Mau Tahu Bukber di Jerman dan Sekilas Zaandam? Simak Kotekatalk-172
Gimana ya, rasanya bukber  rame-rame di Jerman ? (dok. Stevcreative/St.Asia)

Mau Tahu Bukber di Jerman dan Sekilas Zaandam? Simak Kotekatalk-172

Mulai : Jumat, 5 April 2024 16:00 WIB
Selesai : Jumat, 5 April 2024 16:40 WIB
Zoom
00
00
00
00
Hari Jam Menit Detik
0 Peserta Mendaftar

Hi, Koteker dan Kompasianer. Apa kabar? Masih sehat dan bahagia?

Sabtu lalu, ada laporan khusus dari lokasi banjir di Kudus dalam Kotekatalk-171. Mbak Lia Wahab yang juga Kompasianer itu menyempatkan diri ngabuburit di jalanan untuk Komunitas Traveler Kompasiana. Sebelumnya, perlu diingat jasa mbak  Lia dalam mengawinkan Koteka dengan Dispar Kudus, melalui Semarkutigakom, partner dalam acara Kotekatrip.

Nah, namanya juga langsung dari tempat bukan dari bilik  kamar, internetnya sempat byar pet, menegangkan sekali karena berkali-kali mbak Lia harus menyambungkan diri dengan studio zoom bersama panitia dan peserta. Peserta yang hadir untungnya setia menunggu sampai akhir acara.

Pertama-tama, mbak Lia mengisahkan bagaimana cemasnya warga saat banjir setengah meter (10-30 cm) datang. Tanggal 7 Februari satu tanggul jebol. Jati Wetan ikut banjir. Tanggal 17 Maret, 6 tanggul jebol juga. Itu di daerah Demak-Kudus, di mana sungai Musi dan sungai Wulan tampak murka. Kira-kira 3000 orang Kudus mengungsi, 1000 lainnya dari Demak juga begitu. Dikabarkannya area Kaliwungu, Kedungdowo, Menjobo, Undakan, lokasi yang merupakan Selat Muria kala itu semua banjir. Bayangkan saja, curah hujan seharinya 300 mm. 

Perempuan kelahiran Jakarta itu menegaskan bahwa masyarakat dan petugas bahu-membahu di posko yang ada. Disebutkan ratusan rumah rusak, sekolah tenggelam jadi harus online school, berhektar-hektar sawah rusak, hewan ternak diungsikan ke bawah jembatan supaya aman. Sambil memegang erat HP, mbak Lia menunjuk gambaran rumah-rumah yang beberapa hari sebelumnya terbenam. Serem. Ada yang hanya atapnya nongol, bahkan ada juga yang nggak keliatan sama sekali bentuk rumah atau atapnya. Jalur pantura terputus. Akibatnya misalnya kalau mau ke Semarang lewat Jepara sampai 8 jam. Banyak roda dua dan roda 4 yang masih mogok di jalanan. Lalin terputus. Dampaknya, ia mengiyakan tentang simpang-siur munculnya Selat Muria. Siklus 100 tahun sekali tampak terjadi. Lama-lama semua banjir dan membentuk selat, setelah sebelumnya sedimentasi membuatnya menjadi tanah padat dan dihuni warga?

Baiklah dari tanah air, Komunitas Traveler Kompasiana bersama Pesanggrahan Indonesia, mengajak kalian untuk jalan-jalan ke luar negeri. Tadinya sudah ada mbak Helena Heidemann dari Maluku yang ingin menceritakan keindahan Jerman berupa Pfahlbauten, rumah zaman purba yang masih ada sampai saat ini di danau Bodensee, danau indah di Jerman Selatan seperti danau Toba di Sumatra. Ia juga sebenarnya akan menceritakan bagaimana rasanya non muslim berburu takjil di acara bukber diaspora Jerman. Sayang, karena sesuatu hal, dibatalkan. Mungkin lain kali ada rejeki Koteka.

Pfahbauten, peninggalan zaman purba di danau Bodensee, Jerman Selatan (dok. Canva Creative Studio/Gana Stegmann)

Sebagai gantinya, Mbak Siti Asiyah aka St. Asia, artis Bonn akan menceritakan pengalamannya menjadi diaspora muslim di Jerman. Sebagai minoritas, adalah sebuah kesenangan untuk menjalin silaturahim dengan sesama muslim. Misalnya dalam berbuka puasa. Acara seperti ini banyak diselenggarakan di seantero Jerman, tak terkecuali di daerah mbak Siti. 

Bagaimana organisasinya? Siapa saja yang diundang? Apa saja yang harus dibawa saat bukber bersama? Di mana tempatnya? Bayar nggak? Apa saja makanan yang biasa tersaji selama bukber? Apakah acara dilanjutkan dengan tarawih bersama? Adakah pengajian? Boleh tidak kaum non muslim berburu takjil di acara bukber karena ingin mencicipi kuliner Indonesia yang jarang dan nendang? Dan masih banyak pertanyaan lain yang bisa kalian himpun untuk ditanyakan besok.

Mimin undang kalian untuk hadir pada:

  • Hari/ Tanggal: Sabtu, 6 April 2024
  • Pukul: 16.00 WIB Jakarta/ 11.00 CEST Berlin
  • Tempat: zoom
  • Link: Di SINI 
  • ID Meeting: 84323382466
  • Password: 2fmgDa

Mimin yakin, dengan keikutsertaan kalian akan membukakan wawasan, betapa menjadi orang Indonesia di luar negeri itu banyak suka-dukanya. Berbahagialah kalian yang masih berada di tanah air. Jangan lupa rajin jalan-jalan di Indonesia aja. Pengalaman jalan-jalan mbak Siti ke Zaandam, Belanda, semoga menjadi manfaat kita semua yang belum pernah ke sana. Cerita serunya pasti menginspirasi, bagaimana kota di luar negeri mempromosikan wisatanya dengan sederhana tapi tak henti-henti. Partisipasi warganya dan masyarakat di luar wilayah lainnya juga luar biasa. Ini patut dicontoh oleh kita bangsa Indonesia dalam melestarikan Wonderful Indonesia.

"Buah durian harum baunya, buah manggis manis rasanya. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita keliling dunia."

Sampai Jumpa Sabtu.

Salam Koteka. (GS)

 

0 Peserta Mendaftar


Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar