Menulis sebagai Pengabdian Umat: Tanggung Jawab Profesi Intelektual di Era Sinergi dan Integritas
Oleh: A. Rusdiana
Di tengah arus informasi yang deras pada awal Tahun 2026 dan memasuki Semester Genap Tahun Pelajaran 2025/2026, aktivitas menulis tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar ekspresi individual atau pemenuhan kewajiban akademik. Dalam komunitas literasi seperti Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki episode ke-78 dengan 2.423 anggota menulis telah berkembang menjadi ruang pengabdian umat, tempat gagasan bertemu realitas sosial dan tanggung jawab profesi diuji secara nyata.
Momentum Isra Mi’raj 1447 H, yang masih berada dalam suasana Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-80 bertema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, memberikan kerangka spiritual yang kuat untuk memaknai ulang aktivitas menulis. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kenaikan derajat (mi’raj) tidak berhenti pada pengalaman personal Nabi Muhammad ï·º, melainkan berujung pada misi sosial: membawa perintah shalat dan membangun tatanan umat yang beradab. Dalam analogi intelektual, menulis adalah mi’raj gagasan yang harus kembali ke bumi sebagai solusi nyata bagi persoalan umat.
Menulis, Realitas Sosial, dan Etika Profesi
Dalam konteks profesi akademik, menulis adalah bentuk tanggung jawab intelektual. Jürgen Habermas, melalui teori tindakan komunikatif, menegaskan bahwa komunikasi ilmiah seharusnya diarahkan pada pencapaian pemahaman bersama dan kemaslahatan publik, bukan sekadar kepentingan pribadi atau simbolik. Menulis yang berangkat dari realitas sosial, tentang kebijakan pendidikan, penguatan keluarga, atau literasi keagamaan menjadi medium pengabdian yang konkret.
Al-Qur’an menegaskan, “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah: 105). Ayat ini menempatkan karya termasuk tulisan sebagai amal yang memiliki dimensi spiritual dan sosial sekaligus. Rasulullah ï·º juga bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Dengan demikian, ukuran keberhasilan menulis bukan hanya pada jumlah publikasi, tetapi pada dampak kemanusiaannya.
Refleksi ini semakin terasa saat menghadiri silaturrahmi komunitas alumni Fakultas Ushuluddin angkatan 1987 di Cijeunjing, Ciamis, pada 17 Januari 2026. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa gagasan akademik akan kehilangan makna jika tidak bersentuhan dengan realitas umat: persoalan keluarga, pendidikan anak, harmoni sosial, dan tantangan moral di era digital. Berikut empat Pembelajaran Utama: Menulis sebagai Pengabdian Umat:
Pertama, menulis adalah amanah profesi; Dalam etika akademik modern, integritas menjadi standar utama. Menulis harus jujur secara metodologis dan tulus secara niat, agar ilmu tidak berubah menjadi alat manipulasi atau pencitraan.
Kedua, menulis harus berangkat dari realitas sosial; Tulisan yang lahir dari denyut kehidupan umat lebih berpotensi menjadi solusi praktis baik dalam kebijakan pendidikan, penguatan keluarga, maupun literasi keagamaan yang meneduhkan.
Ketiga, menulis adalah sarana sinergi dan rekonsiliasi; Sejalan dengan tema HAB ke-80, tulisan yang baik mampu menjembatani perbedaan, merawat kerukunan, dan memperkuat persatuan, bukan memperlebar polarisasi.
Keempat, menulis menuntut tanggung jawab jangka panjang; Di tahun 2026, standar integritas akademik semakin tinggi. Setiap tulisan meninggalkan jejak intelektual yang akan memengaruhi cara berpikir generasi berikutnya. Karena itu, menulis adalah investasi peradaban.
Singkatnya, menulis sebagai pengabdian umat adalah panggilan moral bagi para intelektual, pendidik, dan anggota komunitas literasi seperti PBB. Dalam suasana Isra Mi’raj 1447 H, HAB Kemenag ke-80, dan awal Tahun 2026, menulis tidak boleh berhenti sebagai aktivitas teknis. Ia harus menjadi amal jariyah intelektual—menghubungkan ilmu dengan realitas, profesi dengan pengabdian, dan gagasan dengan kemaslahatan umat. Di situlah menulis menemukan makna tertingginya: bukan sekadar dibaca, tetapi dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Wallahu A’lam