Berdamai dengan diri sendiri sering kali sulit dimengerti oleh sebagian orang, terlihat mudah tetapi pada praktiknya tidak semudah yang diucapkan. Damai berkaitan erat dengan ketenangan, kebahagiaan, rasa welas asih dan bijaksana menyikapi. Tidak akan sampai pada rasa ini ketika kita masih sering menyakiti, membenci, mendendam, takut, sedih dan rasa negatif lainnya. Damai tidak terikat atau melekat kepada materi atau wujud apapun.
Damai berarti tidak ada gejolak di dalam hati dan pikiran, tidak ada pemberontakan, damai berarti menerima diri apa adanya dan tidak ada penolakan. Berdamai dengan orang lain sering kali dilakukan dengan memaklumi kesalahan orang lain lalu memaafkan. Walaupun terkadang tidak mengikhlaskan perbuatannya, tetapi apakah kita bisa menerima diri sendiri, ketika kita melakukan kesalahan dengan menerima bahwa kita memiliki kekurangan karena telah melakukan kesalahan itu? sedangkan terkadang kita sulit menerima kesalahan dan kekhilafan orang lain kepada kita, kecenderungan kita menyangkal perbuatan tidak baik yang kita lakukan dengan berbagai alasan sebagai pembenaran.
Bila kita amati diri, kita cenderung tidak mau menerima hal yang menyakitkan hati, hanya mau menerima hal yang indah dan menyenangkan hati saja. Penyangkalan-penyangkalan ini membuat hati tertutup terhadap perubahan, menjauhi perdamaian, tidak ingin memaafkan dan selalu mengenang peristiwa yang membuat candu dengan pikiran-pikiran negatif sebagai data yang harus diulas setiap harinya. Kecanduan pikiran negatif terus dilakukan dan menemaninya sepanjang masa, akhirnya kita tidak pernah merasakan kedamaian dalam hati.
Pernahkah kita mendamaikan dua orang anak yang sedang bermusuhan? kita meminta mereka untuk saling memaafkan. Namun apakah keduanya benar-benar mengerti dimana kesalahannya, kenapa harus meminta maaf dan mengapa harus damai karena rasa sakit hati yang tidak terobati?, yang kita tahu hanya agar keributan tidak berlanjut, hanya itu. Kita tidak benar-benar mengetahui bahwa ada orang yang paling bersalah karena memulai persoalan terjadi untuk mengetahui duduk permasalahannya lebih rinci. Yang penting keributan selesai, tetapi hati masih mendendam dan mengingatnya karena sakit hati.
Kita mengira bahwa berdamai itu melupakan dan memaklumi, padahal berdamai itu melepas bukan memendam. Berdamai dengan orang lain sangat mudah, bila tidak sanggup melihatnya lagi, tinggalkan saja. Tetapi, bagaimana bila "musuhnya" itu diri sendiri?. Memiliki konflik dengan diri sendiri itu sangat berat dan mengakibatkan overthinking, banyak kendala dalam hidup, mudah ketrigger dengan hal kecil, anti kritik, dan lainnya . Awalnya terlihat seolah persoalan datang dari luar memprovokasi diri, tetapi pada akhirnya persoalan tersebut terjerat di didalam pikiran dan perasaan sendiri.
Berdamai dengan diri sendiri itu adalah menerima lalu melepasnya tidak tersisa. Menerima kesalahan diri, menerima setiap persoalan yang datang, mengakui dan mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Penerimaan ini adalah upaya untuk menghindari penolakan terhadap diri sendiri. Ketika banyak penolakan di dalam diri, kita tidak akan pernah tenang, damai dan kesulitan untuk bersyukur.
Penolakan meningkatkan rasa marah dan menurunkan energi positif, sedangkan menerima meningkatkan kesadaran dan energi positif. Tidak mudah menerima diri sendiri ketika kita sering membandingkan diri dengan orang lain, takut tidak diterima orang lain dan selalu ingin terlihat benar dan menang juga membuat kita sulit menerima diri sendiri. Tingkatan menuju rasa damai adalah penerimaan diri dan menerima faktor apapun dari luar diri. Kita tidak mau sakit tapi kita tidak menjaga fisik dan mental, kita benar-benar menolaknya dengan berusaha keras untuk selalu ada di pikiran positif dan pola sehat tanpa melihat dan merasai bahwa ada hal yang tidak beres di diri kita. Perasaan tidak enak itu adalah alarm supaya kita menelusuri apa yang sedang terjadi dalam diri.
Menerima terlebih dahulu semua yang menyebabkan hal tersebut datang pada kita lalu meminta maaf pada diri dan kemudian melepaskannya dengan tidak memikirkannya lagi. Pikiran dan perasaan adalah pintu masuk, maka berhati-hatilah memikirkan sesuatu, ada sebab ada akibatnya. Tidak ada yang kebetulan atau muncul secara tiba-tiba, hanya saja kita tidak mengamatinya. Memikirkan sesuatu merupakan sebab terjadinya tarikan energi dari apa yang kita pikirkan layaknya sedang bertelepati, namun energi yang kuat itu terjadi ketika kita memfokuskan pikiran dan perasaan pada hal tersebut.
Berhati-hati memfokuskan pikiran ketika energi sedang terkumpul atau sedang penuh emosi negatif di dalam hati. Tarikan dari perasaan sangat kuat, sehingga perasaan bisa menjadikan energi rasa menjadi realita. Hati yang sulit merasakan kedamaian tentunya akan mewujudkan banyak masalah dalam hidup, rasa damai menarik kedamaian, rasa berkelimpahan menarik keberlimpahan. Demikian pula ketika perasaan tidak menentu akan menarik segala macam pesoalan dalam kehidupan.
Menciptakan pikiran atau niat-niat buruk akan menciptakan tindakan buruk dan menarik banyak hal tidak baik. Berbuat baik itu adalah kebaikan tetapi sebaliknya berbuat keburukan cepat atau lambat akan menghasilkan kerugian yang nyata. Berpikir dan menciptakan keburukan itu menjauhkan seseorang dari kedamaian hati. Merasa damai bukan datang secara tiba-tiba tetapi menciptakan kedamaian itu sendiri. Manusia menggunakan waktunya dengan menunggu hal yang tidak jelas tanpa menciptakan apa yang diinginkannya dalam pikiran lalu mewujudkannya dalam tindakan nyata.
Manusia harus berkreasi untuk dirinya sendiri, menciptakan banyak hal untuk kehidupannya. Bahkan untuk mencapai ketenangan, kedamaian dan kebahagiaanpun diciptakan bukan di dapatkan dari luar dirinya. Semua rasa itu ada di dalam diri, bukan di luar, tuntutan yang sering kita dengar semua mengandung harapan dari luar dirinya, sulit sekali, karena setiap manusia memiliki wadah yang harus diisinnya sendiri dan ketika wadah tersebut penuh barulah ia bisa mencurahkannya kepada orang lain. Bagaimana bisa berharap diisi oleh seseorang yang wadahnya kosong?, ia sendiri butuh untuk diisi, harapan tidak akan pernah didapatkan sampai kapanpun.
Teori yang sering diperdengarkan sering kali berhenti hanya pada teori saja, tetapi tidak dipraktikkan. Hati yang kosong semakin menjadi, selalu minta diisi tanpa berupaya menciptakan realita, sulit sekali merasakan kedamaian. Minta diisi juga menjauhkan seseorang dari kedamaian, minta diisi sama saja dengan selalu ingin dipenuhi dan dimaklumi, persoalannya apakah kita akan berusaha keras untuk selalu mengisi wadah kosong orang lain yang selalu dikosongkannya?. Berdamai dengan diri sendiri sama dengan mengisi kekurangan di dalam diri dengan cara menerima diri apa adanya dan mulai mengisinya sesuai dengan kebutuhan jiwanya sendiri, kekurangan itu yang tahu hanya diri sendiri, karena kecenderungan manusia selalu menutupi kekurangannya di hadapan orang lain.
Wadah yang diisi selalu menguap habis itu adalah orang yang tidak mensyukuri dirinya dan kehidupannya. Betapa lelahnya kita mengisi orang-orang yang tidak pernah mempraktikan rasa syukur ini. Selalu menolak apa saja baik dan buruk yang datang ke dalam kehidupannya dengan menghujat, mengeluh, putus asa dan menghina dirinya sendiri.
Menerima warna kulit, menerima kita berasal dari ras dan suku apa, menerima sifat dan orang tua kita apa adanya, menerima sifat dan sikap saudara kita dan lainnya. Manusia selalu menuntut kesempurnaan dirinya dan orang lain, tidak ada yang sempurna walaupun manusia selalu berusaha untuk terlihat sempurna, namun akhirnya membuat ia menjadi budak dari kesempurnaan itu. Diperbudak oleh sesuatu tentu melelahkan sekali, jauh dari kebebasan.
Rasa damai itu bebas lepas dari rasa yang menyiksa, dari kemelekatan, dari perbudakan, intimidasi pikiran dan perasaannya sendiri. Berdamai dengan diri sendiri sama dengan memeluk kekurangan diri, menerima diri dengan kasih sayang, dan berjalan sesuai dengannya bukan berlainan arah atau menipu diri sendiri. Berdamai dengan orang lain saja kita berusaha untuk tidak melihat cacat aibnya, demikian pula dengan berdamai dengan diri sendiri, berjalan sesuai dengan perangkat diri dan menciptakan kedamaian dengan melepaskan pikiran negatif tentang diri sendiri.