MENULIS SEBAGAI SINERGI TEKNOLOGI DAN SILATURRAHMI

2026-01-18 08:53:02 | Diperbaharui: 2026-01-18 08:53:13
MENULIS SEBAGAI SINERGI TEKNOLOGI DAN SILATURRAHMI
Sumber: Doc. Pribadi Di sela menhadri udangan Pernikahan saat menunggu Acara resepsi jam 11.00 (Cijeungjing, 17 Januari 2025)

Menulis sebagai Sinergi Teknologi dan Silaturrahmi: Tanggung Jawab Profesi Intelektual di Era Kolaborasi Digital

Oleh: A. Rusdiana

Menulis di era digital tidak lagi dapat dipahami sebagai aktivitas individual yang terisolasi. Dalam konteks komunitas literasi seperti Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki episode ke-77 dengan 2.422 anggota menulis justru menjadi ruang perjumpaan, kolaborasi, dan silaturrahmi intelektual lintas disiplin. Momentum Isra Mi’raj 1447 H, beriringan dengan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-80 bertema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, memberikan kerangka reflektif yang kuat untuk menempatkan aktivitas menulis sebagai ibadah intelektual sekaligus tanggung jawab profesi.

Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa spiritual Nabi Muhammad ï·º, melainkan simbol kenaikan kualitas manusia melalui disiplin, ilmu, dan amanah. Dalam konteks akademik, menulis adalah “mi’raj intelektual” yang menghubungkan gagasan personal dengan kepentingan publik. Teknologi digital seperti dokumen kolaboratif, forum daring, dan analitik data memperluas jangkauan mi’raj ini, memungkinkan karya lahir dari sinergi, bukan ego individual.

Menulis sebagai Ruang Silaturrahmi Digital

Teori connectivism yang dikemukakan George Siemens menegaskan bahwa pengetahuan dibangun melalui jejaring dan relasi. Dalam ekosistem digital, kualitas belajar dan berkarya ditentukan oleh kemampuan membangun koneksi yang bermakna. PBB menjadi contoh konkret bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk menyatukan penulis lintas generasi, latar belakang, dan disiplin, tanpa kehilangan etika dan adab.

Silaturrahmi dalam Islam bukan hanya relasi sosial, tetapi juga sarana memperluas rahmat dan ilmu. Rasulullah ï·º bersabda, “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam dunia akademik, silaturrahmi digital melalui menulis melahirkan pertukaran gagasan yang memperkaya perspektif dan mencegah kejumudan berpikir.

Tanggung Jawab Profesi dalam Menulis

Di lingkungan kampus dan profesi kependidikan, menulis bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif atau publikasi, tetapi manifestasi amanah keilmuan. Etika profesi menuntut kejujuran akademik, relevansi sosial, dan keberpihakan pada kemaslahatan. Jürgen Habermas, melalui teori tindakan komunikatif, menekankan bahwa komunikasi ideal harus berorientasi pada pemahaman bersama, bukan dominasi. Menulis yang etis adalah menulis untuk mencerahkan, bukan menyesatkan; menyatukan, bukan memecah.

Al-Qur’an menegaskan, “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah: 105). Ayat ini menempatkan karya termasuk tulisan sebagai tanggung jawab moral yang diawasi secara transendental dan sosial. Dari itu semua ditemukan Empat Pembelajaran Utama:

Pertama, menulis adalah amanah keilmuan; Setiap tulisan membawa dampak. Oleh karena itu, integritas akademik menjadi fondasi utama, terutama di tahun pembelajaran Semester Genap 2025/2026 yang menuntut keteladanan intelektual.

Kedua, teknologi harus memperkuat kolaborasi, bukan individualisme; Pemanfaatan platform kolaboratif mencerminkan semangat HAB ke-80: rukun dan sinergi. Teknologi menjadi wasilah, bukan tujuan.

Ketiga, silaturrahmi intelektual melahirkan etos belajar sepanjang hayat; Pertemuan komunitas seperti silaturrahmi alumni Fakultas Ushuluddin 1987 di Undangan Perikahan Sahabat H. Uyun, di Cijeunjing, Ciamis (17 Januari 2026) menegaskan bahwa menulis juga menjaga kesinambungan sanad keilmuan.

Keempat, menulis adalah ibadah sosial; Dalam suasana Isra Mi’raj, menulis dimaknai sebagai upaya mengangkat kualitas umat melalui gagasan yang mencerahkan, adil, dan solutif.

Singkatnya, menulis sebagai sinergi teknologi dan silaturrahmi adalah cermin kedewasaan profesi intelektual. Di tengah tantangan zaman, komunitas seperti PBB menunjukkan bahwa kolaborasi digital dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai spiritual dan etika profesi. Inilah mi’raj intelektual kita bersama: naik dalam kualitas ilmu, turun dalam kerendahan hati, dan menyebar dalam kemaslahatan. Wallahu A'lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar