Menulis Merawat Ketahanan Sosial: Dari Sya’ban Menuju Panen Peradaban
Oleh: A. Rusdiana
Menulis tidak pernah netral. Ia bisa menjadi jembatan yang menenangkan, atau sebaliknya memicu kegaduhan. Dalam konteks masyarakat majemuk, menulis yang berimbang dan berbasis data adalah ikhtiar merawat ketahanan sosial. Tema ini menemukan momentumnya di bulan Sya’ban fase menyiram dan merawat amal yang ditanam di Rajab agar Ramadan menjadi panen iman yang matang dan bermakna serta saat menyongsong Pembelajaran Semester Genap 2025/2026. Di sinilah menulis diuji: apakah ia memperkuat kohesi, atau justru memperlemah kepercayaan publik.
Dalam teori ruang publik, Jürgen Habermas menegaskan pentingnya komunikasi rasional dan berbasis argumen agar masyarakat mampu membangun konsensus tanpa kekerasan. Sementara Cass Sunstein mengingatkan bahaya echo chambers ruang gema yang mengunci publik dalam pandangan sepihak. Menulis yang bertanggung jawab menjadi penawar: menyajikan konteks, data, dan empati agar ruang publik tetap sehat.
Islam menguatkan fondasi ini. Al-Qur’an menegaskan, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka telitilah (tabayyun)” (QS. Al-Hujurat: 6). Nabi SAW pun bersabda, “Cukuplah seseorang disebut berdusta jika ia menceritakan setiap yang ia dengar” (HR. Muslim). Dua dalil ini menempatkan kehati-hatian informasi sebagai pilar ketahanan sosial.
Dari perspektif praksis menulis, setidaknya ada lima pembelajaran utama yang relevan bagi komunitas literasi termasuk Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki episode ke-86, dengan basis 2.434 anggota yang terus bertumbuh.
Pertama, narasi berimbang menenangkan ruang publik; Tulisan yang memotret banyak sisi, menyertakan data, dan menghindari generalisasi kasar membantu publik memahami persoalan tanpa emosi berlebihan. Ini sejalan dengan constructive journalism yang menekankan solusi dan konteks, bukan sensasi.
Kedua, tabayyun adalah etika literasi digital; Di era kecepatan, menahan diri untuk verifikasi adalah keberanian. Praktik tabayyun mencegah disinformasi menyebar dan menjaga kepercayaan sosial aset penting masyarakat majemuk.
Ketiga, empati memperkuat kohesi; Menulis yang berempati mengakui kompleksitas pengalaman membangun jembatan antarkelompok. Dalam teori social cohesion, empati adalah perekat yang membuat perbedaan tidak berubah menjadi konflik.
Keempat, konsistensi nilai melahirkan kredibilitas; Ketahanan sosial dibangun oleh penulis yang konsisten: jujur pada data, adil pada fakta, santun pada bahasa. Konsistensi ini menumbuhkan trust modal sosial yang menentukan.
Kelima, menulis sebagai amal berkelanjutan; Spirit Sya’ban mengajarkan perawatan amal kecil namun rutin. Menulis yang istiqamah meski sunyi menjadi sedekah pengetahuan yang dampaknya lintas waktu.
Kelima pembelajaran ini kian relevan menjelang Semester Genap 2025/2026, ketika ekosistem pendidikan menghadapi materi yang lebih kompleks dan tekanan informasi yang meningkat. Di sini, tulisan-tulisan edukatif berperan sebagai buffer—penyangga sosial—yang menjaga nalar publik tetap jernih.
Bagi penulis yang menapaki jalur Kompasiana, strategi mempertahankan kedudukan Penjelajah menuju Fanatik bertumpu pada kualitas, bukan kuantitas semata: topik yang kontekstual, rujukan yang sahih, dan bahasa yang meneduhkan. Konsistensi inilah yang membangun reputasi jangka panjang.
Refleksi ini juga bersentuhan dengan praktik akademik. Membimbing penulisan disertasi hampir tiga tahun (sejak SK 31 Maret 2022) menegaskan bahwa ketahanan intelektual lahir dari proses: ketekunan, koreksi diri, dan kejujuran metodologis. Nilai-nilai yang sama berlaku dalam menulis di ruang public bahwa kebenaran tumbuh melalui disiplin dan adab.
Pada akhirnya, menulis adalah kerja peradaban. Dari Sya’ban menuju Ramadan, dari literasi menuju kohesi, tulisan yang berimbang dan bertanggung jawab merawat ketahanan sosial. Ia menenangkan ruang publik, memperkuat persaudaraan, dan menyiapkan panen peradaban yang beriman serta berkeadaban. Wallahu A’lam.