Santri, Emosi, dan Pemulihan: Aceh Hari Ini

2026-01-26 06:36:03 | Diperbaharui: 2026-01-26 06:36:03
Santri, Emosi, dan Pemulihan: Aceh Hari Ini
ustadzah dan kader meunasah bareng MDMC PWM DKI

Bencana tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum. Ia juga menyisakan sesuatu yang sering luput terlihat: emosi anak-anak. Tak selalu berupa tangisan, kadang justru diam, gelisah, mudah marah, atau sulit berkonsentrasi.

Itulah yang kami rasakan saat mengisi sesi konseling di TPA Gampong Cot Seurani, Aceh. Bertempat di meunasah kampung, sekitar 80 santri berkumpul—anak-anak yang sehari-harinya belajar mengaji, kini diajak belajar sesuatu yang tak kalah penting: mengenali emosi untuk mengendalikan diri.


Meunasah, Ruang Aman untuk Belajar dan Pulih

Meunasah bukan sekadar tempat ibadah. Di Aceh, ia adalah ruang sosial, ruang belajar, dan ruang pemulihan. Menggelar sesi konseling di meunasah memberi pesan sederhana tapi kuat: belajar tentang emosi juga bagian dari ikhtiar keimanan.

Anak-anak duduk bersila, sebagian masih malu-malu, sebagian lain tampak antusias. Tidak ada tes, tidak ada ceramah panjang. Yang ada adalah cerita, tanya jawab, dan permainan sederhana yang membantu mereka menyebutkan perasaan yang sering mereka alami.


“Marah Itu Boleh, Tapi Harus Tahu Caranya”

Topik sesi kali ini adalah “Kenali Emosi untuk Kendali Diri.”
Pesan utamanya sederhana:

  • Emosi itu manusiawi

  • Marah, takut, sedih, dan senang adalah hal yang wajar

  • Yang penting adalah bagaimana kita mengenal dan mengelolanya

Anak-anak diajak mengenali:

  • Kapan mereka merasa marah

  • Apa yang biasanya mereka lakukan saat kesal

  • Bagaimana cara menenangkan diri tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain

Dengan bahasa yang sederhana, kami mengajak mereka memahami bahwa mengendalikan diri bukan berarti menekan emosi, tetapi mengenalnya lebih dulu.


Konseling Bukan untuk “Anak Bermasalah”

Salah satu stigma yang masih sering muncul adalah anggapan bahwa konseling hanya untuk anak yang “bermasalah”. Padahal, dalam konteks pascabencana, konseling justru bagian dari pencegahan.

Anak-anak yang mampu mengenali emosinya:

  • lebih mudah beradaptasi

  • lebih jarang meluapkan emosi secara agresif

  • lebih siap menghadapi perubahan

Sesi ini bukan untuk mengorek luka, tetapi membangun ketahanan emosi sejak dini.


Santri, Emosi, dan Nilai Keislaman

Pendekatan yang digunakan tidak lepas dari nilai keislaman. Anak-anak diajak memahami bahwa:

  • Rasulullah mencontohkan kelembutan dalam marah

  • Menahan amarah adalah kekuatan, bukan kelemahan

  • Menjaga hati adalah bagian dari menjaga diri

Dengan pendekatan ini, pesan tentang kesehatan mental tidak terasa asing. Ia menyatu dengan nilai yang sudah mereka kenal.


Dari Aceh, Kita Belajar Lagi

Sesi konseling di TPA Gampong Cot Seurani mungkin terlihat sederhana. Tidak ada alat canggih, tidak ada panggung besar. Namun di situlah letak kekuatannya.

Bagi kami, kegiatan ini kembali menegaskan bahwa respon bencana tidak cukup hanya dengan logistik dan layanan fisik. Kesehatan mental, terutama anak, adalah fondasi pemulihan jangka panjang.


Penutup: Aceh Hari Ini dan Harapan Esok Hari

Aceh hari ini mengajarkan kami satu hal penting:
bahwa membangun kembali tidak selalu dimulai dari tembok dan atap, tetapi dari hati yang tenang dan emosi yang dikenali.

Jika 80 santri hari ini belajar menyebutkan perasaannya, mungkin esok mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih mampu mengelola diri—apa pun tantangan yang mereka hadapi.

Dan dari meunasah kecil di Gampong Cot Seurani, harapan itu kembali disemai.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar