Menulis Menumbuhkan Empati Akademik: Dari Data Menuju Rasa, Dari Tugas Menuju Cahaya Peradaban
Oleh: A. Rusdiana
Fenomena pendidikan kita hari ini bukan sekadar krisis sistem, tetapi krisis kepekaan. Kampus sering dipenuhi angka, laporan, dan indikator kinerja, namun terasa kering dari empati. Mahasiswa mampu menghitung unit cost, tetapi belum tentu mampu merasakan beban psikologis keluarga miskin yang berjuang membayar biaya pendidikan. Di sinilah pendidikan sedang “sakit di bagian hati” dan membutuhkan sentuhan Psikologi Langit wahyu yang memandu ilmu.
Momentum kuliah perdana pada Rabu, 7 Ramadan 1447 H menjadi refleksi mendalam. Mengajar di empat kelas S1 Manajemen Pendidikan Islam Internasional kelas VI/C-D dan S2 Studi Pembiayaan Pendidikan kelas II/A-B menegaskan bahwa output pembelajaran abad ke-21 tidak cukup hanya presentasi dan ujian. Instruksi pada setiap akhir part bahan ajar menunjukkan satu kata kunci: menulis sebagai refleksi pembelajaran. Catatan Kuliah (CK), poster, dan esai bukan sekadar tugas administratif, tetapi proses membangun kesadaran.
Di saat Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini mencapai 2.477 anggota adalah energi sosial yang luar biasa. Namun pertanyaannya bukan pada jumlah, melainkan pada dampak: apakah tulisan-tulisan itu menjadi cahaya peradaban? Imam Al-Ghazali mengingatkan, ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Menulis adalah titik temu keduanya ia menyatukan ilmu, amal, dan niat.
Dalam perspektif Paulo Freire, refleksi kritis adalah jalan pembebasan. Sementara Anders Ericsson melalui teori deliberate practice menegaskan bahwa konsistensi adalah kunci keahlian. Dalam kerangka Psikologi Langit, konsistensi menulis adalah tazkiyatun nafs penyucian jiwa melalui amal intelektual yang dilakukan berulang karena Allah. Para filosof Muslim mengibaratkan Sya’ban sebagai masa menyiram amal yang ditanam di Rajab agar Ramadan menjadi musim panen iman. Menulis setiap hari adalah proses menyiram itu. Dari itu semua, ditemukan lima pembelajaran dalam perjalanan PBB episode ke-112 kata kucinya ”menulis menumbuhkan empati akademik::
Pertama, menulis menghubungkan data dengan realitas kemanusiaan; Ketika mahasiswa menulis tentang pembiayaan pendidikan, ia tidak hanya melihat angka, tetapi memahami wajah-wajah di balik angka itu. Ini sejalan dengan konsep humanizing education dalam pendidikan humanistik.
Kedua, menulis melatih kepekaan sosial berbasis refleksi; Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada manusia (QS. Al-Mulk: 13–14). Kesadaran ini melahirkan integritas akademik menulis bukan untuk nilai, tetapi untuk kemaslahatan.
Ketiga, menulis adalah zikir intelektual; Aktivitas literasi yang diniatkan karena Allah menjadi bentuk ibadah. Setiap paragraf adalah pengingat bahwa ilmu harus membawa rahmat bagi semesta.
Keempat, menulis membangun peradaban kolaboratif; Model tugas CK, poster, dan esai mendorong mahasiswa belajar saling membaca, memberi umpan balik, dan tumbuh bersama. Inilah semangat Kampus Merdeka yang memanusiakan pembelajaran.
Kelima, menulis adalah terapi jiwa pendidikan; Di tengah rendahnya minat menulis di masyarakat akademik, konsistensi menulis menjadi jalan penyembuhan. Ia mengubah stres tugas menjadi proses pemaknaan.
Strategi mempertahankan posisi “Penjelajah” di Kompasiana menuju “Fanatik” pun bukan sekadar target digital, tetapi perjalanan spiritual. Setiap tulisan diawali dengan pantun Psikologi Langit adalah cara menjaga niat, merawat keikhlasan, dan menyiram amal agar Ramadan menjadi panen makna.
Pada akhirnya, menulis bukan hanya keterampilan abad ke-21, tetapi jalan peradaban. Ia menumbuhkan empati akademik menghadirkan rasa dalam data, menghadirkan nilai dalam ilmu, dan menghadirkan Allah dalam setiap proses belajar.
Pendidikan yang menulis dengan empati akan melahirkan kebijakan yang adil. Kampus yang menjadikan menulis sebagai budaya akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas intelektual, tetapi juga cerdas spiritual dan sosial. Wallahu A’lam.