MENULIS HANYA UNTUK VIRAL, ATU MENJADI SEDEKAH PERADABAN?

2026-05-23 03:02:38 | Diperbaharui: 2026-05-23 03:02:48
MENULIS  HANYA UNTUK VIRAL, ATU MENJADI SEDEKAH PERADABAN?

 

Oleh: A. Rusdiana

Seiring perjalanan PBB hingga episode ke-188 yang kini diikuti sekitar 2.592 anggota pengikut, ruang literasi digital terus menghadirkan dinamika yang memerlukan perenungan bersama. Hari ini, banyak tulisan lahir cepat, ramai dibagikan, lalu hilang tanpa jejak makna. Viral sering dianggap lebih penting daripada nilai, sensasi lebih dicari daripada substansi, bahkan tidak sedikit tulisan yang sekadar mengejar pengakuan dan pencitraan digital. Padahal, dalam perspektif literasi Islam dan kebangsaan, menulis bukan hanya aktivitas merangkai kata, melainkan jejak moral dan amal intelektual yang dapat memengaruhi cara berpikir, akhlak, serta arah kehidupan masyarakat.

Di sinilah muncul GAP antara semangat literasi yang seharusnya menjadi sarana dakwah, edukasi, dan pengabdian, dengan praktik media sosial yang terkadang hanya melahirkan hiruk-pikuk sesaat. Karena itu, muncul pertanyaan reflektif: apakah menulis hanya berhenti menjadi konsumsi viral sementara, atau mampu menjadi sedekah peradaban yang menghadirkan manfaat jangka panjang bagi umat manusia? Dalam suasana menjelang Dzulhijjah dan refleksi Hari Kebangkitan Nasional 2026, tulisan ini bertujuan meneguhkan kembali bahwa menulis dapat menjadi sedekah ruhani dan amal jariyah yang terus hidup melalui ilmu, akhlak, serta ketulusan pengabdian kepada Allah SWT dan kemaslahatan bangsa.

Pertama: Viralitas Tidak Selalu Melahirkan Kebermanfaatan;  Media sosial sering membentuk budaya serba cepat. Tulisan yang provokatif lebih mudah menarik perhatian dibanding tulisan yang mendidik dan menenangkan. Akibatnya, ukuran keberhasilan menulis terkadang hanya diukur dari banyaknya “like”, komentar, dan popularitas digital. Padahal, tulisan yang benar-benar bernilai bukan sekadar yang ramai dibicarakan, melainkan yang mampu menghadirkan ilmu, memperhalus akhlak, dan menumbuhkan kesadaran moral bagi pembacanya. Tulisan yang lahir dari ketulusan akan bertahan lebih lama dibanding sensasi yang hanya hidup beberapa saat di ruang media sosial.

Kedua: Menulis sebagai Jejak Amal Kebaikan; Menulis yang menghadirkan ilmu, hikmah, dan motivasi kebaikan akan menjadi jejak amal yang terus hidup meskipun penulisnya telah tiada. Tulisan yang mendidik hati dan akal mampu menjadi sedekah ilmu yang manfaatnya terus mengalir kepada pembaca lintas generasi. Karena itu, penulis perlu menjaga niat agar literasi tidak sekadar menjadi ruang mencari pengakuan, tetapi menjadi bagian dari ibadah dan pengabdian kemanusiaan. Dalam konteks inilah, menulis dapat menjadi amal jariyah yang menghadirkan keberkahan dunia dan akhirat.

Ketiga: Dakwah Literasi sebagai Sedekah Ruhani; Ki Musonif kemudian meneguhkan arah pembicaraan melalui percikan dakwah: “Shadaqah dapat memadamkan murka Rabb.” Pesan tersebut mengingatkan bahwa sedekah tidak hanya berbentuk materi, tetapi juga ilmu, nasihat, tulisan, dan kata-kata yang menenangkan hati manusia. Bahkan Hatim al-Asham mengingatkan bahwa pengakuan mencintai surga tanpa semangat bersedekah adalah dusta. Maka, tulisan yang mengajak kepada kebaikan sejatinya merupakan bagian dari sedekah ruhani yang pahalanya terus mengalir sepanjang memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

Keempat: Menulis sebagai Sedekah Peradaban; Menulis dapat menjadi sedekah peradaban ketika menghadirkan cahaya ilmu, memperkuat akhlak, serta membangun kesadaran spiritual masyarakat. Tulisan yang lahir dari ketulusan hati akan menjadi jejak amal jariyah yang hidup melampaui usia penulisnya. Karena itu, literasi spiritual tidak boleh berhenti pada sensasi, popularitas, atau pencitraan digital semata. Menulis harus diarahkan menjadi bagian dari pengabdian untuk membangun peradaban yang damai, bermartabat, berilmu, dan penuh keberkahan. Dalam suasana menjelang Dzulhijjah dan semangat Hari Kebangkitan Nasional 2026, menulis yang disertai niat ibadah dapat menjadi sedekah ruhani yang mendekatkan manusia kepada ridha Allah SWT.

Kelima: Antara Nada Sinis dan Ruang Penyadaran; Ketika Ki Naib merespons, “Aya pantun sedekah sagala... hehehe...”, kalimat itu dapat dimaknai beragam: candaan ringan, nada sinis, atau bahkan sikap pura-pura tidak memahami substansi pembicaraan. Namun, dalam dinamika literasi dan dakwah, respons seperti itu justru menjadi bagian dari ujian sosial bagi seorang penulis. Tidak semua orang langsung menerima gagasan tentang “menulis sebagai sedekah peradaban,” sebab sebagian masih memandang tulisan hanya sebagai hiburan, ruang ekspresi biasa, atau sekadar permainan kata. Karena itu, respons tersebut tidak perlu dibalas dengan emosi, melainkan dengan keteguhan akhlak dan kualitas karya yang terus menghadirkan manfaat.

Dalam sejarah dakwah dan perjuangan intelektual, gagasan besar sering kali lahir di tengah sindiran, keraguan, bahkan ejekan. Justru di situlah pentingnya istiqamah: tetap menulis dengan hati, menjaga niat, dan menghadirkan literasi yang menuntun manusia kepada ilmu, akhlak, serta kesadaran spiritual. Dengan demikian, tulisan tidak berhenti menjadi bahan percakapan sesaat, tetapi tumbuh menjadi sedekah peradaban yang terus hidup melampaui zamannya.

Menulis sejatinya bukan sekadar aktivitas merangkai kata, melainkan jalan pengabdian moral, intelektual, dan spiritual bagi kehidupan manusia. Viralitas mungkin menghadirkan popularitas sesaat, tetapi tulisan yang dilandasi ketulusan akan melahirkan kebermanfaatan yang jauh lebih panjang. Ketika literasi diarahkan menjadi sedekah peradaban, maka tulisan tidak hanya dibaca, tetapi juga menghidupkan ilmu, menumbuhkan akhlak, dan menghadirkan keberkahan bagi umat serta bangsa sepanjang zaman. Bahkan sindiran dan candaan sosial tidak semestinya memadamkan semangat menulis, melainkan menjadi pengingat agar literasi tetap berpijak pada keikhlasan, pengabdian, dan nilai-nilai dakwah yang meneduhkan. Wallahu A'lam.

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar