![]()
![]()
![]()
![]()
Menulis Memperkuat Sinergi Umat dan Bangsa: Dari Sya’ban Menuju Panen Peradaban
Oleh: A. Rusdiana
Menulis bukan sekadar aktivitas intelektual individual. Ia adalah jembatan sosial yang menghubungkan gagasan, nilai, dan harapan bersama. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, menulis berperan strategis memperkuat sinergi umat dan bangsa—sejalan dengan semangat HAB ke-80 Kementerian Agama yang menegaskan pentingnya kerukunan, integritas, dan pengabdian. Di ruang komunitas literasi seperti Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB)—yang kini memasuki episode ke-83 dengan 2.430 anggota—menulis menjadi energi kolektif untuk merawat dialog dan persatuan.
Bulan Sya’ban selalu hadir sebagai fase sunyi namun menentukan. Para ulama mengibaratkannya sebagai masa menyiram dan merawat amal yang ditanam di Rajab agar Ramadan menjadi musim panen iman yang matang dan bermakna. Spirit ini menegaskan bahwa pertumbuhan ruhani dan sosial tidak lahir dari hiruk-pikuk pencapaian, melainkan dari keberanian merawat niat dan kualitas proses. Memasuki tahun 2026 dan Semester Genap Tahun Pelajaran 2025/2026, refleksi ini menemukan momentumnya—terlebih saat menutup setahun perjalanan menulis di Kompasiana dengan mempertahankan kedudukan Penjelajah (22 Januari 2025–22 Januari 2026), sebagai pijakan menuju Fanatik.
Secara teoretis, peran menulis sebagai penguat sinergi sosial sejalan dengan teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas: ruang publik yang sehat bertumpu pada komunikasi rasional, inklusif, dan beretika. Menulis yang jujur dan bertanggung jawab membuka dialog, meredam polarisasi, dan membangun kepercayaan. Di ranah pendidikan, pendekatan knowledge-building communities (Scardamalia & Bereiter) menekankan bahwa pengetahuan tumbuh melalui kolaborasi, bukan kompetisi semata. Inilah fondasi sinergi umat-bangsa melalui literasi.
Landasan normatif Islam menguatkan arah ini. Al-Qur’an menegaskan: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13). Nabi Muhammad ï·º juga bersabda: “Mukmin yang satu dengan yang lain seperti bangunan yang saling menguatkan” (HR. Bukhari dan Muslim). Menulis, ketika diniatkan sebagai amal, menjadi instrumen ta‘aruf dan ta‘awun—saling mengenal dan saling menolong.
Dari sini, setidaknya terdapat lima pembelajaran operasional:
Pertama, menulis sebagai jembatan dialog; Menulis yang beradab menjembatani perbedaan pandangan, identitas, dan disiplin. Di PBB, dialog lintas latar memperkaya perspektif dan menumbuhkan empati inti sinergi umat dan bangsa.
Kedua, menulis membangun integritas akademik; Di tengah meningkatnya tuntutan akademik, tulisan yang jujur menjadi benteng terhadap plagiarisme dan manipulasi data. Prinsip amanah menjaga kepercayaan publik pada ilmu.
Ketiga, menulis merawat ketahanan sosial; Narasi yang berimbang dan berbasis data menenangkan ruang publik. Ia mencegah disinformasi dan memperkuat kohesi sosial kebutuhan mendesak masyarakat majemuk.
Keempat, menulis menumbuhkan kolaborasi; Literasi kolaboratif mengubah kompetisi menjadi sinergi. Pengetahuan berkembang ketika gagasan disusun bersama, diuji bersama, dan dimanfaatkan bersama.
Kelima, menulis sebagai strategi keberlanjutan peradaban; Konsistensi menulis sebagaimana perjalanan setahun Penjelajah—menjadi investasi jangka panjang. Karya yang berniat lurus melampaui musim popularitas dan meninggalkan jejak kebajikan.
Menjelang Semester Genap 2025/2026, strategi mempertahankan Penjelajah menuju Fanatik dapat dirumuskan sederhana: (1) tetapkan niat pengabdian, (2) jaga disiplin sumber dan etika, (3) pilih isu berdampak, (4) rawat dialog, dan (5) konsisten dalam kualitas. Dengan demikian, menulis bukan hanya menguatkan kapasitas personal, tetapi juga memperkokoh sinergi umat dan bangsa.
Akhirnya, Spirit Sya’ban mengajarkan bahwa panen peradaban lahir dari perawatan yang tekun. Menulis ketika disinergikan dengan etika, kolaborasi, dan niat pengabdian menjadi amal yang menumbuhkan persatuan dan meneguhkan masa depan bersama. Wallahu A'lam.