MENULIS UNTUK PENCERAHAN, BUKAN SEKADAR SENSASI
“Meneguhkan Niat, Ilmu, dan Akhlak Menulis di Era Literasi Digital”
Oleh: A. Rusdiana
Seiring perjalanan PBB yang kini telah diikuti oleh 2.593 anggota pengikut, ruang literasi ini terus menghadirkan refleksi tentang makna menulis dalam kehidupan modern. Setelah memposting tulisan berjudul “Menulis Hanya untuk Viral, atau Menjadi Sedekah Peradaban?” di Kompasiana pada Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 19.11 WIB, muncul dua tanggapan menarik di WAG komunitas yang memperlihatkan bagaimana menulis dipahami dari sudut pandang spiritual, intelektual, dan sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa aktivitas menulis bukan sekadar persoalan teknis merangkai kata, tetapi menyangkut niat, orientasi hidup, serta tanggung jawab moral penulis terhadap masyarakat. Di tengah era digital yang dipenuhi budaya viral, sensasi, dan kecepatan informasi, muncul pertanyaan penting: apakah menulis hanya berhenti pada pencarian popularitas, ataukah dapat menjadi jalan ibadah dan sedekah peradaban? Inilah fenomena yang penting direfleksikan agar literasi tidak kehilangan ruh keilmuan, akhlak, dan kebermanfaatannya bagi umat dan bangsa.
Tulisan ini bertujuan merefleksikan pentingnya meluruskan niat menulis, meneguhkan ilmu sebagai ibadah, serta menjadikan aktivitas literasi sebagai jalan pengabdian dan sedekah peradaban di era digital. Untuk lebih jelasnya, mari kita elaborasi satu-persatu:
Pertama: Menulis karena Allah sebagai Fondasi Keikhlasan; Tanggapan Ki Musonif yang menyampaikan bahwa “menulis karena Allah kanggo meraih ridlo, rahmat dan pahala-Na” menghadirkan pesan penting tentang makna keikhlasan dalam berkarya. Dalam Islam, seluruh amal sangat ditentukan oleh niatnya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” Menulis yang dilandasi niat karena Allah SWT akan melahirkan ketenangan batin dan keberkahan ilmu. Menulis bukan sekadar mencari pengakuan manusia, tetapi menghadirkan manfaat dan kebaikan bagi sesama. Ketika tulisan menjadi jalan berbagi ilmu, mengingatkan manusia kepada kebaikan, serta menghadirkan pencerahan sosial, maka tulisan tersebut dapat bernilai ibadah dan amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Kedua: Viral sebagai Sarana, Bukan Tujuan Utama; Pandangan Ustad A. Alfiqrie menghadirkan perspektif menarik bahwa tulisan viral tidak selalu negatif, selama mampu mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, kesadaran, dan peradaban. Dalam konteks ini, viral hanyalah sarana penyebaran gagasan, bukan tujuan utama menulis. Persoalannya bukan pada viral atau tidaknya tulisan, tetapi pada substansi dan dampak moral yang dihadirkan. Di era media sosial, banyak tulisan cepat tersebar, tetapi sedikit yang benar-benar menghadirkan pencerahan dan nilai pendidikan. Karena itu, penulis perlu terus merefleksikan batinnya agar orientasi menulis bergeser dari sekadar mencari popularitas menuju menghadirkan manfaat sosial dan keilmuan bagi masyarakat luas.
Ketiga: Ilmu yang Ditulis Menjadi Sedekah Peradaban; Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa menyampaikan ilmu adalah ibadah, sedangkan ilmu yang bermanfaat merupakan amal jariyah yang tidak terputus pahalanya. Menulis sejatinya adalah proses mengabadikan ilmu agar terus hidup melintasi ruang dan waktu. Tulisan yang baik dapat menjadi cahaya bagi pembacanya, membimbing cara berpikir, memperkuat akhlak, dan membangun kesadaran sosial. Dalam konteks peradaban, tulisan memiliki kekuatan besar membentuk budaya ilmu dan karakter bangsa. Karena itu, literasi tidak boleh hanya menjadi ruang sensasi, tetapi harus menjadi sarana menebarkan hikmah, nilai moral, dan semangat membangun kehidupan yang lebih beradab. Dari sinilah menulis dapat dimaknai sebagai sedekah peradaban yang manfaatnya terus mengalir sepanjang zaman.
Keempat: Menulis sebagai Jihad Intelektual di Era Digital; Imam Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa mencari ilmu adalah jihad. Dalam konteks kehidupan modern, jihad intelektual diwujudkan melalui aktivitas belajar, membaca, menulis, dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Tantangan era digital bukan hanya banjir informasi, tetapi juga maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan tulisan yang kehilangan etika. Karena itu, penulis memiliki tanggung jawab moral menjaga integritas, kejujuran, dan akhlak literasi. Menulis harus menjadi jalan menghadirkan kedamaian, pendidikan, dan kesadaran sosial. Penulis yang baik bukan hanya piawai merangkai kata, tetapi mampu menjaga hati, meluruskan niat, serta menghadirkan tulisan yang menuntun manusia menuju ilmu, kebijaksanaan, dan kemuliaan akhlak.
Pada akhirnya, refleksi tentang menulis tidak hanya berbicara mengenai kemampuan intelektual, tetapi juga menyangkut niat, akhlak, dan tanggung jawab moral terhadap peradaban. Viral dapat menjadi sarana penyebaran gagasan, tetapi kebermanfaatan tulisanlah yang menentukan nilai hakikinya. Menulis karena Allah SWT akan melahirkan keikhlasan, sedangkan menulis dengan ilmu dan akhlak akan menghadirkan manfaat sosial yang lebih luas. Karena itu, literasi harus terus diarahkan menjadi jalan ibadah, pencerahan, dan sedekah peradaban agar tulisan tidak sekadar ramai dibaca sesaat, tetapi mampu meninggalkan jejak kebaikan yang panjang bagi kehidupan umat, bangsa, dan generasi masa depan. Wallahu A’lam,