Ayat Ini Bukan Larangan, Tapi Bekal

2026-01-11 21:41:52 | Diperbaharui: 2026-01-11 21:41:52
Ayat Ini Bukan Larangan, Tapi Bekal
KBIHU An Namiroh

QS. Al-Baqarah [2]:197 sering terdengar seperti daftar larangan:
jangan rafats, jangan fusuq, jangan jidal.

Namun jika dibaca secara utuh, ayat ini justru tidak berhenti pada larangan. Ia ditutup dengan kalimat yang sangat personal dan penuh empati:

“Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Ini penting. Karena Allah tidak sedang menuntut kesempurnaan teknis ibadah, tetapi sedang membekali manusia yang akan memasuki situasi berat dan melelahkan.


Bekal untuk Situasi yang Tidak Ideal

Data penyelenggaraan haji menunjukkan bahwa mayoritas jamaah akan menghadapi kondisi yang jauh dari ideal: kelelahan, antrean panjang, perubahan jadwal, cuaca ekstrem, dan kepadatan manusia. Dalam kondisi seperti ini, larangan tanpa bekal hanya akan melahirkan rasa bersalah.

Karena itu, ayat ini hadir bukan sebagai tekanan moral, tetapi sebagai pedoman bertahan.

Rafats, fusuq, dan jidal bukan sekadar perbuatan terlarang; ketiganya adalah reaksi manusiawi yang mudah muncul saat seseorang:

  • lelah,

  • tertekan,

  • dan berada di luar kendali rutinitasnya.

Allah mengetahui itu. Maka sebelum larangan, Allah memberi bekal: takwa.


Takwa sebagai Kesiapan Batin

Takwa sering dipahami sebagai ketaatan formal. Dalam konteks ayat ini, takwa lebih dekat dengan kesiapan batin: kesadaran bahwa Allah hadir bahkan ketika ibadah terasa berat.

Takwa adalah kemampuan berhenti sejenak sebelum lisan melukai.
Takwa adalah kesediaan mengalah ketika ego ingin menang.
Takwa adalah ketenangan untuk berkata, “Allah tahu keterbatasanku.”

Inilah bekal yang paling relevan dengan haji modern, ketika tantangan terbesar bukan lagi kurangnya pengetahuan manasik, tetapi overload fisik dan emosional.


Data Menguatkan Makna Bekal

Pendekatan kesehatan haji menunjukkan bahwa stres dan emosi negatif berperan besar dalam memburuknya kondisi fisik jamaah, khususnya pada lansia dan penderita penyakit kronis. Artinya, menjaga ketenangan batin bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga berdampak langsung pada keselamatan dan kesehatan.

Dengan kata lain, takwa dalam ayat ini adalah bekal yang melindungi ibadah sekaligus menjaga tubuh.


Bekal Itu Dilatih, Bukan Ditunggu

Bekal tidak muncul tiba-tiba di Arafah. Ia dilatih jauh sebelum itu.

Di sinilah manasik dan jurnaling menemukan perannya.
Ketika jamaah diajak merefleksikan ayat ini sejak awal, mereka belajar bahwa:

  • kelelahan tidak selalu harus dilawan,

  • ketidaksempurnaan tidak selalu harus disesali,

  • dan konflik tidak selalu harus dimenangkan.

Mereka belajar membawa bekal batin, bukan hanya koper.

Narasumber: Ustadz H. Sriyono

Rekomendasi Praktis: Menjadikan Ayat Ini Bekal Nyata

Untuk Calon Jamaah:

  1. Jadikan QS. 2:197 sebagai ayat pribadi selama manasik dan haji.

  2. Setiap selesai latihan fisik atau manasik, tanyakan satu hal:
    “Bagian mana dari diriku yang perlu dijaga hari ini?”

  3. Latih satu respons sederhana saat lelah: diam sejenak, tarik napas, husnuzan.

Untuk Pembimbing Manasik (KBIHU):

  1. Sampaikan ayat ini sebagai ayat penenang, bukan ayat penekan.

  2. Gunakan bahasa “bekal” alih-alih “larangan”.

  3. Integrasikan refleksi ayat ini dalam sesi manasik fisik, bukan hanya ceramah.


Penutup: Bekal yang Tidak Pernah Habis

Logistik bisa habis.
Tenaga bisa menurun.
Jadwal bisa berubah.

Tetapi bekal takwa—jika dilatih sejak manasik—justru semakin kuat ketika kondisi semakin berat.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar