Penerbit Mizan Bandung Dukung Gerakan Literasi AI, Salurkan Donasi Buku Untuk Pelajar

2026-10-08 13:53:05 | Diperbaharui: 2026-10-08 13:53:05
Penerbit Mizan Bandung Dukung Gerakan Literasi AI, Salurkan Donasi Buku Untuk Pelajar
dokumentasi pribadi

 

 

 

Di tengah kebiasaan anak-anak dan remaja yang semakin dekat dengan layar, menjaga agar buku tetap memiliki tempat dalam keseharian pelajar bukanlah pekerjaan yang sederhana. Membaca membutuhkan ruang, kebiasaan, dan lingkungan yang terus menghidupkannya.

Hal inilah yang terus diupayakan oleh Gerakan Literasi AI (GLA) melalui berbagai kegiatan literasi yang menyasar pelajar. Komunitas yang mengusung semangat Where Literacy Meets AI ini tidak hanya mengajak anak-anak mengenal teknologi dan memanfaatkan kecerdasan artifisial secara bijak, tetapi juga mendorong mereka untuk tetap membaca, berpikir kritis, menulis, dan menghasilkan karya.

Upaya tersebut mendapat dukungan langsung dari Penerbit Mizan melalui support buku untuk kegiatan kunjungan sekolah yang diadakan komunitas Gerakan Literasi AI. Dukungan ini menjadi sesuatu yang berarti bagi komunitas. Sebab, buku bukan sekadar hadiah atau bahan bacaan. Bagi kegiatan literasi yang langsung menyentuh pelajar, buku dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kembali rasa ingin tahu dan kebiasaan membaca.

Sebagai komunitas yang secara rutin melakukan kunjungan ke sekolah, Gerakan Literasi AI berusaha menghadirkan kegiatan yang membuat literasi terasa dekat dengan kehidupan pelajar. Dalam setiap kunjungan, anak-anak tidak hanya diajak berbicara tentang pentingnya membaca, tetapi juga didorong untuk menemukan ide, mengekspresikan pemikiran, berdiskusi, menulis, dan berani menghasilkan karya.

Kehadiran buku menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Buku-buku yang didukung oleh Mizan dapat dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan komunitas, termasuk sebagai bahan bacaan, referensi, maupun bentuk apresiasi bagi pelajar yang aktif mengikuti kegiatan literasi.

Bagi Gerakan Literasi AI, dukungan seperti ini menunjukkan bahwa menghidupkan budaya literasi tidak harus dilakukan sendirian. Ada banyak pihak yang dapat mengambil bagian sesuai dengan kapasitasnya. Penerbit dapat mendukung melalui buku. Sekolah menyediakan ruang. Komunitas menghadirkan program. Sementara para pelajar menjadi generasi yang diharapkan membawa kebiasaan membaca itu ke dalam kehidupan mereka.

Founder Gerakan Literasi AI, Ririe Aiko, melihat dukungan tersebut sebagai energi tambahan untuk terus menjalankan kegiatan komunitas yang selama ini dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Kegiatan kunjungan ke sekolah menjadi salah satu agenda yang terus dikembangkan. Komunitas hadir langsung menemui pelajar untuk membangun percakapan tentang literasi dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka. Tidak sekadar mengatakan bahwa membaca itu penting, tetapi berusaha menunjukkan bahwa dari sebuah buku, seorang anak bisa menemukan pengetahuan, gagasan, bahkan keberanian untuk menciptakan sesuatu.

Gerakan Literasi AI percaya bahwa perubahan budaya membaca tidak lahir dari satu kegiatan besar. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali: membuka buku, membaca beberapa halaman, berdiskusi tentang apa yang dibaca, menuliskan gagasan, lalu kembali membaca. Mungkin hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Tetapi setiap buku yang sampai ke tangan seorang pelajar berpotensi membuka satu jendela baru dalam pikirannya.

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar