EMBUH PAGI 2026
250226 | Ramadan 1447 H: Saya Memilih Tenang dan Utuh
Ramadan 1447 H adalah perjalanan.
Bukan perjalanan yang ramai oleh tepuk tangan.
Bukan perjalanan yang diukur dengan unggahan status dan checklist target ibadah.
Ia adalah perjalanan sunyi.
Perjalanan ke dalam diri.
Kita sering menjadikan Ramadan sebagai proyek spiritual.
Target khatam.
Target sedekah.
Target tarawih penuh.
Semua itu baik. Bahkan sangat baik.
Namun izinkan saya sedikit provokatif untuk sedulur Komunitas Wong Embuh (KoWE):
Apa gunanya target tercapai jika batin masih gaduh?
Apa artinya khatam berkali-kali jika kepala masih penuh perang?
Enam hari terakhir dalam fase Mind Detox program 30 Hari Reset Pikiran & Hati, kita tidak sedang mengejar pencapaian lahiriah. Kita sedang membersihkan ruang batin.
Kita menyadari pola pikiran.
Kita belajar mengelola emosi.
Kita menghentikan overthinking.
Kita berdamai dengan masa lalu.
Kita memaafkan orang lain.
Dan mulai memaafkan diri sendiri.
Itu bukan proses kecil.
Secara psikologis, yang kita bangun adalah self-awareness — kesadaran diri. Dan kesadaran diri adalah fondasi kesehatan mental. Tanpa itu, manusia hidup dalam mode otomatis.
Reaktif.
Impulsif.
Mudah terseret suasana.
Ramadan, dengan ritme yang melambat dan distraksi yang berkurang, memberi sistem saraf kita kesempatan keluar dari mode “fight or flight”. Tubuh tidak terus siaga. Pikiran tidak terus waspada. Kita turun ke mode reflektif.
Dan di situlah suara hati mulai terdengar.
Hari ketujuh ini bukan tentang membongkar luka baru.
Bukan tentang mencari trauma tambahan.
Bukan tentang merasa belum cukup sembuh.
Hari ini tentang merangkul diri yang sudah berproses.
Ada kecenderungan manusia modern: perfeksionis dalam healing.
Selalu merasa belum cukup tenang.
Belum cukup sembuh.
Belum cukup dewasa.
Padahal penyembuhan bukan lomba lari.
Ia bukan kompetisi siapa paling cepat selesai dengan masa lalu.
Healing adalah perjalanan menyadari bahwa reaksi kita hari ini lebih terkendali dibanding kemarin. Bahwa kita tidak lagi semudah dulu tersulut. Bahwa kita mulai mengenali pikiran sebelum pikiran itu menguasai kita.
Puasa mengajarkan hening.
Dalam hening itu kita belajar mengamati napas.
Mengamati pikiran.
Mengamati rasa.
Dan dari pengamatan itu lahir satu kemampuan penting: regulasi diri.
Embuhisme mengingatkan dengan kalimat sederhana namun menampar dengan lembut:
Tenang bukan berarti tanpa masalah. Tenang adalah ketika hati tidak lagi melawan diri sendiri.
Banyak orang menunggu hidupnya selesai dulu baru ingin tenang.
Masalah tuntas dulu, baru damai.
Urusan beres dulu, baru bahagia.
Itu ilusi.
Masalah akan selalu ada. Tantangan tidak pernah benar-benar hilang. Yang bisa berubah adalah cara kita meresponsnya.
Secara ilmiah, ketika kita tenang, bagian otak prefrontal cortex — pusat logika dan pengambilan keputusan — bekerja lebih optimal. Sebaliknya, ketika kita cemas berlebihan atau marah, amigdala mengambil alih. Kita bereaksi, bukan merespons.
Maka ketenangan bukan sekadar nasihat spiritual.
Ia adalah kondisi biologis yang nyata.
Ia adalah kekuatan regulasi yang konkret.
Self healing bukan berarti semua luka hilang.
Ia berarti Anda tidak lagi memusuhi diri sendiri.
Tidak lagi menjadi hakim yang kejam.
Tidak lagi memutar ulang drama lama.
Tidak lagi memberi panggung berlebihan pada ketakutan.
Hari ketujuh ini adalah jeda.
Jeda untuk menarik napas lebih sadar.
Jeda untuk berkata: “Saya sudah melangkah sejauh ini.”
Jeda untuk mengakui bahwa perubahan kecil pun adalah kemajuan.
Tanpa apresiasi diri, perjalanan akan terasa berat.
Tanpa pengakuan atas kemajuan kecil, semangat mudah runtuh.
Ramadan 1447 H ini kita belajar satu keputusan yang sederhana namun revolusioner:
Saya memilih tenang.
Saya memilih utuh.
Saya memilih berdamai dengan diri saya sendiri.
Memilih tenang berarti tidak membiarkan drama batin menguasai hari.
Memilih utuh berarti menerima diri dengan kekuatan dan kelemahan sekaligus.
Memilih berdamai berarti berhenti mengulang peperangan lama di dalam kepala.
Dan ketika hati mulai tenang, sesuatu yang indah terjadi.
Ibadah terasa lebih dalam.
Doa terasa lebih jujur.
Syukur terasa lebih nyata.
Karena hati yang tenang lebih mudah menerima cahaya.
Ramadan bukan hanya membentuk kebiasaan baru.
Ia membentuk kualitas batin yang baru.
Dan kualitas batin itulah yang akan kita bawa setelah bulan ini berlalu.
Hari ini, sedulur KoWE, tidak perlu mencari apa yang masih kurang.
Cukup sadari apa yang sudah bertumbuh.
Sisanya…
{{{ Mbuh Priben Carane’ }}}, Kersane Gusti Allah.
Yang penting kita sudah memilih arah:
tenang… dan utuh.
{{{ Positif, Sehat dan Bahagia }}}
Brebes, 25 Februari 2026
Aziz Amin | Wong Embuh
Trainer & Professional Hypnotherapist