Gerakan Literasi AI (GLA) melalui program GLA Goes to School berkolaborasi dengan SMP Negeri 6 Cimahi untuk menggaungkan kembali kecintaan terhadap literasi di kalangan pelajar. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 12 Oktober 2026, ini merupakan bagian dari program kokurikuler literasi SMPN 6 Cimahi yang mengusung program Satu Tahun Satu Buku.
Founder Gerakan Literasi AI, Ririe Aiko, hadir bersama para relawan literasi dari kalangan pelajar Al Lathif Islamic International School. Mereka turut membawa semangat berbagi dan menginspirasi sesama pelajar agar terus mengembangkan budaya membaca, menulis, serta berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Rombongan GLA juga melibatkan Bintang Aditya Pratama selaku Student Leader of GLA, Akhyar Risan sebagai wakil, serta M. Lucky Al Fattih dan Ghazaleia Digjayannisa yang bergabung sebagai Student Literacy Volunteers. Kehadiran para pelajar ini menjadi wujud keterlibatan generasi muda dalam menggerakkan literasi sekaligus membangun ruang belajar bersama lintas sekolah.
Dalam sesi edukasi, Ririe Aiko mengingatkan para pelajar agar tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya andalan dalam belajar dan berkarya. Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan, bukan alasan untuk berhenti melatih kemampuan berpikir dan menulis secara mandiri.
“Jangan sampai sedikit-sedikit menggunakan AI. Kita harus tetap melatih kemampuan berpikir dan menulis dengan usaha sendiri. Penulis yang hebat tetap bisa menulis meskipun tidak ada AI. Teknologi boleh membantu, tetapi jangan sampai membuat kita bergantung,” tegas Ririe Aiko di hadapan para pelajar.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Gerakan Literasi AI yang mendorong pemanfaatan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab. AI dapat digunakan untuk mencari inspirasi, mengembangkan gagasan, maupun membantu penyuntingan. Namun, kemampuan membaca, memahami informasi, menyusun argumen, dan menghasilkan karya orisinal tetap harus dibangun melalui proses belajar dan latihan.
Antusiasme pelajar SMPN 6 Cimahi terlihat sepanjang kegiatan. Para peserta mengikuti sesi edukasi dengan penuh semangat dan terlibat aktif dalam diskusi. Respons mereka menunjukkan bahwa ruang dialog yang dekat dengan kehidupan pelajar dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kembali ketertarikan terhadap literasi.
Bagi Gerakan Literasi AI, keterlibatan pelajar sebagai relawan menjadi bagian penting dari gerakan ini. Pelajar tidak hanya ditempatkan sebagai penerima materi, tetapi juga sebagai penggerak yang dapat berbagi pengalaman, menyebarkan semangat membaca dan menulis, serta mengajak teman sebaya memanfaatkan teknologi secara bijak.
Kolaborasi dengan SMPN 6 Cimahi menjadi salah satu langkah GLA dalam memperluas gerakan literasi ke lingkungan sekolah. Dukungan sekolah melalui program Satu Tahun Satu Buku juga membuka ruang bagi pembiasaan membaca dan menulis yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Melalui GLA Goes to School, Gerakan Literasi AI berharap semakin banyak sekolah dan komunitas terlibat dalam membangun budaya literasi yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. Sebab, kecakapan digital tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi. Pelajar juga perlu memiliki daya pikir kritis, kreativitas, dan kemandirian agar mampu menjadi pencipta gagasan, bukan sekadar pengguna teknologi.