MENULIS MENATA DIRI, MENUNBUKKAN MIMPI MEMBAGUN PERADABAN

2026-06-05 05:21:23 | Diperbaharui: 2026-06-05 05:23:38
MENULIS MENATA DIRI, MENUNBUKKAN MIMPI MEMBAGUN PERADABAN
Ilustrasi Menulis menata Diri menumbuhkan Mimpi. Sumber dibuat dan dimodifikasi oleh penulis dengan berbantuan teknologi kecerdasan buatan (DALL*E/ChatGPT), Kamis, 05 Juni 2026.

Oleh: A. Rusdiana

(PBB-197 | Pengikut: 2.605 Anggota)

Di era media sosial, banyak orang lebih cepat menemukan kesalahan orang lain dibandingkan memperbaiki dirinya sendiri. Fenomena ini sering memunculkan budaya saling menghakimi, membuka kekurangan sesama, bahkan memperbesar persoalan kecil menjadi konflik yang berkepanjangan. Padahal, di balik hiruk-pikuk dunia digital, masih banyak orang yang sesungguhnya sedang berjuang memperbaiki dirinya melalui belajar, membaca, dan menulis.

Salah satu pengalaman menarik terjadi pada Jumat dini hari (05/06/2026, pukul 02.45 WIB). Dewi, seorang dosen yang sedang menempuh proses akademik menuju jenjang Guru Besar, mengirim pesan sederhana melalui WhatsApp: "Guru Prof., apakah saya bisa menjadi Guru Besar?" Pertanyaan itu mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung harapan, kegelisahan, sekaligus cita-cita yang besar. Jawaban saya saat itu juga sederhana: "Cek saha teu bisa?" (Siapa yang mengatakan tidak bisa?). Sebab, tidak ada Guru Besar yang lahir secara tiba-tiba. Tidak ada karya besar yang muncul tanpa proses panjang. Semua berawal dari kemauan untuk belajar, membaca, menulis, menerima masukan, memperbaiki diri, dan terus bertumbuh dari waktu ke waktu.

Hal serupa terlihat ketika Baiduri membagikan tulisan Kompasiana berjudul Military Secarik Template, https://www.kompasiana.com/baiduri07249/6a1ebfb6ed64157d4f1db442/military-secarik-templete

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, keberanian untuk menulis adalah langkah penting dalam perjalanan intelektual. Setiap tulisan merupakan jejak belajar yang patut dihargai, bukan sekadar objek kritik yang diperbesar kekurangannya.

Secara teoritis, konsep tafakur mengajarkan manusia untuk merenungkan dirinya sendiri, menemukan hikmah kehidupan, dan memperbaiki kekurangannya. Sementara itu, taghaful mengajarkan kebijaksanaan untuk tidak sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi lebih fokus pada pengembangan diri dan kemaslahatan bersama. Namun, masih terdapat kesenjangan antara nilai-nilai tersebut dengan praktik literasi digital yang sering dipenuhi komentar reaktif, perburuan aib, dan perdebatan yang kurang produktif. Tidak sedikit energi yang seharusnya digunakan untuk belajar dan berkarya justru habis untuk mengomentari kehidupan orang lain.

Tulisan ini akan menjelaskan pentingnya menjadikan menulis sebagai sarana tafakur dan taghaful. Sebab, pertanyaan Dewi sesungguhnya tidak dijawab oleh gelar, jabatan, atau popularitas, melainkan oleh proses panjang pembelajaran yang dijalani secara konsisten. Menulis membantu seseorang mengenali dirinya melalui tafakur, sedangkan taghaful mengajarkan untuk tidak menghabiskan energi mencari kekurangan sesama. Dari sinilah lahir budaya literasi yang meneduhkan, memanusiakan manusia, menumbuhkan mimpi, serta perlahan membangun peradaban yang lebih berakhlak. Melalui tulisan ini pentingnya menjadikan menulis sebagai sarana tafakur dan taghaful untuk membangun budaya literasi yang meneduhkan, memperbaiki diri, menumbuhkan mimpi, dan melahirkan peradaban yang lebih berakhlak. Berikut empat pembelajaran yang dapat dipetik dari aktivitas menulis sebagai sarana tafakur dan taghaful:

Pertama: Menulis sebagai Cermin Tafakur Diri; Tafakur mengajarkan manusia untuk lebih banyak bercermin kepada dirinya sendiri daripada sibuk mengomentari kekurangan orang lain. Dalam aktivitas menulis, proses membaca, berpikir, dan merenung menjadi sarana evaluasi diri yang sangat berharga. Penulis yang bertafakur akan lebih fokus memperbaiki kualitas gagasannya dibandingkan mencari kelemahan orang lain. Ia menyadari bahwa setiap tulisan merupakan proses belajar yang tidak pernah selesai. Dari sinilah lahir tulisan yang lebih jujur, reflektif, dan kaya hikmah kehidupan. Menulis bukan sekadar menyampaikan pendapat, melainkan juga membangun kesadaran diri untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Kedua: Taghaful Melatih Kedewasaan Intelektual; Taghaful bukan berarti membiarkan kesalahan, tetapi kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional. Tidak semua kekurangan harus diumumkan dan tidak semua kekeliruan harus diperdebatkan di ruang publik. Dalam komunitas literasi, sikap ini sangat penting agar proses belajar tetap berlangsung sehat dan produktif. Ketika seseorang menulis, ia sedang belajar. Karena itu, yang perlu diperbesar adalah semangat bertumbuh, bukan kesalahan-kesalahan kecil yang masih dapat diperbaiki. Taghaful melatih seseorang untuk menghargai proses orang lain sekaligus menjaga persaudaraan intelektual agar tetap tumbuh dalam suasana saling menguatkan.

Ketiga: Setiap Penulis Sedang Bertumbuh; Pertanyaan Dewi tentang kemungkinan menjadi Guru Besar sesungguhnya mewakili harapan banyak penulis pemula. Demikian pula ketika Baiduri membagikan tulisannya di Kompasiana atau  ketika Rafi menulis refleksi tentang penderitaan yang membentuk manusia terbaik. https://www.kompasiana.com/raffimuhamadfaruq7324/6a082137ed64157f10537f02/mengapa-penderitaan-dapat-membentuk-manusia-terbaik

Semua menunjukkan bahwa setiap orang sedang berada dalam perjalanan intelektualnya masing-masing. Tidak ada karya yang langsung sempurna. Tidak ada penulis besar yang lahir tanpa proses panjang. Menulis adalah perjalanan belajar yang memerlukan ketekunan, kesabaran, kerendahan hati, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri. Karena itu, yang terpenting bukanlah seberapa sempurna tulisan hari ini, tetapi seberapa besar kemauan untuk terus berkembang esok hari.

Keempat: Membangun Peradaban Literasi yang Meneduhkan; Komunitas literasi seperti PBB yang kali ini (Pengikutnya: 2.605 Anggota), sejatinya bukan sekadar tempat berbagi tulisan, tetapi juga ruang belajar akhlak. Semakin banyak seseorang menulis, seharusnya semakin rendah hati, semakin bijaksana, dan semakin menghargai perbedaan. Taghaful mengajarkan toleransi terhadap kekurangan manusia, sedangkan tafakur mengajarkan kesadaran untuk terus belajar. Ketika keduanya bersatu dalam aktivitas menulis, lahirlah budaya literasi yang meneduhkan, mencerahkan, dan menghadirkan manfaat bagi banyak orang. Inilah literasi yang tidak sekadar mengejar sensasi, tetapi juga membangun peradaban. Literasi seperti inilah yang akan mengantarkan seseorang, termasuk Dewi dan para penulis lainnya, menuju kematangan intelektual dan kemuliaan akhlak.

Sinkatnya, menulis sebagai sarana tafakur dan taghaful mengajarkan bahwa kecerdasan sejati bukan terletak pada kemampuan menemukan kesalahan orang lain, melainkan pada kesediaan memperbaiki diri sendiri. Tafakur membantu manusia menemukan hikmah kehidupan melalui perenungan yang mendalam, sedangkan taghaful melatih hati untuk tidak sibuk memburu kekurangan sesama. Pertanyaan Dewi tentang kemungkinan menjadi Guru Besar sesungguhnya memperoleh jawaban melalui proses itu sendiri. Tidak ada keberhasilan yang lahir secara instan. Semua dimulai dari belajar, membaca, menulis, menerima kritik, memperbaiki diri, dan terus bertumbuh. Karena itu, daripada menghabiskan energi mencari-cari aib orang lain, lebih baik menggunakannya untuk menulis, merenung, belajar, dan menebarkan kebaikan. Dari sinilah literasi menjadi jalan menuju kedewasaan spiritual, kematangan intelektual, dan kemuliaan akhlak. Jika Dewi bertanya, "Apakah saya bisa menjadi Guru Besar?" Maka jawabannya: teruslah belajar, teruslah menulis, teruslah memperbaiki diri, dan jangan pernah berhenti bertumbuh. Wallahu A’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar