Kasus penyekapan seorang perempuan oleh pacarnya selama bertahun-tahun di Bandung membuat banyak orang bergidik. Sulit membayangkan bagaimana seseorang dapat mengurung, mengendalikan, bahkan menyiksa orang yang katanya dicintai.
Yang menarik, perhatian publik tidak hanya tertuju kepada pelaku. Sikap keluarganya pun menjadi sorotan. Berbagai komentar bermunculan, ada yang mengecam, ada yang membela, ada pula yang mempertanyakan bagaimana seorang anak bisa tumbuh menjadi pelaku kekerasan tanpa terdeteksi oleh orang-orang terdekatnya.
Namun, bagi saya, pertanyaan yang jauh lebih penting bukanlah, "Mengapa keluarga pelaku seperti itu?"
Pertanyaan yang seharusnya mengusik kita adalah,
"Apakah keluarga saya sedang membesarkan anak yang kelak menghormati orang lain, atau justru merasa berhak menguasai orang lain?"
Pertanyaan ini tidak nyaman. Tetapi justru di situlah letak urgensinya.
Kekerasan Tidak Lahir dalam Satu Malam
Sebagai akademisi kesehatan masyarakat, saya selalu memandang bahwa perilaku manusia adalah hasil interaksi yang panjang antara individu, keluarga, lingkungan, dan budaya.
Pelaku kekerasan bukan tiba-tiba berubah menjadi kejam dalam semalam.
Ada proses belajar.
Ada pola komunikasi.
Ada nilai yang diwariskan.
Ada perilaku yang dibiarkan.
Mungkin sejak kecil ia terbiasa melihat kemarahan sebagai cara menyelesaikan masalah.
Mungkin ia tidak pernah belajar menerima penolakan.
Mungkin ia dibesarkan dengan keyakinan bahwa laki-laki harus selalu menang.
Mungkin setiap kesalahannya selalu ditutupi atas nama kasih sayang.
Mungkin....
Semua kemungkinan itu mengingatkan kita bahwa keluarga adalah sekolah pertama tentang bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain.
Ketika Peran dalam Keluarga Mulai Kabur
Islam tidak menyamakan seluruh peran laki-laki dan perempuan, tetapi menyeimbangkan amanah.
Bukan soal siapa lebih tinggi.
Bukan siapa lebih berkuasa.
Melainkan siapa menjalankan tanggung jawabnya dengan benar.
Dalam Al-Qur'an, laki-laki disebut sebagai qawwam—pemimpin yang memikul tanggung jawab, bukan penguasa yang bebas mengendalikan.
Sementara hubungan suami istri dibangun atas dasar mawaddah dan rahmah, kasih sayang yang saling menenteramkan.
Artinya, kepemimpinan dalam Islam tidak identik dengan dominasi.
Sayangnya, dalam kehidupan modern, makna ini sering bergeser.
Sebagian orang memahami kepemimpinan sebagai hak untuk mengontrol.
Padahal yang diajarkan agama adalah amanah untuk melindungi.
Perbedaan inilah yang sangat menentukan bagaimana seorang anak memahami relasi dengan orang lain.
Ayah Bukan Sekadar Pencari Nafkah
Dalam materi tersebut, peran ayah digambarkan sebagai teladan, mentor, dan pemberi rasa aman.
Banyak ayah merasa tugasnya selesai ketika kebutuhan ekonomi keluarga terpenuhi.
Padahal anak laki-laki belajar menjadi laki-laki bukan dari ceramah, tetapi dari cara ayah memperlakukan ibunya.
Apakah ayah menghargai pendapat istri?
Apakah ayah mampu mengendalikan emosi?
Apakah ayah meminta maaf ketika salah?
Apakah ayah menggunakan kekuasaan untuk melindungi atau menekan?
Anak merekam semuanya.
Keteladanan selalu lebih kuat daripada nasihat.
Ibu Tidak Hanya Mengurus Rumah
Dalam kajian tersebut, ibu diposisikan sebagai pengikat batin, penstabil emosi, dan pemberi rasa nyaman.
Peran ini sering dianggap sederhana.
Padahal justru dari ibulah anak pertama kali belajar empati.
Belajar mengenali emosi.
Belajar meminta maaf.
Belajar memahami bahwa orang lain juga memiliki perasaan.
Rumah yang miskin kehangatan emosional sering menghasilkan anak yang kesulitan mengenali penderitaan orang lain.
Ketika empati melemah, kekerasan menjadi lebih mudah dilakukan.
Disorientasi Peran Melahirkan Disorientasi Nilai
Hari ini kita sering memperdebatkan siapa yang paling berhak memimpin.
Siapa yang paling kuat.
Siapa yang paling dominan.
Padahal persoalan sebenarnya bukan tentang posisi.
Melainkan tentang fungsi.
Ayah yang tidak hadir secara emosional.
Ibu yang kelelahan tanpa dukungan.
Anak yang lebih banyak belajar dari media sosial daripada dari orang tuanya.
Semua ini menciptakan kekosongan nilai.
Kekosongan itu kemudian diisi oleh budaya populer yang sering memaknai cinta sebagai kepemilikan.
Pacar harus selalu menuruti.
Pasangan tidak boleh menolak.
Cemburu dianggap bukti cinta.
Mengontrol dianggap perhatian.
Padahal semua itu merupakan tanda relasi yang tidak sehat.
Orang Tua Perlu Mengubah Tolok Ukur Keberhasilan
Kita sering bertanya,
"Nilai rapornya berapa?"
"Sudah masuk universitas mana?"
"Gajinya berapa?"
Jarang sekali kita bertanya,
"Apakah anak saya menghargai perempuan?"
"Apakah ia mampu menerima penolakan?"
"Apakah ia bisa mengendalikan amarah?"
"Apakah orang lain merasa aman berada di dekatnya?"
Padahal masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar.
Masyarakat membutuhkan manusia yang aman.
Seseorang yang kehadirannya tidak melukai orang lain.
Mendidik Anak Bukan Menyiapkan Masa Depannya Saja
Kasus di Bandung seharusnya menjadi alarm bagi semua keluarga.
Setiap berita tentang kekerasan seharusnya tidak berhenti pada rasa marah kepada pelaku.
Lebih penting lagi, berita itu menjadi bahan evaluasi di ruang keluarga.
Sudahkah rumah kita mengajarkan penghormatan?
Sudahkah anak melihat kasih sayang yang sehat antara ayah dan ibu?
Sudahkah kita mengoreksi perilaku posesif sebelum berubah menjadi kekerasan?
Sudahkah kita mengajarkan bahwa cinta bukan tentang memiliki, melainkan menghormati?
Karena pada akhirnya, keberhasilan pengasuhan bukan hanya ketika anak menjadi dokter, dosen, pengusaha, atau pejabat.
Keberhasilan sejati adalah ketika anak tumbuh menjadi manusia yang tidak menyalahgunakan kekuatan, tidak mengendalikan orang lain, dan tidak pernah menjadikan cinta sebagai alasan untuk menyakiti.
Mungkin itulah makna terdalam dari pengasuhan: bukan sekadar membesarkan anak hingga dewasa, tetapi membentuk manusia yang kehadirannya membawa rasa aman bagi sesama.
disarikan dari https://youtube.com/live/fdZzw_TfqpI?feature=share