BENARKAH MENULIS SEBAGAI PENGABDIAN ATAU SEKADAR RUTINITAS?

2026-10-07 17:22:36 | Diperbaharui: 2026-10-07 17:35:41
BENARKAH MENULIS SEBAGAI PENGABDIAN ATAU SEKADAR RUTINITAS?

 

Ilustrasi Benarkah Menulis sebagai Pengabdian. Dibuat oleh penulis dengan bantuan DALL·E/ChatGPT, 7 Oktober 2026.

Oleh: A. Rusdiana

PBB ke-234 | Didukung 2.688 Anggota

Ilustrasi Benarkah Menulis sebagai Pengabdian. Dibuat oleh penulis dengan bantuan DALL·E/ChatGPT, 7 Oktober 2026.

Dua hari terakhir memberi saya pengalaman yang menarik. Satu peristiwa kemenangan Tim Garuda pada FIFA ASEAN Cup 2026, saya refleksikan menjadi tulisan untuk delapan ruang media: elitkita, Berita Disdik, Jabar Ekspres, Koran Priangan, Kompasiana melalui Pantun dan PBB, MO Beda News, hingga MO Kemenag RI. Temanya sama, tetapi sudut pandang, sasaran pembaca, argumentasi, dan pesan yang dibangun tidak harus sama. Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan: benarkah menulis seperti itu merupakan pengabdian, atau hanya rutinitas yang dilakukan berulang-ulang?

Secara teoretis, pertanyaan tersebut dapat dibaca melalui konsep habit formation. Dalam psikologi perilaku, kebiasaan berkembang ketika suatu tindakan dilakukan berulang dan konsisten dalam konteks tertentu sehingga semakin mudah dilakukan. Namun, dalam pendidikan, pembiasaan tidak cukup dimaknai sebagai pengulangan mekanis. Pembiasaan idealnya bergerak dari tindakan yang diulang menuju disiplin diri, kemudian berkembang menjadi karakter dan kebermanfaatan. Dengan demikian, rutinitas dan pembiasaan tidak sepenuhnya sama: rutinitas menekankan keberulangan aktivitas, sedangkan pembiasaan pendidikan mengarah pada internalisasi nilai.

Perspektif tersebut memperoleh kedalaman dalam Islam melalui konsep istiqamah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah...” (QS. Fussilat [41]: 30). Rasulullah SAW juga mengajarkan prinsip keberlanjutan amal: أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ  “Yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesannya penting: kualitas amal tidak selalu ditentukan oleh besarnya tindakan sesaat, tetapi juga oleh kemampuan menjaganya secara berkelanjutan. Imam al-Ghazali dalam pembahasan pendidikan akhlak juga menempatkan latihan (riyadhah) dan pembiasaan (mu‘awadah) sebagai jalan pembentukan karakter. Kebaikan tidak cukup diketahui; ia perlu dilatih hingga semakin melekat dalam diri.

Di sinilah terdapat GAP. Kita relatif mudah berbicara tentang disiplin, konsistensi, istiqamah, dan pembiasaan, tetapi jauh lebih sulit mempraktikkannya dalam tindakan kecil: datang tepat waktu, mengantre mengisi daftar kehadiran, merespons instruksi, membaca petunjuk sebelum bertanya, memahami templat penulisan, hingga menyelesaikan tugas secara konsisten. Hal serupa berlaku dalam menulis. Banyaknya publikasi belum otomatis menjadikan kegiatan menulis sebagai pengabdian apabila yang terjadi hanya pengulangan tanpa refleksi dan kebermanfaatan.

Tulisan ini karena itu merefleksikan bagaimana rutinitas dapat ditransformasikan menjadi pembiasaan, pembiasaan menjadi konsistensi, dan konsistensi akhirnya menemukan maknanya sebagai pengabdian. Jika teori menyebutnya pembentukan kebiasaan, pendidikan menyebutnya pembiasaan, dan Islam memberinya kedalaman melalui istiqamah, dari manakah semuanya dimulai? Jawabannya justru dari perkara-perkara kecil. Untuk lebih jelasnya, mari kita elaborasi satu-persatu:

Pertama: Pembiasaan Dimulai dari Hal Kecil; Di kelas, persoalan pembiasaan sering muncul bukan pada perkara besar. Datang tepat waktu, mengantre mengisi daftar kehadiran, segera merespons instruksi, membaca petunjuk sebelum bertanya, atau mengikuti format tugas tampak sederhana. Namun, justru hal-hal kecil itulah yang tidak selalu mudah dijaga. Di sinilah pembiasaan memperoleh maknanya. Ia bukan sekadar melakukan sesuatu berkali-kali, tetapi melatih diri melakukan sesuatu yang benar secara konsisten hingga perlahan menjadi bagian dari karakter. Bukankah istiqamah juga dimulai dari tindakan kecil yang terus dipelihara?

Kedua: Konsisten Bukan Berarti Mengulang Hal yang Sama; Menulis satu peristiwa untuk delapan ruang media memberi saya pelajaran lain. Konsistensi bukan berarti menyalin tulisan yang sama ke berbagai tempat. Pembaca media pendidikan berbeda dengan pembaca koran daerah, Kompasiana, atau MO Kemenag RI. Satu fenomena karena itu dapat dibaca melalui perspektif pendidikan, mentalitas, budaya, agama, moderasi, maupun ekoteologi. Artinya, pembiasaan yang sehat tetap membutuhkan kreativitas. Yang konsisten adalah proses berpikir dan kedisiplinannya, bukan keseragaman produknya. Dalam belajar pun demikian. Konsistensi seharusnya tidak mematikan kreativitas, tetapi menyediakan fondasi agar kreativitas berkembang secara terarah.

Ketiga: Templat Mengajarkan Disiplin Berpikir; Pengalaman di kelas menunjukkan bahwa memahami CK-Poster, templat esai media, templat riset mini, dan petunjuk tugas lainnya tidak selalu mudah. Ada yang ingin segera menulis tanpa membaca struktur; ada pula yang telah membaca, tetapi belum sepenuhnya mengikuti instruksi.

Padahal, templat bukan sekadar urusan teknis. Di dalamnya terdapat latihan bernalar: menemukan fenomena, mengidentifikasi asumsi dan GAP, menetapkan tujuan, membangun argumentasi, kemudian merumuskan Natizah. Templat dapat berfungsi sebagai scaffolding—penyangga sementara dalam proses belajar. Disiplin format bukan tujuan akhir; ia merupakan latihan menuju disiplin berpikir.

Keempat: Menulis Menjadi Pengabdian Ketika Memberi Manfaat; Di sinilah saya menemukan jawaban atas pertanyaan pada judul tulisan ini. Menulis belum tentu menjadi pengabdian hanya karena dilakukan setiap hari atau dimuat di banyak media. Produktivitas berkaitan dengan seberapa banyak yang dihasilkan. Pengabdian berbicara tentang untuk siapa pengetahuan itu dihadirkan dan manfaat apa yang ditinggalkannya. Dari tulisan memperoleh nilai pengabdian ketika pengetahuan dari ruang kuliah, buku, penelitian, dan pengalaman dapat dibagikan sehingga mendorong pembaca berpikir, belajar, atau melakukan kebaikan. Rutinitas menjaga tangan terus menulis; refleksi menjaga pikiran tetap hidup; sedangkan kebermanfaatan menjaga tulisan mempunyai alasan untuk hadir.

Singkatnya tulisan ini, mengajarkan pembiasaan ternyata lebih mudah daripada menjalaninya. Datang tepat waktu, merespons instruksi, tertib dalam antrean kehadiran, memahami templat, hingga menyelesaikan tugas memperlihatkan bahwa karakter dibangun melalui perkara kecil yang dilakukan terus-menerus.

Pengalaman menulis satu tema untuk berbagai media memberi pelajaran yang sama: konsistensi bukan sekadar mengulang, tetapi kesediaan terus belajar, menyesuaikan, memperbaiki, dan memberi manfaat. Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Benarkah menulis sebagai pengabdian?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Sudahkah tulisan yang kita biasakan hadir benar-benar membawa manfaat?” Sebab, pembiasaan membentuk penulis, istiqamah menjaga perjalanan, dan kebermanfaatanlah yang mengubah tulisan menjadi pengabdian. Wallahu A’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar