Menjadi relawan bencana sering dipersepsikan sebagai kerja kemanusiaan yang penuh makna. Namun di balik itu, ada realitas yang jarang dibicarakan secara terbuka: tekanan fisik, emosional, dan mental yang nyata—terutama ketika relawan harus menjalani double bahkan multiple job lintas sektor.
Di lapangan, relawan bisa berpindah dari WASH ke logistik, dari medis ke psikososial, lalu malamnya membantu datin dan akomodasi. Fleksibilitas ini menyelamatkan operasi, tetapi sekaligus menjadi sumber tekanan jika tidak dikelola dengan baik.
Tekanan yang Sering Dialami Relawan
Berbagai studi kebencanaan menunjukkan bahwa relawan memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan dan distress psikologis.
Data dari WHO dan International Federation of Red Cross (IFRC) mencatat bahwa:
-
30–40% relawan respon bencana mengalami gejala kelelahan emosional (emotional exhaustion),
-
sekitar 20% menunjukkan tanda stres pascatrauma ringan hingga sedang, terutama pada respon bencana berulang dan jangka panjang.
Tekanan ini berasal dari beberapa sumber utama:
1. Beban Peran yang Tumpang Tindih
Perpindahan sektor cepat, kurangnya waktu istirahat, dan tuntutan adaptasi membuat relawan sulit memulihkan energi.
2. Paparan Cerita dan Situasi Traumatik
Relawan psikososial, medis, dan logistik sama-sama terpapar kisah kehilangan, duka, dan penderitaan penyintas—yang dapat memicu secondary traumatic stress.
3. Tekanan Moral
Relawan sering dihadapkan pada dilema: keterbatasan bantuan versus kebutuhan yang sangat besar. Kondisi ini memicu moral distress.
4. Kurangnya Dukungan Diri
Banyak relawan lebih fokus “menguatkan orang lain” tetapi mengabaikan kondisi dirinya sendiri.
Multi-Peran Tanpa Coping = Risiko Burnout
Fleksibilitas tanpa strategi coping hanya akan mempercepat kelelahan. Penelitian menunjukkan bahwa relawan yang tidak memiliki mekanisme coping yang baik:
-
lebih cepat mengalami burnout,
-
cenderung menarik diri dari aktivitas kemanusiaan,
-
berisiko menurunkan kualitas pelayanan.
Ini bukan soal mental yang lemah, tetapi beban yang terlalu lama dipikul tanpa ruang pemulihan.
Strategi Coping yang Relevan di Lapangan
Coping bagi relawan bukan konsep teoritis, tetapi praktik sederhana yang realistis.
1. Coping Individu: Kenali Batas Diri
-
Menyadari tanda awal lelah: mudah marah, sulit fokus, kelelahan ekstrem.
-
Berani mengatakan “butuh jeda” tanpa rasa bersalah.
-
Menjaga kebutuhan dasar: makan, minum, tidur.
2. Coping Tim: Normalisasi Bicara Tentang Lelah
Tim yang sehat adalah tim yang mengizinkan anggotanya mengakui kelelahan. Briefing dan debriefing singkat setiap hari terbukti menurunkan tekanan psikologis relawan hingga 25–30%.
3. Coping Peran: Jelas Kapan Membantu, Kapan Menjaga
Relawan membantu sektor lain sesuai kapasitas, bukan memaksakan diri. Ini penting untuk mencegah kesalahan dan kelelahan berlebih.
4. Coping Spiritual dan Makna
Banyak relawan menemukan kekuatan dari doa, refleksi, dan makna pengabdian. Studi di konteks Asia menunjukkan bahwa coping berbasis spiritual meningkatkan daya tahan psikologis relawan secara signifikan.
Mengelola Tekanan adalah Bagian dari Profesionalisme
Mengakui tekanan bukan tanda lemah, tetapi tanda profesional. Respon bencana yang berkelanjutan membutuhkan relawan yang sehat secara fisik dan mental.
Organisasi dan koordinator lapangan memiliki peran penting:
-
mengatur rotasi tugas,
-
memastikan waktu istirahat,
-
menyediakan ruang aman untuk berbagi.
Tanpa itu, relawan akan habis lebih cepat daripada logistik.
Penutup: Relawan Juga Manusia
Relawan bukan mesin, bukan superhero, dan bukan tanpa batas. Mereka adalah manusia yang bekerja di situasi luar biasa.
Multi-peran memang tak terhindarkan, tetapi coping yang baik membuat relawan tetap bertahan—bukan hanya selama respon bencana, tetapi juga setelahnya.