Hi, Koteker dan Kompasianer. Apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan. Selamat tahun baru, dengan semangat dan lembaran baru untuk tahun 2026.
Minggu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia e.V Bonn telah menyelenggarakan zoom live streaming dari Linz, Austria. Narasumber Gana Stegmann, sedang berada di sana, selama perjalanan dari Jerman ke Austria dan Slovakia.
Linz adalah kota bersejarah di mana Hitler pernah mengenyam pendidikan menengah. Walau mantan kanselir Jerman itu memiliki nama gelap dalam sejarah, rupanya, ia berhasil membangun Linz dengan pengaruhnya. Bukti kecantikan dan kegagahan bangunan di kota merupakan salah satu karya Hitler bersama arsitektur pilihannya. Bahkan maket pembangunan dibuat sendiri oleh Hitler dengan kayu dan kertas.
Hitler dikenal pernah bersekolah di Realschule di Steingasse yang sekarang pindah ke jalan lain dan berubah menjadi Gymnasium, setara tamatan SMA Indonesia. Hitler dulunya memang agak terlambat masuk SD. Di umur 11 tahun ia baru masuk SD kelas satu dan harus mengulang lagi. Begitu pula kelas 3 tapi akhirnya memutuskan pindah supaya bisa naik kelas. Walaupun punya catatan buruk atas prestasi sekolah, tidak membuatnya malas belajar. Justru ia membaca banyak buku. Sebanyak 16.000 buku dilahapnya. 1 persen di antaranya masih tersimpan di sebuah museum. Nggak heran bahwa dari rajin membaca, ia tahu betul banyak hal. Bahkan ia bisa mengulangnya lagi untuk dibagikan ke orang lain. Meski tanpa kemampuan bahasa asing lain, ia dibantu Dolmetscher atau juru bahasa untuk menterjemahkan kalimat-kalimat ujarannya ke dunia. Hitler pernah belajar bahasa Perancis di sekolah tapi ia ternyata dikatakan tidak ditulis bahwa ia mampu berkomunikasi dengan bahasa itu.
Dalam perjalanan live di Linz, Gana menunjukkan bangunan-bangunan di pusat kota yang tua tapi cantik dan lestari. Bahkan, sempat masuk dua gereja Katolik yang sangat indah. Karena sedang misa, penonton zoom dimohon tidak berisik, seperti para jemaah. Nggak sadar, salah satu earphone narasumber terjatuh. Setengah jam kemudian, dikembalikan oleh pastor sendiri. Tuhan memang Maha Baik.
Perjalanan selama 30 menit langsung dari Linz itu memang singkat tapi sangat menarik. Bahkan sempat mengingatkan memori salah satu peserta zoom yang pernah ke sana.
Dari Linz, Austria, kita ke Bratislava, Slovakia. Perjalanan narasumber dari Linz ke sana akan dipresentasikan dalam foto dan video dalam PPT. Apa saja 7 must visit yang barangkali akan menjadi rekomendasi kalian yang akan ke sana suatu hari nanti? Apa mata uang di sana? Apa saja kuliner yang bisa kita cicipi selama di sana? Kalau ke sana, kita bisa ke negara mana lagi? Konon, negeri ini dikelilingi negeri para tetangga. Ke sana pakai transportasi apa, ya?
Untuk tahu jawabannya, simak dalam Kotekatalk-261 pada:
- Hari/Tanggal: Sabtu, 3 Januari 2026
- Pukul: 16.00 WIB Jakarta/ 10.00 CET Berlin
- Link: DI SINI
"Buah durian harum baunya, buah manggis manis rasanya. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita keliling dunia."
Jumpa Sabtu sore.
Salam Koteka. (Gana Stegmann)