MENULIS PANTUN: Dari Tradisi Lisan Menuju Kecersan Literasi

2026-06-16 01:40:52 | Diperbaharui: 2026-06-16 01:41:02
MENULIS PANTUN: Dari Tradisi Lisan Menuju Kecersan Literasi
Ilustrasi MENULIS PANTUN: Dari Tradisi Lisan Menuju Kecerdasan Literasi: Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan Hikmah. Sumber dibuat dan dimodifikasi oleh penulis dengan berbantuan teknologi kecerdasan buatan (DALL•E/ChatGPT), Selasa, 16 Juni 2026).

 

Oleh: A. Rusdiana
PBB-201 Kini Didukung oleh 2.628 Anggota

Fenomena menarik muncul pada PBB-201 yang kini didukung oleh 2.628 anggota. Di tengah derasnya arus komunikasi digital, salah seorang anggota grup, Dra. Nur Iffah, M.Kes. dari Universitas PGRI Jombang mengirim pesan pribadi yang berbunyi, “Mhn maaf 3 x mhn berkenan bantu bagikan pantun yg tadi di-share di grup buku Inovasi dan Dinamika Pendidikan serta Peng Mas.” Meskipun saya belum sepenuhnya memahami maksud permintaan tersebut, pesan itu menunjukkan bahwa pantun masih memiliki daya tarik dan manfaat nyata di tengah kehidupan akademik modern.

Secara teoritis, pantun bukan sekadar karya sastra lama, melainkan media pembelajaran yang melatih kemampuan berbahasa, logika berpikir, kreativitas, serta pembentukan karakter (Amir, 2013; Havis, 2022). Namun demikian, masih banyak orang memandang pantun hanya sebagai hiburan tradisional yang kurang relevan dengan kebutuhan literasi masa kini. Padahal berbagai kajian menunjukkan bahwa pantun dapat mengembangkan memori, kecerdasan emosional, kemampuan komunikasi, dan nilai-nilai sosial yang penting dalam kehidupan modern (Rahayu, 2021; Syukur & Wardhana, 2022).

Tulisan ini bertujuan mengkaji manfaat menulis pantun sebagai sarana pengembangan literasi, karakter, dan komunikasi yang santun dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Mari kita mengkaji manfaat menulis pantun sebagai media pengembangan literasi, kecerdasan berpikir, komunikasi sosial, dan pendidikan karakter:

Pertama: Menulis Pantun Melatih Keterampilan Berbahasa; Dalam perspektif linguistik dan sastra, menulis pantun membantu seseorang memperkaya kosakata, meningkatkan ketepatan memilih diksi, serta melatih kemampuan menyusun kalimat yang indah dan bermakna. Pola rima a-b-a-b menuntut ketelitian berbahasa sekaligus kreativitas dalam menghubungkan sampiran dan isi. Karena itu, pantun menjadi sarana efektif untuk mengembangkan keterampilan komunikasi yang estetis, persuasif, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan (Amir, 2013; Havis, 2022).

Kedua: Menulis Pantun Mengasah Kecerdasan Berpikir; Menyusun pantun memerlukan kemampuan berpikir asosiatif dan logis. Penulis harus mencari hubungan bunyi, makna, serta pesan yang akan disampaikan dalam ruang yang terbatas. Dalam kajian psikologi kognitif, aktivitas ini melatih memori kerja (working memory), daya konsentrasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Proses mencari padanan kata dan kesesuaian rima membuat otak aktif bekerja secara kreatif dan terstruktur sehingga mendukung perkembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Ketiga: Menulis Pantun Memperkuat Kehidupan Sosial; Pantun memiliki fungsi sosial yang sangat kuat dalam budaya Nusantara. Melalui pantun, seseorang dapat menyampaikan nasihat, kritik, ajakan, maupun ungkapan kasih sayang secara santun dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Dalam perspektif sosiologi dan antropologi, pantun menjadi instrumen pemelihara harmoni sosial, penguat silaturahmi, sekaligus media kontrol sosial yang efektif. Karena itu, pantun tetap relevan sebagai sarana komunikasi yang beradab di tengah masyarakat yang semakin beragam.

Keempat: Menulis Pantun Menanamkan Nilai Karakter; Pantun tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan moral, agama, adat istiadat, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam dunia pendidikan, pantun berfungsi sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mendidik. Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, kesantunan, dan kepedulian sosial dapat ditanamkan melalui pantun dengan cara yang ringan namun membekas dalam ingatan peserta didik (Rahayu, 2021; Syukur & Wardhana, 2022).

Pesan singkat yang dikirim oleh Ibu Nur Iffah memberikan pelajaran bahwa pantun masih memiliki tempat di hati masyarakat, termasuk kalangan akademisi. Menulis pantun bukan sekadar menjaga warisan budaya, melainkan juga sarana mengembangkan kecerdasan literasi, melatih kemampuan berpikir, memperkuat hubungan sosial, dan menanamkan karakter mulia. Di tengah era digital yang serba cepat, pantun menawarkan ruang refleksi yang menyejukkan sekaligus mengingatkan bahwa kata-kata yang indah dapat menjadi jembatan bagi lahirnya peradaban yang lebih santun dan beradab. Wallahu A’lam.

Daftar Pustaka

Amir, A. (2013). Sastra Lisan Indonesia. Yogyakarta: CV Andi Offset.

Havis, S. (2022). Konsep Pantun Linguistik: Media Pengenalan Kata Kerja dan Benda untuk Siswa Sekolah Dasar. Panca Widha: Jurnal Praktik dan Kebijakan Pendidikan Indonesia, 1(1), 36–45.

Rahayu, R. (2021). Menapak Jejak Nilai-Nilai Karakter yang Terdapat dalam Pantun. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 21(2), 145–156.

Sadikin, M. (2011). Kajian Sastra Indonesia dalam Perspektif Pendidikan. Jakarta: Cipta Edukasi.

Syukur, M., & Wardhana, K. (2022). Pantun sebagai Media Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal Ilmiah Selaparang, 6(2), 78–89.

________________

*) Profil Penulis: Berpangkat Penjelajah di Kompasiana sejak 22 Januari 2025:

Dokumen pribadi dibuat khusus sebagai pendamping penulisan esai/opini di berbagai media sejak tahun 2020, dengan harapan dapat mengantarkan dari Penjelajah menuju Fanatik. Insya Allah.

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar