Cara Kita Bicara Menentukan Cara Pikir Mereka: Catatan dari Aceh

2026-01-28 07:35:05 | Diperbaharui: 2026-01-28 07:35:05
Cara Kita Bicara Menentukan Cara Pikir Mereka: Catatan dari Aceh
SMP Muhammadiyah Gandapura 

Pernah memperhatikan bagaimana anak berbicara? Pilihan katanya, intonasinya, bahkan cara mereka menyela atau merespons—sering kali terasa sangat familiar. Bukan kebetulan. Anak berbicara sebagaimana mereka mendengar.

Dalam ilmu perkembangan anak, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi alat pembentuk cara berpikir dan bersikap. Cara orang dewasa berbicara kepada anak—di rumah, sekolah, maupun ruang publik—akan menjadi cetakan awal tentang “beginilah cara berbicara yang benar”.

Masalahnya, kita sering lupa bahwa anak meniru, bukan menafsirkan niat kita.


Anak Bukan Sekadar Pendengar, Mereka Peniru Aktif

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak belajar bahasa dan pola komunikasi melalui observational learning. Studi dari Harvard Center on the Developing Child menegaskan bahwa interaksi verbal yang berkualitas sejak dini berpengaruh langsung pada perkembangan kognitif, regulasi emosi, dan kemampuan sosial anak.

Anak tidak hanya menyerap apa yang kita katakan, tetapi juga:

  • bagaimana kita mengatakannya,

  • apakah kita memberi ruang dialog atau hanya perintah,

  • apakah kita mendengarkan atau memotong pembicaraan.

Jika komunikasi yang mereka terima bersifat satu arah, keras, atau tidak reflektif, anak akan menganggap itulah bentuk komunikasi yang wajar.


Bahaya Komunikasi Searah dan Tidak Cerdas

Komunikasi searah—hanya menyuruh, melarang, atau menghakimi—sering dianggap efektif karena “anak langsung menurut”. Namun dalam jangka panjang, pendekatan ini menyimpan risiko.

Data UNICEF menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan komunikasi otoriter cenderung:

  • kurang mampu mengekspresikan pendapat secara sehat,

  • lebih impulsif atau sebaliknya sangat pasif,

  • kesulitan mengelola emosi dan konflik sosial.

Ketika orang dewasa berbicara tanpa memberi ruang berpikir, anak belajar satu hal: suara mereka tidak penting.

Lebih jauh lagi, jika bahasa yang digunakan kasar, merendahkan, atau tidak logis, anak akan meniru pola itu saat berinteraksi dengan teman sebaya—yang kemudian kita label sebagai “anak tidak sopan” atau “suka membantah”.

Padahal, sering kali mereka hanya mencontoh apa yang mereka lihat setiap hari.


Anak Mengira Itulah Cara yang Benar

Inilah poin krusialnya:
anak tidak punya pembanding.

Jika sejak kecil mereka terbiasa dengan komunikasi:

  • penuh teriakan,

  • minim dialog,

  • tanpa penjelasan rasional,

maka mereka akan mengira itulah cara normal berkomunikasi. Mereka tidak tahu bahwa ada cara lain yang lebih sehat, empatik, dan cerdas.

Dalam konteks ini, anak bukan “bandel”, tetapi konsisten dengan apa yang dipelajari.


SMP Muhammadiyah Gandapura

Bicara Dua Arah: Investasi Kesehatan Mental Anak

Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa anak yang terbiasa dengan komunikasi dua arah—di mana pendapatnya didengar dan dihargai—memiliki:

  • kemampuan regulasi emosi yang lebih baik,

  • kepercayaan diri yang sehat,

  • risiko perilaku agresif yang lebih rendah.

Berbicara dua arah tidak berarti selalu menuruti anak. Ia berarti:

  • menjelaskan alasan,

  • mengajak anak berpikir,

  • memberi contoh cara menyampaikan pendapat tanpa menyakiti orang lain.

Kalimat sederhana seperti “Menurut kamu gimana?” atau “Kenapa kamu merasa begitu?” memberi pesan kuat bahwa berpikir dan berbicara itu penting.


Anak Belajar Bahasa, Anak Belajar Akhlak

Bahasa adalah pintu masuk akhlak/perilaku. Cara kita berbicara akan memengaruhi:

  • cara anak menyelesaikan konflik,

  • cara mereka menyampaikan ketidaksetujuan,

  • cara mereka memperlakukan orang yang lebih lemah.

Jika kita ingin anak berbicara dengan sopan, rasional, dan empatik, kita harus lebih dulu mencontohkannya—bukan hanya menuntutnya.


Penutup: Anak Adalah Cermin, Bukan Rekaman Rusak

Ketika anak berbicara dengan cara yang tidak kita sukai, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “Kenapa anak ini begitu?”, tetapi juga “Apa yang selama ini ia dengar?”

Anak adalah cermin dari lingkungan komunikasinya.
Jika kita ingin anak berbicara dengan cerdas, maka cara kita berbicara kepada merekalah yang harus lebih dulu cerdas.

Karena pada akhirnya, anak tidak tumbuh dari nasihat panjang, tetapi dari contoh yang mereka dengar setiap hari.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar