Kesehatan Itu Tidak Adil untuk Sebagian Orang

2026-05-19 09:03:43 | Diperbaharui: 2026-05-20 07:54:19
Kesehatan Itu Tidak Adil untuk Sebagian Orang
Bagi sebagian orang, hidup sehat bukan sekadar pilihan gaya hidup, tetapi perjuangan yang harus diperjuangkan setiap hari. Foto: Pexels/tkirkgoz.

Bagi sebagian orang, hidup sehat mungkin terdengar sederhana.

Tinggal makan makanan bergizi. Rutin olahraga. Tidur cukup. Periksa kesehatan secara berkala. Minum vitamin. Kurangi stres.

Tetapi bagi sebagian orang lainnya, sehat adalah kemewahan yang tidak selalu mudah dijangkau.

Ada ibu hamil yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk memeriksakan kandungannya. Ada keluarga yang menunda berobat karena biaya transportasi lebih mahal daripada uang makan hari itu. Ada lansia yang memilih menahan nyeri karena tidak ingin merepotkan anak-anaknya.

Di kota besar, orang berbicara tentang pola hidup sehat sambil memilih menu rendah gula di kafe modern.

Di tempat lain, masih ada keluarga yang bingung memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Itulah mengapa kesehatan sebenarnya tidak selalu adil.

Bukan karena tubuh manusia berbeda nilainya, tetapi karena akses terhadap hidup sehat tidak dimiliki semua orang dengan cara yang sama.

Orang yang memiliki penghasilan baik lebih mudah mendapatkan makanan bergizi, lingkungan sehat, layanan kesehatan, bahkan waktu untuk beristirahat.

Sementara sebagian lainnya hidup dalam tekanan ekonomi, lingkungan yang tidak sehat, pekerjaan yang melelahkan, dan akses layanan kesehatan yang terbatas.

Akibatnya, penyakit sering bukan hanya soal gaya hidup pribadi.

Ia juga dipengaruhi oleh kondisi sosial.

“Kadang seseorang tidak hidup tidak sehat karena tidak peduli, tetapi karena hidup memberinya terlalu sedikit pilihan.”

Dalam isu kesehatan ibu misalnya, ketimpangan itu masih sangat terasa.

Masih ada ibu hamil yang terlambat mendapatkan pertolongan karena fasilitas kesehatan terlalu jauh. Ada yang terlambat dirujuk karena transportasi sulit dijangkau. Ada pula yang sebenarnya ingin memeriksakan kehamilan rutin, tetapi harus memilih antara biaya kontrol atau kebutuhan dapur keluarga.

Padahal setiap ibu memiliki hak yang sama untuk selamat saat melahirkan.

Karena itu, kesehatan tidak bisa hanya dibebankan kepada individu.

Negara juga memiliki tanggung jawab besar menghadirkan sistem kesehatan yang lebih adil:

  • layanan yang mudah diakses,
  • tenaga kesehatan yang merata,
  • edukasi kesehatan yang sederhana,
  • serta perlindungan bagi masyarakat yang paling rentan.

Sebab kesehatan bukan sekadar urusan rumah sakit.

Ia berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, lingkungan, pekerjaan, bahkan kebijakan publik.

Sayangnya, banyak orang sering menilai kesehatan hanya dari pilihan pribadi:
“Kurang menjaga diri.”
“Kurang olahraga.”
“Kurang disiplin.”

Padahal realitas hidup tidak selalu sesederhana itu.

Ada orang yang terlalu sibuk bertahan hidup sampai tidak punya cukup ruang untuk menjaga kesehatannya sendiri.

Karena itu, empati menjadi penting.

Kita mungkin tidak bisa langsung mengubah seluruh sistem kesehatan. Tetapi setidaknya kita bisa mulai memahami bahwa tidak semua orang memulai hidup dari titik yang sama.

Ada yang lahir dekat dengan fasilitas kesehatan lengkap.

Ada yang harus berjalan jauh hanya untuk bertemu tenaga kesehatan.

Ada yang mudah membeli makanan sehat.

Ada yang sekadar makan kenyang pun sudah bersyukur.

Dan di situlah kesehatan menjadi isu keadilan sosial.

Sebab sehat seharusnya bukan hak istimewa bagi mereka yang mampu, melainkan hak dasar bagi semua manusia.

Bagaimana menurut Anda?
Apakah layanan kesehatan hari ini sudah benar-benar bisa dijangkau secara adil oleh seluruh masyarakat?

Kat@Bubid

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
1 Orang menyukai Artikel Ini
avatar