MENULIS DI HARKITNAS 20 MEI: Menjaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara, Bukan Sekadar Ilusi Ilmu
Oleh: A. Rusdiana
Burung merpati hinggap di dahan,
Terbang perlahan menuju taman.
Harkitnas hadir menyalakan harapan,
Menjaga tunas bangsa demi masa depan.
Seiring perjalanan PBB hingga episode ke-186 yang kini diikuti sekitar 2.584 anggota pengikut, ruang literasi digital terus menghadirkan dinamika yang memerlukan perenungan bersama. Di satu sisi, media sosial membuka ruang luas bagi siapa saja untuk menulis dan menyebarkan pesan keagamaan. Namun demikian, masih terdapat GAP ketika ilmu lebih banyak berhenti pada simbol, pembahasan, dan pencitraan verbal, tetapi belum sepenuhnya menjelma menjadi amal, akhlak, dan pengabdian nyata.
Respon reflektif Abah (A-BR), “Mudah-mudahan Al-Qur’an dibaca, difahami, diamalkan, jangan ilusi ilmu…”, menjadi pengingat lembut bahwa literasi spiritual harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual. Apalagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung memiliki misi besar “Wahyu Memandu Ilmu” yang menegaskan bahwa ilmu pengetahuan seharusnya dibimbing oleh nilai-nilai wahyu dan akhlak kehidupan. Pertanyaannya, ketika ilmu hanya berhenti pada pembahasan, simbol, dan tampilan verbal tanpa menghadirkan perubahan perilaku dan kepedulian sosial, apakah itu bukan bagian dari “ilusi ilmu”? Karena itu, tulisan ini bertujuan merefleksikan pentingnya menjaga kesatuan ilmu, amal, akhlak, dan semangat kebangsaan dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026.
Tujuan Penulisan ini. Bermaksud merefleksikan pentingnya menjaga persatuan ilmu, amal, akhlak, nasionalisme, dan literasi bermakna demi menjaga tunas bangsa menuju Indonesia yang kuat dan bermartabat. Untuk lebih jelasnya, mari kita elaborasi satu-satu:
Pertama: Harkitnas dan Semangat Menjaga Tunas Bangsa; Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tahun 2026 mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara.” Tema tersebut menghadirkan pesan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya. Kebangkitan bangsa tidak hanya dibangun melalui kekuatan ekonomi dan teknologi, tetapi juga melalui pendidikan akhlak, nasionalisme, dan kepedulian sosial. Karena itu, Harkitnas menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa generasi muda harus dijaga melalui pendidikan bermutu, keteladanan hidup, serta penguatan nilai persatuan dan gotong royong.
Kedua: Ilmu Harus Menjadi Amal Nyata; Ilmu yang hidup tidak berhenti pada kutipan, tulisan, dan pembahasan verbal, tetapi bergerak menjadi amal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an bukan sekadar bahan kajian atau simbol kesalehan digital, melainkan petunjuk hidup yang menuntun manusia kepada akhlak mulia. Ketika seseorang menulis tentang kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan, maka nilai-nilai tersebut harus diupayakan hadir dalam perilaku sosialnya. Tanpa amal, ilmu dapat berubah menjadi beban moral; dengan amal, ilmu menjadi cahaya kehidupan. Karena itu, menulis sejatinya bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi bagian dari tanggung jawab moral dan pengabdian sosial.
Ketiga: Wahyu Memandu Ilmu dan Tantangan Literasi Spiritual; Misi UIN Sunan Gunung Djati Bandung “Wahyu Memandu Ilmu” menghadirkan pesan bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan selaras dengan nilai spiritual dan akhlak kehidupan. Namun di tengah derasnya media sosial, manusia sering terjebak pada budaya tampilan, validasi digital, dan kesalehan simbolik. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa literasi spiritual memerlukan kedalaman penghayatan, bukan sekadar ramai dalam pembahasan.
Fenomena “ilusi ilmu” dapat muncul ketika manusia merasa cukup dengan banyaknya kutipan, diskusi, dan tampilan religius di ruang digital, tetapi belum menghadirkan perubahan akhlak dan kepedulian sosial dalam kehidupan nyata. Ilmu akhirnya hanya menjadi simbol intelektual dan sarana memperoleh pengakuan sosial. Padahal, misi “Wahyu Memandu Ilmu” menegaskan bahwa ilmu seharusnya membimbing manusia menuju kerendahan hati, kejujuran, pengabdian, dan kemaslahatan bersama. Karena itu, menjaga tunas bangsa tidak cukup melalui kecerdasan akademik semata, tetapi juga melalui keteladanan moral agar generasi muda tidak terjebak pada budaya “tampak berilmu”, namun miskin pengamalan nilai kehidupan.
Karena itu, pendidikan hari ini perlu memperkuat integrasi ilmu, wahyu, amal, dan keteladanan agar generasi muda tidak kehilangan arah moral di tengah perubahan zaman.
Keempat: Menyalakan Semangat Kolektif Kebangkitan Bangsa; Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi panggilan moral bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali menyalakan semangat “Boedi Oetomo” dalam kehidupan modern. Semangat kolektif tersebut penting diwujudkan melalui solidaritas sosial, literasi digital yang sehat, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus menjadi penjaga persatuan, budaya, dan martabat Indonesia. Karena itu, menjaga tunas bangsa berarti menjaga kualitas pendidikan, memperkuat akhlak sosial, dan membangun optimisme bersama demi Indonesia yang kuat, mandiri, dan berdaya saing.
Pada akhirnya, Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi momentum membangun kesadaran moral dan kebangsaan di tengah kehidupan modern. Tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” mengingatkan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya. Karena itu, ilmu harus melahirkan amal, literasi harus melahirkan akhlak, dan pendidikan harus menghadirkan keteladanan hidup. Dengan semangat “Wahyu Memandu Ilmu”, diharapkan lahir generasi Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, sosial, dan kebangsaan demi menjaga martabat negeri di masa depan. Wallahu A’lam.
*) Profil Penulis Berpangkat Penjelajah di Kompasiana ini sejak 22 Januari 2025: