Aceh Hari Ini: Bicara Kesehatan Reproduksi di Panti

2026-01-27 20:02:38 | Diperbaharui: 2026-01-27 20:34:02
Aceh Hari Ini: Bicara Kesehatan Reproduksi di Panti
Panti Asuhan dan SMP Muhammadiyah Gandapura, Kab. Bireun

Topik kesehatan reproduksi sering kali dianggap tabu, terutama ketika menyasar anak dan remaja. Padahal, justru di fase inilah pemahaman yang benar sangat dibutuhkan. Tanpa informasi yang tepat, remaja rentan pada misinformasi, perilaku berisiko, dan kekerasan berbasis relasi kuasa.

Hari ini, kegiatan edukasi kesehatan dalam rangka respon kemanusiaan di Aceh berlanjut ke Panti Asuhan dan SMP Muhammadiyah Gandapura, Kab. Bireun. Dua sesi digelar secara terpisah: sesi pertama untuk siswa, dan sesi kedua untuk guru. Keduanya saling melengkapi—karena edukasi remaja tidak akan efektif tanpa kesiapan orang dewasa di sekitarnya.


Remaja, Tubuh, dan Pertanyaan yang Sering Dipendam

Dalam sesi bersama siswa, pendekatan yang digunakan sederhana: bahasa yang aman, ilmiah, dan tidak menghakimi. Remaja diajak memahami bahwa perubahan tubuh yang mereka alami adalah bagian dari proses tumbuh kembang, bukan sesuatu yang memalukan.

Materi yang dibahas antara lain:

  • perubahan fisik dan emosional pada masa pubertas,

  • pentingnya menjaga kebersihan diri,

  • batasan tubuh dan konsep consent,

  • serta cara mencari bantuan jika merasa tidak aman.

Data nasional menunjukkan bahwa sebagian besar remaja Indonesia masih memiliki pemahaman yang terbatas tentang kesehatan reproduksi. Survei Kesehatan Remaja Indonesia mencatat bahwa lebih dari 50% remaja mendapatkan informasi reproduksi dari teman sebaya atau internet, bukan dari guru atau orang tua. Ini membuat ruang sekolah menjadi sangat strategis untuk menghadirkan informasi yang benar.


Ruang Aman untuk Bertanya

Yang menarik, begitu suasana terasa aman, pertanyaan-pertanyaan pun mulai muncul. Bukan pertanyaan sensasional, melainkan kegelisahan sehari-hari yang selama ini disimpan sendiri.

Di sinilah pentingnya pendekatan edukatif yang tidak menggurui. Remaja tidak butuh ceramah panjang; mereka butuh ruang aman untuk bertanya dan didengar.


Sesi Guru: Menguatkan Peran sebagai Pendamping

Sesi kedua difokuskan pada guru. Karena pada akhirnya, guru adalah pihak yang paling sering berinteraksi dengan siswa setelah orang tua.

Dalam sesi ini, dibahas:

  • bagaimana menyampaikan materi kesehatan reproduksi secara tepat usia,

  • cara merespons pertanyaan sensitif siswa,

  • tanda-tanda awal kerentanan remaja terhadap kekerasan atau perilaku berisiko,

  • serta pentingnya kebijakan sekolah yang melindungi anak.

Guru juga diajak memahami bahwa pendidikan kesehatan reproduksi bukan mengajarkan perilaku, melainkan memberi pengetahuan agar remaja mampu menjaga diri.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip perlindungan anak dan pendidikan berperspektif kesehatan masyarakat.


Panti Asuhan dan SMP Muhammadiyah Gandapura, Kab. Bireun 

Panti Asuhan: Perhatian Lebih untuk Anak Tanpa Pendamping Utama

Edukasi di panti asuhan memiliki tantangan tersendiri. Anak-anak di panti sering kali tidak memiliki figur orang tua yang bisa menjadi tempat bertanya. Karena itu, institusi pengasuhan dan sekolah memegang peran ganda: pendidik sekaligus pelindung.

Memberikan pemahaman kesehatan reproduksi di lingkungan ini bukan hanya penting, tetapi mendesak—sebagai upaya pencegahan kekerasan dan eksploitasi, sekaligus penguatan kepercayaan diri anak.


Dari Aceh, Kita Belajar Kembali

Kegiatan hari ini mengingatkan kita bahwa respon kemanusiaan tidak selalu identik dengan bantuan darurat. Edukasi adalah bagian dari pemulihan jangka panjang.

Membicarakan kesehatan reproduksi secara terbuka, ilmiah, dan bermartabat adalah langkah kecil yang berdampak besar. Dari ruang kelas SMP Muhammadiyah Gandapura hingga panti asuhan, upaya ini adalah bagian dari ikhtiar melindungi generasi muda.

Kesehatan reproduksi bukan isu tabu. Ia adalah bagian dari hak anak dan remaja untuk tumbuh sehat, aman, dan berdaya.

Aceh hari ini kembali mengajarkan kita satu hal:
bahwa melindungi masa depan dimulai dari keberanian berbicara dengan cara yang tepat.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar