BANGKIT BERSAMA MENULIS, MELANGKAH SERENTAK MEMBANGUN UMAT

2026-04-17 23:50:12 | Diperbaharui: 2026-04-18 00:02:42
BANGKIT BERSAMA MENULIS, MELANGKAH SERENTAK MEMBANGUN UMAT

 

Ilustrasi Collaborative learning and writing session. Sumber: Dibuat dengan bantuan AI (DALL·E / ChatGPT), 17/04/2026)

Ilustrasi Collaborative learning and writing session. Sumber: Dibuat dengan bantuan AI (DALL·E / ChatGPT), 17/04/2026)

 

BANGKIT BERSAMA MENULIS, MELANGKAH SERENTAK MEMBANGUN UMAT

(Esai Opini untuk PBB ke-158 / 28 Syawal 1447 H – 17 April 2026 M)

Oleh: A. Rusdiana

Fenomena meningkatnya partisipasi dalam PBB ke-158 yang mencapai 2.451 peserta menunjukkan kebangkitan luar biasa dalam gerakan literasi umat. Momentum ini bukan sekadar aktivitas menulis, tetapi menjadi ajakan kolektif untuk menjadikan tulisan sebagai sarana perubahan. Menulis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan peradaban. Dalam konteks ini, tema “Bangkit Bersama Menulis, Melangkah Serentak Membangun Umat” menjadi sangat relevan sebagai pijakan gerakan intelektual yang berlandaskan nilai etis, kejujuran, dan tanggung jawab. Oleh karena itu, implementasi etis dalam menulis menjadi fondasi utama dalam menjaga kualitas dan makna setiap karya.

Pertama: Bangkit Bersama dalam Gerakan Menulis 

“Bangkit bersama menulis” mencerminkan semangat kolektif dalam membangun budaya literasi yang hidup dan berdaya. PBB ke-158 menghadirkan ruang bagi ribuan peserta untuk mengekspresikan gagasan, refleksi, dan solusi melalui tulisan. Kebangkitan ini menunjukkan bahwa menulis dapat menjadi kekuatan transformasi sosial. Namun, kebangkitan tersebut harus disertai dengan kesadaran etis, seperti menjaga orisinalitas dan menghindari plagiarisme. Menulis yang jujur adalah cerminan integritas diri. Tanpa kejujuran, tulisan kehilangan nilai dan kepercayaan. Oleh karena itu, setiap penulis harus menjadikan etika sebagai landasan utama dalam berkarya.

Kedua: Melangkah Serentak dalam Sinergi Literasi; 

“Melangkah serentak” mengandung makna keselarasan tujuan dalam gerakan menulis. Dalam PBB, seluruh peserta bergerak dalam satu arah, yaitu meningkatkan kualitas diri melalui tulisan yang bermakna. Keserentakan ini memperkuat sinergi literasi yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkualitas. Dalam proses ini, akurasi data dan transparansi sumber menjadi bagian penting dari implementasi etis. Penulis tidak hanya dituntut kreatif, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kebenaran informasi. Dengan demikian, gerakan menulis tidak hanya meluas secara jumlah, tetapi juga mendalam secara kualitas.

Ketiga: Menulis sebagai Sarana Membangun Umat; 

Menulis adalah bentuk kontribusi nyata dalam membangun umat. Gagasan yang dituangkan dalam tulisan mampu mengedukasi, menginspirasi, dan menggerakkan perubahan sosial. Dalam konteks ini, penulis memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan, menghormati sumber, serta menghindari konten yang bersifat provokatif atau diskriminatif. Tulisan yang etis akan melahirkan dampak yang positif dan berkelanjutan. Dengan demikian, menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga bentuk pengabdian kepada masyarakat dan peradaban.

Keempat: Etika Menulis di Era Digital dan AI; 

Di era digital, menulis semakin mudah dengan bantuan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI). Namun, kemudahan ini harus diimbangi dengan kesadaran etis. Penulis harus transparan dalam penggunaan AI serta tetap melakukan verifikasi terhadap informasi yang diperoleh. AI hanya alat bantu, bukan pengganti pemikiran kritis. Dalam PBB, hal ini menjadi penting agar setiap karya tetap mencerminkan kemampuan asli penulis. Dengan penggunaan yang bijak, teknologi dapat memperkuat kualitas tulisan tanpa mengurangi integritas keilmuan.

Natijahnya, PBB ke-158 menjadi momentum penting dalam membangun gerakan menulis yang berlandaskan etika dan tanggung jawab. Dengan semangat “Bangkit Bersama Menulis, Melangkah Serentak Membangun Umat,” setiap peserta diharapkan mampu menghadirkan karya yang tidak hanya inspiratif, tetapi juga berintegritas. Menulis adalah jalan perubahan, dan etika adalah penuntunnya. Ketika keduanya berjalan beriringan, maka lahirlah peradaban yang tidak hanya maju, tetapi juga bermartabat. Wallahu A'lam


Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar