Hidup sekarang itu unik. Di satu sisi, realita hidup makin ribet. Di sisi lain, ilmu pengetahuan berkembang makin cepat.
Hari ini satu teori dianggap benar, besok muncul riset baru yang bilang, “Eh, ternyata nggak sesederhana itu.”
Akhirnya banyak orang bingung:
Harus ikut ilmu terbaru, atau percaya pengalaman hidup saja?
Jawabannya sebenarnya nggak perlu ekstrem ke salah satu.
Ilmu Itu Peta, Bukan Jalan
Ilmu pengetahuan, seilmiah apa pun, sejatinya hanyalah peta.
Ia membantu kita membaca medan, tapi yang benar-benar berjalan tetap manusia.
Masalahnya, hidup jarang lurus seperti peta.
Ada emosi, ada budaya, ada keterbatasan, ada nilai, ada lelah yang nggak masuk jurnal penelitian.
Kalau peta dipaksa jadi jalan, orang bisa tersesat.
Realita Itu Nyata, Tapi Tidak Selalu Benar
Sebaliknya, realita juga punya jebakan.
“Hidup ya begini dari dulu.”
“Zaman saya dulu juga keras.”
“Anak sekarang lebay.”
Pengalaman itu penting, tapi pengalaman bukan selalu kebenaran universal.
Tanpa ilmu, kita mudah mengulang pola lama yang ternyata melukai.
Masalahnya Bukan Ilmu vs Realita, Tapi Cara Kita Memposisikan Diri
Yang bikin ribut bukan karena ilmunya salah atau realitanya salah, tapi karena:
-
ilmu dipakai untuk menghakimi
-
realita dipakai untuk menolak belajar
Padahal, posisi yang sehat itu di tengah:
-
ilmu jadi alat memahami
-
realita jadi ruang menguji
Contoh Paling Dekat: Parenting dan Pendidikan
Ilmu bilang:
Anak perlu didengar, bukan dimarahi.
Realita bilang:
Orang tua capek, kerja seharian, emosi juga manusiawi.
Kalau kita memaksakan ilmu tanpa empati, orang tua merasa gagal.
Kalau kita pakai realita tanpa belajar, anak yang jadi korban.
Solusinya bukan saling menyalahkan, tapi saling menyesuaikan.
Ilmu Berubah, Nilai Jangan Ikut Goyah
Ilmu itu dinamis. Hari ini A, besok B.
Tapi manusia butuh pegangan yang lebih stabil: nilai.
Nilai tentang:
-
kemanusiaan
-
empati
-
keadilan
-
tanggung jawab
Ilmu menjawab bagaimana.
Nilai menjawab untuk apa.
Jadi, Kita Harus Berdiri di Mana?
Mungkin di posisi ini:
Terbuka pada ilmu, tapi tidak kehilangan nurani.
Menghargai realita, tapi tidak berhenti belajar.
Nggak harus sok paling ilmiah.
Nggak juga anti pengetahuan baru.
Cukup jadi manusia yang mau berpikir, mau mendengar, dan mau menyesuaikan.
Penutup
Dunia akan terus berubah. Ilmu akan terus berkembang.
Yang perlu kita jaga bukan kepastian mutlak, tapi keseimbangan sikap.
Karena hidup bukan soal siapa yang paling update jurnal,
tapi siapa yang paling bisa menggunakan ilmu untuk hidup yang lebih manusiawi.