Proses Menulis Lebih Penting dari Kesempurnaan

2026-01-09 05:28:53 | Diperbaharui: 2026-01-09 05:29:18
Proses Menulis Lebih Penting dari Kesempurnaan
Sumber: Gambar dibuat khusus dengan berbatuan AI sesuai permintaan, untuk publikasi PBB-Kompasiana, dengan kredit: Ilustrasi: AI-generated (OpenAI), (Dimodifikasi 9 Januari 2025)

Proses Menulis Lebih Penting daripada Kesempurnaan: Merawat Konsistensi Nilai untuk Umat Rukun dan Indonesia Maju

Oleh: A. Rusdiana

Memasuki Januari menuju PBB Episode ke-71, Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) telah menapaki perjalanan yang tidak singkat. Dengan 2.409 anggota aktif hingga episode ke-68, PBB bukan sekadar ruang menulis, tetapi ruang bertumbuh. Di momentum Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, refleksi tentang proses menulis yang lebih penting daripada kesempurnaan menjadi semakin relevan bukan hanya bagi penulis, tetapi juga bagi pembangunan umat.

Dalam dunia literasi, perfeksionisme kerap menjadi penghambat. Banyak gagasan berhenti di kepala karena takut tidak sempurna. Padahal, menurut James Clear dalam Atomic Habits, perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Menulis yang terus dilakukan meski belum sempurna membangun disiplin berpikir, kejernihan nurani, dan keberanian menyampaikan nilai. Dalam konteks umat, konsistensi nilai jauh lebih bermakna daripada simbol kesalehan yang tampak sempurna tetapi rapuh dalam praktik.

Secara teoritik, Donald Schön menyebut praktik reflektif (reflective practice) sebagai proses belajar paling otentik: seseorang belajar bukan dari hasil akhir, melainkan dari proses berpikir dan memperbaiki diri secara berulang. Menulis adalah praktik reflektif itu sendiri. Ia mendidik penulis untuk rendah hati, terbuka terhadap koreksi, dan terus bertumbuh nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam membangun umat yang rukun dan bersinergi. Landasan Qur’ani menguatkan prinsip ini. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Ayat ini menegaskan bahwa kesungguhan proses mendahului capaian hasil. Dalam hadis, Rasulullah ï·º juga bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara kontinu walaupun sedikit.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Menulis yang dilakukan secara rutin meski sederhana lebih bernilai daripada karya sempurna yang lahir sekali lalu berhenti. Prinsip ini sejalan dengan tema HAB ke-80: kerukunan dan kemajuan tidak dibangun oleh slogan besar, tetapi oleh ikhtiar kecil yang konsisten dan berkesinambungan. Dari refleksi tersebut, setidaknya terdapat lima pembelajaran penting yang dapat dipetik dalam momentum HAB ke-80:

Pertama, konsistensi melahirkan integritas; Menulis secara rutin melatih kejujuran berpikir. Dalam kehidupan umat, integritas lahir bukan dari citra sempurna, tetapi dari keselarasan antara nilai yang diyakini dan perilaku yang dijalani setiap hari.

Kedua, proses membangun ruang dialog, bukan dominasi; Tulisan yang lahir dari proses terbuka mendorong dialog dan saling belajar. Inilah fondasi umat rukun bukan saling menghakimi, tetapi saling memahami.

Ketiga, kesalahan adalah bagian dari pembelajaran kolektif; Dalam proses menulis, kesalahan bukan aib, melainkan bahan perbaikan. Demikian pula dalam kehidupan beragama dan berbangsa: sinergi lahir ketika kekeliruan dijadikan sarana evaluasi bersama, bukan sumber perpecahan.

Keempat, kesederhanaan memperluas partisipasi; Menulis tanpa beban kesempurnaan membuka ruang bagi lebih banyak suara. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, kesederhanaan pendekatan memungkinkan partisipasi luas umat dalam membangun perdamaian.

Kelima, proses panjang melahirkan daya tahan sosial; Umat yang dibiasakan berproses tidak mudah rapuh oleh perbedaan. Seperti PBB yang bertahan lintas episode, bangsa yang maju adalah bangsa yang sabar menumbuhkan nilai, bukan tergesa mengejar pencitraan.

PBB Episode ke-71 menjadi pengingat bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan menanam nilai. Di usia 80 tahun Kementerian Agama, spirit Umat Rukun dan Sinergi menemukan maknanya ketika setiap individu mau berproses menulis, belajar, dan memperbaiki diri tanpa harus menunggu sempurna.

Karena pada akhirnya, kesempurnaan adalah milik Allah, sedangkan ikhtiar berproses adalah tugas manusia. Dari pena yang setia menulis, lahir umat yang rukun. Dari konsistensi nilai, tumbuh Indonesia yang damai dan maju. Wallahu A’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar