BELAJAR MENULIS DARI TUGAS PERKULIAHAN: KETIKA MEMULAI MENULIS TERASA BERAT?

2026-01-02 03:25:42 | Diperbaharui: 2026-01-02 03:39:10
BELAJAR MENULIS DARI TUGAS PERKULIAHAN: KETIKA MEMULAI MENULIS TERASA BERAT?
Caption Sumber: Ilustrasi dibuat khusus dengan berbatuan AI sesuai permintaan, bebas hak cipta untuk publikasi Kompasiana, dengan kredit: Ilustrasi: AI-generated (OpenAI), (Dimodifikasi 2 Januari 2026)

­

Belajar Menulis dari Tugas Perkuliahan: Ketika Memulai Menulis Terasa Berat?

Oleh: A. Rusdiana

Berbicara dan menulis sama-sama bertujuan menyampaikan gagasan. Namun dalam praktiknya, banyak orang termasuk mahasiswa merasa berbicara jauh lebih mudah daripada menulis. Padahal, substansi yang ingin disampaikan sering kali tidak berbeda. Pertanyaannya, mengapa perbedaan rasa itu begitu nyata?

Fenomena ini bukan sekadar soal bakat, melainkan soal proses kognitif, kebiasaan, dan struktur belajar. Berbicara bersifat spontan, sementara menulis menuntut ketekunan, keteraturan, dan keberanian menghadapi diri sendiri. Seperti dikatakan Walter J. Ong dalam Orality and Literacy (1982), budaya lisan bersifat langsung dan situasional, sedangkan budaya tulis bersifat reflektif dan menuntut jarak berpikir. Menulis memaksa seseorang berhadapan dengan pikirannya sendiri itulah yang sering terasa berat.

Di ruang perkuliahan Metode Penelitian Manajemen Pendidikan, kesenjangan ini tampak jelas. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep secara lisan, tetapi gagap ketika diminta menuangkannya dalam bentuk tulisan akademik. Karena itu, pembelajaran menulis tidak bisa hanya mengandalkan teori, melainkan harus dibangun melalui latihan bertahap dan bermakna.

Pendekatan sederhana seperti yang dilakukan Bu Mariah, Guru Bahasa Inggris (dulu ketika saya masih di Tsanawiyah), membiasakan siswa menulis buku harian pribadi menunjukkan bahwa menulis menjadi ringan ketika tekanan dikurangi. Menulis tidak langsung diarahkan pada “karya besar”, tetapi dimulai dari kebiasaan kecil: menulis untuk memahami diri dan materi. Prinsip inilah yang diterapkan dalam desain tugas perkuliahan yang Saya ajarkan, sejak tahun 2021. Tampak pada setiap Buku Bahan ajar:

Caption Dok; Bahan Ajar Metode Penelitian Manajamen Pendidikan tersedia di https://play.google.com/store/books/details/DR_H_A_Rusdiana_M_M_METODE_PENELITIAN_MANAJEMEN_PE?id=maOeEQAAQBAJ&hl=id

Mahasiswa tidak langsung diminta menulis esai panjang. Mereka terlebih dahulu dilatih menganalisis dan mengabstraksikan empat poin penting dari kajian Kerangka Dasar Pengelolaan Sumber Daya Pendidikan Islam: mulai dari kerangka dasar, fungsi pengelolaan, efektivitas penggunaan sumber daya, hingga ruang lingkupnya. Tahap ini melatih keterampilan berpikir kritis dan sitasi fondasi utama menulis akademik.

Langkah berikutnya adalah menemukan esensi dan nilai dari keempat poin tersebut dalam ringkasan singkat. Di sinilah mahasiswa belajar bahwa menulis bukan menyalin, melainkan memaknai. Sejalan dengan pandangan Paulo Freire, literasi sejati bukan kemampuan teknis, tetapi kesadaran kritis terhadap makna.

Menariknya, proses menulis diperluas ke medium visual melalui poster CK untuk presentasi. Tahap ini mengajarkan bahwa gagasan yang baik harus bisa dijelaskan secara ringkas, visual, dan komunikatif. Menulis tidak berdiri sendiri; ia berkelindan dengan berbicara dan menyajikan ide.

Puncaknya, mahasiswa diminta mengolah CK dan poster menjadi esai argumentatif yang dipublikasikan, baik di BeritaDikdik Jabar (Bahasa Indonesia) maupun Kompasiana (Bahasa Inggris). Publikasi mengubah posisi mahasiswa: dari sekadar pengumpul tugas menjadi penulis yang bertanggung jawab pada pembaca nyata. Di titik ini, menulis tidak lagi menjadi beban, tetapi amanah intelektual. Dari praktik ini, setidaknya ada tiga pembelajaran penting;

Pertama, menulis menjadi sulit ketika dipisahkan dari proses berpikir bertahap. Ketika menulis diajarkan sebagai hasil akhir, bukan proses, mahasiswa akan tertekan.

Kedua, menulis menjadi ringan ketika dimulai dari tugas yang otentik, dekat dengan  materi kuliah dan pengalaman belajar.

Ketiga, menulis menjadi bermakna ketika diberi ruang publikasi, karena penulis merasa suaranya dihargai.

Akhirnya, perbedaan antara berbicara dan menulis bukan pada gagasan, melainkan pada disiplin berpikir. Berbicara mengalir, menulis menata. Jika ruang kelas mampu menjadikan menulis sebagai kebiasaan bukan hukuman maka mahasiswa tidak hanya pandai bicara, tetapi juga mampu meninggalkan jejak pemikiran.

Di sinilah komunitas seperti Pena Berkarya Bersama (PBB) menemukan relevansinya: merawat proses, bukan sekadar produk. Menulis bukan bakat langka, melainkan keterampilan yang tumbuh dari latihan, keteladanan, dan keberanian untuk mulai. Wallahu A’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar