Sumber: Ilustrasi digitalmenulis sebagai jembatan dialog dari Sya’ban menuju panen peradaban (dibuat dengan berbantuan AI-generated 26 Januari 2026)
Menulis sebagai Jembatan Dialog: Menyiram Amal Literasi dari Sya’ban Menuju Panen Peradaban
Oleh: A. Rusdiana
Menulis menyiapkan masa depan bukan sekadar jargon akademik, melainkan panggilan etis bagi insan intelektual. Dalam suasana Isra Mi’raj 1447 H, peringatan HAB Kementerian Agama ke-80, serta awal Tahun 2026 yang beriringan dengan kesiapan Pembelajaran Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, menulis perlu ditempatkan sebagai amal jariyah intelektual. Refleksi ini kian personal ketika menengok perjalanan setahun mempertahankan kedudukan Penjelajah di Kompasiana—sebuah fase belajar konsistensi, kerendahan hati, dan tanggung jawab publik—menuju tahapan Fanatik yang menuntut kedalaman dan keteladanan.
Di tengah meningkatnya polarisasi sosial, fragmentasi wacana, dan banalitas ujaran di ruang digital, menulis yang beradab berfungsi sebagai jembatan dialog. Ia menghubungkan perbedaan pandangan, identitas, dan latar keilmuan; bukan untuk menyeragamkan, melainkan untuk saling memahami. Dalam kerangka teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas, ruang publik yang sehat hanya mungkin tumbuh melalui komunikasi rasional, inklusif, dan beretika. Menulis yang bertanggung jawab membuka ruang dialog, meredam prasangka, dan membangun kepercayaan—modal sosial yang krusial bagi sinergi umat dan bangsa.
Di ranah pendidikan dan komunitas literasi, pendekatan knowledge-building communities (Scardamalia & Bereiter) menegaskan bahwa pengetahuan berkembang melalui kolaborasi, bukan kompetisi semata. Prinsip ini menemukan aktualisasinya dalam Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki Episode ke-84 dengan 2.431 anggota. Dialog lintas latar pendidik, praktisi, peneliti, dan pegiat literasi membuktikan bahwa menulis dapat menjadi ruang saling belajar, saling mengoreksi, dan saling menguatkan.
Landasan normatif Islam memperdalam makna tersebut. Al-Qur’an menegaskan tujuan keberagaman sebagai ruang saling mengenal: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13). Nabi Muhammad ï·º juga bersabda, “Mukmin yang satu dengan yang lain seperti bangunan yang saling menguatkan” (HR. Bukhari dan Muslim). Menulis, ketika diniatkan sebagai amal, menjadi instrumen ta‘aruf (saling mengenal) dan ta‘awun (saling menolong).
Sejalan dengan ungkapan para filsuf Muslim bahwa “Sya’ban adalah bulan menyiram dan merawat amal yang ditanam di Rajab, agar Ramadan menjadi musim panen iman yang matang dan bermakna”, menulis di fase ini adalah proses penyiraman: sunyi, konsisten, dan menentukan. Dari sini, setidaknya terdapat lima pembelajaran operasional tentang menulis sebagai jembatan dialog.
Pertama, menulis menuntut adab sebelum argumentasi. Dialog yang sehat lahir dari niat meluruskan, bukan memenangkan. Adab menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Kedua, menulis mengajarkan empati kognitif. Dengan membaca dan merespons gagasan orang lain secara jujur, penulis belajar melihat dunia dari sudut pandang berbeda inti dari sinergi sosial.
Ketiga, menulis melatih disiplin rasional. Argumentasi berbasis data dan rujukan memperkuat kepercayaan publik, sekaligus membedakan kritik yang mencerahkan dari serangan personal.
Keempat, menulis memperluas kolaborasi lintas disiplin. Di PBB, dialog antarbidang memperkaya solusi atas persoalan nyata umat dan bangsa, dari pendidikan hingga etika digital.
Kelima, menulis menjaga keberlanjutan peran intelektual. Konsistensi menulis—seperti perjalanan Penjelajah menuju Fanatik—adalah strategi menjaga integritas, relevansi, dan kontribusi jangka panjang di ruang publik.
Menyongsong Semester Genap 2025/2026, menulis sebagai jembatan dialog perlu diinternalisasi sebagai budaya akademik dan sosial. Ia bukan sekadar produk kata, melainkan proses pembentukan watak publik. Dari Sya’ban menuju Ramadan, dari refleksi menuju aksi, menulis menemukan maknanya yang paling dalam: merawat peradaban melalui dialog yang beradab, demi masa depan yang lebih bermakna bagi umat dan bangsa. Wallahu A'lam