan terpadu melalui kehadiran Mall Pelayanan Publik yang menghadirkan berbagai layanan dalam satu lokasi. Tujuannya sederhana, mempermudah masyarakat mengurus berbagai kebutuhan administratif tanpa harus berpindah-pindah tempat.

Di sisi lain, pembangunan kota juga mulai melibatkan partisipasi warga melalui berbagai program berbasis lingkungan. Pendekatan ini mencoba menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai pengguna layanan, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembangunan kota.

Perjalanan menuju kota cerdas tentu tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Namun langkah yang dilakukan Bekasi menunjukkan satu hal penting. Di tengah tantangan kota metropolitan yang terus berkembang, teknologi mulai diposisikan sebagai alat untuk memperbaiki cara kota ini dikelola, sekaligus untuk membuat kehidupan warganya menjadi lebih baik.

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar