Ketika Bencana Datang, Siapa yang Mengingat Mereka?

2025-12-02 20:06:31 | Diperbaharui: 2025-12-03 09:38:10
Ketika Bencana Datang, Siapa yang Mengingat Mereka?

Setiap tanggal 1 Desember, dunia memperingati Hari AIDS Sedunia. Di banyak tempat, perayaan ini hadir dalam bentuk seminar ilmiah, kampanye kesadaran, edukasi publik, dan ungkapan solidaritas bagi mereka yang hidup dengan HIV.

Namun di beberapa sudut Indonesia—terutama di daerah yang rawan bencana seperti Sumatera—peringatan ini hadir dengan pertanyaan yang jauh lebih sunyi, namun mendesak:

“Jika bencana terjadi, bagaimana nasib Orang dengan HIV (ODHIV) yang membutuhkan ARV setiap hari?”

Pertanyaan ini jarang muncul dalam diskusi publik, tetapi sangat nyata dalam kehidupan mereka yang diam-diam berjuang untuk tetap sehat, sembari menavigasi stigma sosial, akses layanan, dan ketidakpastian sistem.


ODHIV dan Bencana: Dua Krisis yang Saling Bertabrakan

Di Sumatera, sejarah bencana bukan sekadar catatan, tetapi pengalaman kolektif:

  • Gempa bumi di Aceh

  • Tsunami Mentawai

  • Banjir bandang di Sumatera Barat

  • Longsor dan erupsi di wilayah lain

Ketika bencana datang, prioritas bantuan biasanya jelas: pangan, air, tenda, selimut, evakuasi, dan penanganan trauma fisik.

Tetapi bagi ODHIV, ada satu kebutuhan yang seharusnya tidak pernah terputus:

Terapi Antiretroviral (ARV).

Terapi ini bukan sekadar obat pendamping—namun penopang hidup.
Terputus 3–4 hari saja, risiko meningkat: viral load bisa naik, kekebalan tubuh melemah, dan potensi resistensi obat dapat muncul.

Dalam situasi normal, ARV tersedia melalui layanan kesehatan yang terstruktur.

Namun dalam bencana?
Fasilitas kesehatan bisa rusak, distribusi obat terhenti, tenaga medis berpindah fokus, dan pasien mungkin takut mengungkap kondisi mereka karena stigma.


Stigma: Bencana yang Tidak Terlihat

Peringatan Hari AIDS Sedunia selalu membawa tema besar tentang penghentian stigma. Tahun ini pun demikian. Namun realitanya:

Banyak ODHIV lebih takut mengaku “sakit” daripada menghadapi hilangnya akses obat.

Mengapa?

Karena mereka masih harus menghadapi:

  • Bisikan di belakang mereka,

  • Penolakan di pelayanan publik,

  • Kesalahpahaman bahwa HIV menular melalui sentuhan, pelukan, atau berbagi makanan,

  • Label moral yang tidak pernah mereka minta.

Dalam situasi darurat, ruang privasi menghilang. Pengungsian bukan hanya tenda darurat—tapi juga ruang sosial di mana identitas bisa menjadi stigma baru.


Mereka Tidak Minta Diistimewakan — Hanya Diingat

Pada momentum Hari AIDS Sedunia ini, kita tidak sedang bicara tentang “angka” atau “statistik”. Kita sedang bicara tentang manusia yang tetap ingin menjalani hidup normal, bekerja, berkeluarga, bertahan, dan bermakna—seperti orang lain.

Mereka bukan beban bencana.
Mereka bukan risiko masyarakat.
Mereka bukan orang yang harus disembunyikan dalam sistem.

Mereka warga negara dengan hak kesehatan yang sama.

Dan dalam konteks kebencanaan, hak itu bukan boleh ditunda—tetapi harus diintegrasikan dalam perencanaan sejak awal.


Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Ada tiga langkah sederhana yang bisa menjadi arah perubahan:

1. Integrasi ODHIV dalam sistem kesiapsiagaan bencana.

Termasuk logistik ARV, mekanisme rujukan, dan pendampingan komunitas.

2. Edukasi publik untuk mematahkan stigma.

Karena stigma memperburuk keadaan lebih cepat daripada bencana itu sendiri.

3. Kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan komunitas ODHIV.

Tidak ada kebijakan efektif tanpa suara penyintas.


Hari AIDS Sedunia Bukan Sekadar Peringatan — tetapi Pengingat

Pengingat bahwa masih ada saudara kita yang hidup dengan perjuangan yang tidak selalu terlihat.

Pengingat bahwa kemanusiaan tidak boleh bersyarat.

Dan pengingat bahwa ketika bencana datang dan semua orang menoleh pada kerusakan fisik, ada kelompok yang diam-diam berharap:

“Semoga ada yang ingat bahwa hidupku bergantung pada obat yang harus diminum setiap hari.”

Hari ini, di Hari AIDS Sedunia—semoga kita mulai mengingat mereka.

Bukan nanti saat krisis terjadi.
Bukan setelah kehilangan.
Tetapi sekarang.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar