Oleh: A. Rusdiana
Menulis merupakan salah satu bentuk syukur yang paling nyata atas nikmat ilmu, waktu, dan kesempatan berkarya yang Allah SWT anugerahkan kepada manusia. Namun, perjalanan literasi tidak selalu berlangsung mulus. Fenomena dunia digital menunjukkan bahwa hambatan teknis, perubahan sistem, bahkan gangguan akses platform dapat menghambat produktivitas seorang penulis. Pada 25–28 Juni 2026, saya mengalami kendala ketika hampir 35 naskah yang telah dipersiapkan tidak dapat diunggah ke Kompasiana. Pengalaman serupa pernah terjadi pada Juni 2024 ketika akun saya sempat terblokir hingga harus berganti akun. Berbekal pengalaman tersebut, saya tetap berikhtiar, berdoa, dan tidak berhenti menulis. Alhamdulillah, pada dini hari 29 Juni 2026, setelah berpindah dari Mozilla Firefox ke Google Chrome, proses unggah kembali berjalan normal. Pengalaman ini menegaskan bahwa setiap ujian dapat menjadi sarana pembelajaran, penguatan mental, dan ungkapan syukur atas nikmat ilmu yang tetap dapat dibagikan kepada masyarakat.
Tulisan ini bertujuan menjelaskan bahwa menulis sebagai ungkapan syukur bukan hanya diwujudkan ketika segala sesuatu berjalan lancar, tetapi justru semakin bermakna ketika seseorang mampu bertahan menghadapi ujian, menjaga konsistensi berkarya, serta menjadikan setiap pengalaman sebagai sumber inspirasi bagi orang lain. Berikut elaborasinya untuk dimaknai:
Pertama: Ujian Digital Menguatkan Kesabaran dan Ikhtiar; Empat hari tanpa dapat mengunggah tulisan bukanlah akhir dari perjalanan literasi. Justru pada masa tersebut saya memperoleh pelajaran bahwa seorang penulis tidak boleh bergantung pada keadaan. Sekitar 35–37 tulisan telah dipersiapkan dengan baik, namun tertahan karena kendala teknis. Jika diasumsikan setiap tulisan berpotensi menghasilkan sekitar empat poin, maka kesempatan memperoleh lebih dari 150 poin tertunda. Akan tetapi, nilai terbesar bukanlah poin yang hilang, melainkan lahirnya kesabaran, ketelitian, dan keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memperoleh jalan keluar terbaik.
Kedua: Syukur Melahirkan Konsistensi Berkarya; Sesudah hambatan teratasi, proses publikasi kembali berjalan normal. Bahkan, pada hari ini capaian Kompasiana telah menembus 30.000 poin. Menariknya, tambahan 1.000 poin terakhir diraih hanya dalam 26 hari, dengan rata-rata sekitar 38,46 poin per hari, melampaui target pribadi sebesar 37 poin per hari. Data sederhana ini menunjukkan bahwa konsistensi lebih menentukan daripada kecepatan sesaat. Rasa syukur mendorong seseorang untuk tetap menulis setiap hari, sehingga akumulasi karya akhirnya melahirkan prestasi yang sebelumnya tampak sulit dicapai.
Ketiga: Menulis sebagai Warisan Rasa Terima Kasih kepada Guru; Syukur atas ilmu tidak cukup diucapkan, tetapi perlu diabadikan melalui tulisan. Setiap guru meninggalkan jejak dalam perjalanan hidup muridnya, sedangkan setiap tulisan menjadi jejak penghormatan kepada guru. Ketika saya menulis tentang Prof. Achmad Sanusi, sesungguhnya saya sedang mendokumentasikan rasa terima kasih atas ilmu, keteladanan, dan inspirasi yang beliau wariskan. Tulisan menjadikan nilai-nilai seorang guru tetap hidup, dibaca lintas generasi, dan terus menginspirasi dunia pendidikan. Pendidikan Nilai yang diajarkan oleh Prof. Achmad Sanusi. Dengan demikian, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga ibadah sosial yang mengabadikan jasa para pendidik.
Keempat: Menuju Target Fanatik dengan Semangat Syukur; Perjalanan literasi masih panjang. Setelah mencapai 30.000 poin, masih terdapat sekitar 20.000 poin lagi untuk mencapai predikat Fanatik di Kompasiana. Target tersebut bukan sekadar mengejar angka, melainkan menjadi simbol konsistensi, dedikasi, dan keberlanjutan dalam berbagi ilmu. Setiap tulisan diharapkan memberi manfaat, memperkuat budaya literasi, serta menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Selama niat tetap lurus karena Allah SWT, setiap kata yang ditulis akan menjadi bagian dari jejak pengabdian kepada masyarakat dan dunia pendidikan.
Singkatnya, menulis sebagai ungkapan syukur mengajarkan bahwa keberhasilan tidak lahir dari perjalanan tanpa hambatan, melainkan dari kemampuan mengubah ujian menjadi energi untuk terus berkarya. Gangguan teknis, kehilangan kesempatan memperoleh poin, maupun keterlambatan publikasi hanyalah bagian dari proses pendewasaan seorang penulis. Ketika rasa syukur dipadukan dengan kesabaran, ikhtiar, dan istiqamah, setiap tulisan akan menjadi warisan ilmu, penghormatan kepada guru, serta investasi amal yang manfaatnya terus mengalir sepanjang zaman. Wallahu Allam.
_____________
*) Profil Penulis: Berpangkat Penjelajah di Kompasiana sejak 22 Januari 2025: