MENULIS SEBAGAI UNGKAPAN SYUKUR: Meneguhkan Amanah Ilmu melalui Jejak Literasi

2026-07-03 04:39:56 | Diperbaharui: 2026-07-03 05:45:12
MENULIS SEBAGAI UNGKAPAN SYUKUR: Meneguhkan Amanah Ilmu melalui Jejak Literasi

 

Caption

Ilustrasi Menulis Sebagai Ungkapan Syukur.: Meneguhkan Amanah Ilmu melalui Jejak Literasi.  Sumber dibuat dan dimodifikasi oleh penulis dengan berbantuan teknologi kecerdasan buatan (DALL*E/ChatGPT, Rabu, 3 Juli 2026).

Oleh: A. Rusdiana

Era digital telah membuka ruang yang semakin luas bagi para pendidik untuk menyebarluaskan ilmu melalui tulisan. Namun, perjalanan berkarya tidak selalu berjalan mulus. Gangguan sistem, kendala teknis, bahkan hambatan akses sering menjadi bagian dari proses yang menguji kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan seorang penulis. Pada 25–28 Juni 2026, hampir 35 tulisan yang telah dipersiapkan tidak dapat diunggah ke Kompasiana. Pengalaman serupa pernah terjadi pada 2024 ketika akun sempat diblokir sehingga menimbulkan kekhawatiran yang sama. Namun, atas izin Allah SWT, pada dini hari 29 Juni 2026, setelah berpindah dari Mozilla Firefox ke Google Chrome, proses unggah kembali berjalan normal. Peristiwa tersebut menghadirkan pelajaran bahwa menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bagian dari ibadah dan ungkapan syukur atas nikmat ilmu. Tulisan ini bertujuan mengajak anggota Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini didukung 2.653 anggota menjadikan literasi sebagai bentuk syukur yang melahirkan kebermanfaatan bagi umat, bangsa, dan peradaban.

Tujuan Penulisan ini, mengajak seluruh anggota PBB untuk memaknai aktivitas menulis sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas nikmat ilmu, kesempatan berkarya, dan amanah pengabdian, sehingga setiap tulisan menjadi jejak literasi yang bernilai ibadah serta memberi manfaat bagi masyarakat. Berikut elaborasinya yang perlu dimaknai bersama:

Pertama: Syukur Menguatkan Keteguhan dalam Berkarya; Ujian sering kali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang penulis. Kendala mengunggah puluhan tulisan selama beberapa hari mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kesabaran, doa, dan keyakinan kepada Allah SWT. Ketika satu jalan tertutup, Allah membuka jalan lain yang tidak disangka-sangka. Peristiwa sederhana berpindah dari Mozilla Firefox ke Google Chrome menjadi ikhtiar yang akhirnya menghadirkan solusi. Pengalaman ini menegaskan bahwa rasa syukur tidak lahir hanya ketika berhasil, tetapi juga ketika Allah memberikan kekuatan untuk tetap istiqamah dalam berkarya.

Kedua: Syukur Melahirkan Produktivitas Literasi; Setelah hambatan berlalu, hampir 54 tulisan unggah tunda berhasil dipublikasikan hingga 3 Juli 2026. Nikmat tersebut mengajarkan bahwa kesempatan menulis merupakan amanah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Menulis bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi mendokumentasikan ilmu, pengalaman, inspirasi, serta nilai-nilai kebaikan agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Ketika tulisan lahir dari rasa syukur, setiap kalimat menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan penguatan budaya literasi yang terus memberi manfaat, bahkan setelah penulisnya tiada.

Ketiga: Syukur Meneguhkan Amanah Pendidikan; Rasa syukur juga diwujudkan melalui tanggung jawab akademik. Alhamdulillah, implementasi Model Pembelajaran Literasi Transformasional pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sekitar 97% mahasiswa pada empat kelas memperoleh nilai A (Memuaskan), dan seluruh nilai telah dituntaskan dalam sistem SALAM pada 3 Juli 2026. Keberhasilan tersebut bukan alasan untuk berbangga diri, melainkan pengingat bahwa ilmu adalah amanah Allah SWT yang harus terus dikembangkan melalui pembelajaran yang bermutu, literasi yang kuat, serta pengabdian yang semakin berkualitas.

Keempat: Syukur Mendorong Pengembangan Ilmu Berkelanjutan; Nikmat Allah SWT juga tampak melalui terselesaikannya draft Buku Model Pembelajaran Literasi Transformasional yang segera dikirim ke Penerbit Deepublish serta diterimanya artikel ilmiah pada Jurnal Scopus LEKTUR (penulis ketiga) pada 1 Juli 2026. 3 Judul Penulis Utama Penerbit Akademi Pustaka UIN SATU Tulung Angung Publish. Capaian tersebut menunjukkan bahwa rasa syukur harus diwujudkan dengan terus berkarya, memperluas jejaring keilmuan, dan meningkatkan kontribusi akademik. Setiap buku, artikel, maupun tulisan populer merupakan jejak literasi yang memperpanjang manfaat ilmu sekaligus menjadi amal jariyah yang terus mengalir selama memberi manfaat bagi banyak orang.

Pada ahirnya perjalanan menulis merupakan salah satu cara terbaik mensyukuri nikmat ilmu yang Allah SWT anugerahkan. Ujian mengajarkan kesabaran, keberhasilan menumbuhkan kerendahan hati, sedangkan karya menjadi bukti syukur yang nyata. Muharram mengingatkan bahwa hijrah terbaik ialah mengubah rasa syukur menjadi amal yang berkelanjutan. Sebagaimana firman Allah SWT:

Sumber: Depag RI Al-Qur'an Dan Tejemahannya (Jakarta, Depag RI,1989)

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Akan tetapi, jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangatlah keras." (QS. Ibrahim: 7).

Karena itu, marilah menjadikan setiap tulisan sebagai ungkapan syukur, setiap ilmu sebagai amanah, dan setiap karya sebagai jejak literasi yang menguatkan pendidikan, menginspirasi masyarakat, serta menjadi bekal amal jariyah menuju ridha Allah SWT. Wallahu A’lam.

____________

*) Profil Penulis: Berpangkat Penjelajah di Kompasiana sejak 22 Januari 2025:

Dokumen pribadi dibuat sebagai pendamping penulisan esai, opini, dan refleksi harian sejak tahun 2020, dengan harapan dapat mengantarkan perjalanan literasi dari Penjelajah menuju Fanatik. Insya Allah.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar