MENULIS PANTUN SEDEKAH PERADABAN: Melanjutkan Jejak Dakwah Raulullah

2026-05-22 04:41:16 | Diperbaharui: 2026-05-22 05:45:16
MENULIS PANTUN SEDEKAH PERADABAN: Melanjutkan Jejak Dakwah Raulullah
Ilustrasi Menulis Pantun sebagai Sedekah Peradaman:...........: Sumber dibuat dan dimodifikasi oleh penulis dengan berbantuan Teknologi kecerdasan buatan (DALL*E/ChatGPT,  Jum'at, 22 Mei 2026)

MENULIS PANTUN SEBAGAI SEDEKAH PERADABAN: Melanjutkan Jejak Dakwah Rasulullah melalui Ilmu, Amal, dan Akhlak Digital

Oleh: A. Rusdiana

Seiring perjalanan PBB hingga episode ke-187 yang kini diikuti sekitar 2.592 anggota pengikut, ruang literasi digital terus menghadirkan dinamika yang memerlukan perenungan bersama. Di satu sisi, media sosial membuka ruang luas bagi siapa saja untuk menulis dan menyebarkan pesan keagamaan, kebangsaan, dan nilai-nilai moral. Namun demikian, masih terdapat GAP ketika ilmu lebih banyak berhenti pada simbol, pembahasan, dan pencitraan verbal, tetapi belum sepenuhnya menjelma menjadi amal, akhlak, dan pengabdian nyata. Himbauan reflektif Ki-Musonif, di WA komunitas.... “Prof mah jangan banyakan pantun pencerahan ilmu saja,” serta respon Abah (A-BR), “Mudah-mudahan Al-Qur’an dibaca, difahami, diamalkan, jangan ilusi ilmu,” menjadi pengingat bahwa literasi spiritual harus melahirkan kerendahan hati dan pengabdian sosial. Karena itu, tulisan ini bertujuan merefleksikan pentingnya menjaga persatuan ilmu, amal, akhlak, nasionalisme, dan literasi bermakna demi menjaga tunas bangsa menuju Indonesia yang kuat dan bermartabat. 

Begitu pentingnya merefleksikan, menjaga persatuan ilmu, amal, akhlak, nasionalisme, dan literasi bermakna demi menjaga tunas bangsa menuju Indonesia yang kuat dan bermartabat. Untuk lebih jelasnya, mari kita elaborasi satu-satu: 

Pertama: Pantun sebagai Media Dakwah Kultural; Pantun bukan sekadar rangkaian kata indah, tetapi media dakwah yang dekat dengan budaya masyarakat Nusantara. Para ulama terdahulu menggunakan sastra lisan untuk menyampaikan pesan tauhid, akhlak, dan persatuan umat agar lebih mudah diterima masyarakat. Dalam konteks kekinian, pantun dapat menjadi sarana literasi spiritual yang santun, menyejukkan, dan mendidik di tengah kerasnya komunikasi media sosial. Karena itu, pantun harus diarahkan menjadi jembatan dakwah yang memperhalus hati, memperkuat persaudaraan, serta menanamkan cinta kepada ilmu dan akhlak kehidupan.

Kedua: Ilmu Harus Menjadi Amal Kehidupan; Ilmu yang hanya berhenti pada simbol dan pembahasan verbal dapat melahirkan “ilusi ilmu.” UIN Sunan Gunung Djati Bandung melalui spirit “Wahyu Memandu Ilmu” mengingatkan bahwa ilmu harus dibimbing oleh nilai wahyu dan diwujudkan dalam perilaku nyata. Menulis, berdakwah, dan berbicara tentang kebaikan harus melahirkan perubahan sikap, kepedulian sosial, serta keteladanan moral. Literasi yang bermartabat bukan hanya memperlihatkan kecerdasan berpikir, tetapi juga menghadirkan akhlak, empati, dan kebermanfaatan bagi kehidupan masyarakat.

Ketiga: Meneladani Gaya Dakwah Rasulullah SAW; Secara historis, Rasulullah SAW berdakwah menggunakan bahasa Arab yang indah dan penuh hikmah, termasuk melalui gaya sastra seperti saj’ dan syi’ir. Dakwah beliau tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga menyentuh hati manusia dengan kelembutan bahasa dan kekuatan akhlak. (baca kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyah; Sirah Nabawiyah; Ar-Raheeq Al-Makhtum dan lainnya). Tradisi inilah yang kemudian menginspirasi para ulama Nusantara menggunakan pantun sebagai media dakwah kultural. Karena itu, menulis pantun reflektif sejatinya merupakan upaya melanjutkan dakwah yang santun, edukatif, dan membangun kesadaran moral masyarakat menuju kehidupan yang lebih beradab.

Keempat: Menulis sebagai Sedekah Peradaban; Menulis dapat menjadi sedekah yang pahalanya terus mengalir ketika menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia. Tulisan yang mengajak kepada kebaikan, memperkuat akhlak, memperhalus hati, dan menumbuhkan kesadaran spiritual akan menjadi jejak amal jariyah yang terus hidup melampaui usia penulisnya. Karena itu, literasi spiritual tidak boleh berhenti pada sensasi, popularitas, atau pencitraan digital semata. Menulis harus diarahkan menjadi bagian dari pengabdian untuk membangun peradaban yang damai, bermartabat, dan penuh keberkahan. Dalam suasana menjelang Dzulhijjah dan Hari Kebangkitan Nasional 2026, menulis yang disertai ketulusan hati dapat menjadi sedekah ruhani yang menuntun manusia semakin dekat kepada ridha Allah SWT.

Pada akhirnya, menulis pantun bukan hanya aktivitas sastra, melainkan bagian dari dakwah, pendidikan moral, dan sedekah peradaban. Ketika ilmu dipadukan dengan amal, akhlak, dan ketulusan hati, maka tulisan akan melahirkan kebermanfaatan yang melampaui zaman. Karena itu, momentum PBB ke-187 hendaknya menjadi pengingat bahwa literasi bermakna bukan sekadar mencari popularitas, tetapi menghadirkan cahaya ilmu yang menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih damai, berakhlak, dan bermartabat. Wallahu A’lam.

_________________

*) Profil Penulis Berpangkat Penjelajah di Kompasiana ini sejak 22 Januari 2025;

Dokumen pribadi dibuat khusus untuk pendamping penulisan esai/opini di media sejak tahun 2020.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar