Anak-anak sering kali tidak mengekspresikan pengalaman traumatis dengan kata-kata. Mereka mengekspresikannya lewat perilaku: lebih pendiam, mudah marah, sulit tidur, atau takut saat malam datang.
Itulah sebabnya, dalam sesi konseling di TPA Gampong Cot Seurani, Aceh, pendekatan yang dipilih bukan ceramah panjang, melainkan bermain sambil belajar. Bertempat di meunasah, santri diajak mengikuti sesi edukasi psikososial yang ringan, menyenangkan, dan aman bagi anak.
Bermain Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Terapi
Berbagai studi menunjukkan bahwa pendekatan play-based learning efektif membantu anak pascabencana untuk:
-
mengenali emosi,
-
mengekspresikan rasa takut dan cemas,
-
serta membangun kembali rasa aman.
Intervensi psikososial berbasis permainan dapat menurunkan gejala stres pada anak hingga 30–40% dalam beberapa minggu pertama pascakejadian krisis, terutama jika dilakukan di ruang yang familiar dan aman—seperti sekolah atau tempat ibadah.
Meunasah, dalam konteks Aceh, menjadi ruang yang tepat: dekat secara budaya, aman secara emosional.
“Kalau Takut Malam Hari, Baca Al-Fatihah”
Dalam sesi interaktif, anak-anak diajak bercerita tentang perasaan mereka. Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika fasilitator bertanya, “Kalau merasa takut, biasanya adik-adik ngapain?”
Salah satu santri menjawab polos namun penuh makna:
“Kalau takut malam hari, baca Al-Fatihah.”
Kalimat sederhana ini menjadi pintu masuk penting. Anak-anak kemudian diajak memahami bahwa menenangkan diri bisa dilakukan dengan cara yang sehat—melalui doa, napas dalam, bercerita pada orang dewasa, atau menjauh dari situasi yang membuat tidak nyaman.
Pendekatan ini menguatkan pesan bahwa iman dan kesehatan mental bisa berjalan beriringan.
Belajar Mengenali Emosi dan Respon Kekerasan
Selain pengenalan emosi dasar (senang, sedih, marah, takut), sesi ini juga membahas hal yang sering luput dibicarakan dengan anak: respon terhadap kekerasan dan pencegahan bullying.
Dengan bahasa sederhana dan contoh sehari-hari, anak-anak diajak memahami:
-
apa itu perlakuan yang menyakiti (fisik maupun verbal),
-
perbedaan bercanda dan membully,
-
serta apa yang harus dilakukan jika mengalami atau melihat kekerasan.
Anak-anak diajarkan respon aman:
-
berkata “tidak”,
-
menjauh dari pelaku,
-
dan berani melapor kepada orang dewasa yang dipercaya.
Data nasional menunjukkan bahwa lebih dari 1 dari 3 anak Indonesia pernah mengalami kekerasan atau perundungan, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan bermain. Edukasi dini seperti ini menjadi langkah preventif yang sangat penting.
Belajar Kendali Diri, Sejak Dini
Melalui permainan, diskusi kelompok kecil, dan simulasi ringan, anak-anak belajar bahwa:
-
marah itu boleh,
-
takut itu manusiawi,
-
tetapi melukai orang lain bukan solusi.
Kegiatan ini tidak bertujuan menjadikan anak “selalu kuat”, melainkan membekali mereka cara yang sehat untuk merespons situasi sulit.
Dari Meunasah, Kita Menanam Ketahanan
Kegiatan ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun dampaknya bisa jauh lebih panjang. Anak yang mampu mengenali emosi dan memahami batasan diri akan lebih siap menghadapi tekanan—baik hari ini maupun di masa depan.
Respon bencana yang utuh memang tidak berhenti pada logistik dan layanan fisik. Pemulihan psikososial anak adalah investasi jangka panjang.
CTA: Mari Hadir untuk Anak-Anak Pascabencana
Pemulihan anak pascabencana membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Mari kita:
-
mendukung program psikososial berbasis komunitas,
-
membuka ruang aman bagi anak untuk bercerita,
-
dan memastikan isu bullying serta kekerasan tidak dianggap sepele.
Jika Anda bagian dari pendidik, relawan, tenaga kesehatan, atau komunitas—anak-anak membutuhkan kehadiran kita, bukan hanya hari ini, tapi secara berkelanjutan.