Ketika Mas Gagah Datang

2026-01-11 09:37:48 | Diperbaharui: 2026-01-11 09:37:48
Ketika Mas Gagah Datang
Pertemuan Pulpen XX, dokumentasi Pulpen.

Siapa yang masih ingat dengan cerpen Helvy Tiana Rosa yang berjudul Ketika Mas Gagah Pergi? Sedih sekali ya rasanya. Tapi berbeda dengan pertemuan Pulpen XX Sabtu kemarin. Ada Mas Gagah juga. Bukan untuk pergi dan meninggalkan tentunya. Mas Gagah datang ke Pulpen untuk membakar semangat cerpenis yang ada di Pulpen kembali berapi-api. Tidak akan ada ending yang bikin sedih, tetapi hanya ada kobaran semangat menulis cerpen yang menggebu-gebu.

Namanya Gagah Pranaja Sirat. Masih duduk di bangku sekolah menengah atas di salah satu sekolah di Bogor. Eits, tapi prestasinya bejibun dan tidak main-main. Prestasi akademik karena selalu juara kelas, nonakademik, dan pastinya prestasi dalam menulis cerpen. Kayaknya kalau disebutkan satu per satu, akan sangat panjang dan lelah membacanya. Iya, lelah. Saking banyaknya.

Di Pulpen sendiri, Mas Gagah sering jadi juara Sayembara Cerpen Pulpen. Akhir tahun kemarin, cerpennya berjudul Sutrisni Menghafal Tubuhnya Sendiri dimuat di Koran Kompas. Wajar saja kalau mengintip dari akun instagramnya, Mas Gagah ini mendapatkan Golden Ticket ke Universitas Negeri Malang. Hebat, ya. Melihat Mas Gagah dengan segudang prestasinya, Indonesia tidak mungkin gelap, deh. Bakal terang benderang, bercahaya, dan berkilauan.

Di pertemuan Pulpen XX ini, Mas Gagah membagi cerita tentang bagaimana dia bisa menjuarai berbagai lomba menulis cerpen. Oh ya, Mas Gagah sudah mencintai cerpen sejak duduk di sekolah menengah pertama dan mulai mendalami saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Mas Gagah membuka presentasinya dengan mengutip pernyataan dari Seno Gumira Ajidarma, “Apa yang membuat dua puluh cerita pendek ini berada di tempatnya sekarang? Gejala paling menarik adalah bagaimana kreativitas memproses gagasan tematik, tanpa harus selalu terikat kepada bentuk cerita pendek, bahkan melampauinya.”

Kreativitas tersebut dituangkan Mas Gagah ke dalam presentasinya yang di mana setiap materinya disusun secara kreatif. Kalau dilihat mungkin akan sama saja dengan materi penulisan cerpen pada umumnya. Yang membuat berbeda adalah Mas Gagah membuatnya dengan kata-kata lebih persuasif misalnya kata Praja (penjelasan teori secara sedikit kinestetik), jurus Praja (kiat ampuh berupa keyword), atau contoh Praja (contoh tulisan). Kreatif bukan? Pantas saja Mas Gagah ini juga didapuk menjadi Duta Inovatif Indonesia oleh Majalah Inspiratif. 

Eh, tapi ada yang bingung, ya? Kok Praja bukan Gagah? Itu nama panggilannya juga, kok. Di Pulpen sepertinya banyak yang memanggil dengan sebutan Mas Gagah. Berharapnya seperti tokoh Gagah yang ada dalam cerpen Helvy Tiana Rosa itu ya. Gagah orangnya, baik budi, soleh tapi jangan pergi ya, Mas Gagah. Tetap di sini, bersama Pulpen dan bersama cerpen. Melahirkan karya-karya inspiratif dan jenius sepanjang masa.

Misalnya dalam membuat judul cerpen yang unik. Mas gagah memberikan beberapa cara dalam kata Praja seperti parodi, memberikan pertanyaan, obrolan harian, dialog tokoh, gaya berita, menonjolkan absurditas, dan lain-lain atau panduan membuat alur ada dua yaitu eksperimental dan realis. Mas Gagah memberikan jurus dalam membuat alur ini yaitu jurus Praja dengan 2B (berbeda dan bertingkat).

Dalam melahirkan ide nan liar untuk menuliskan cerpen, Mas Gagah memberikan tipsnya yaitu stop brainrot, stop AI, baca buku tentunya, bersosialisasi, menjadi pengamat, dan berempati. Singkatnya dirangkum menjadi 4M+1 yaitu mempertanyakan, membalikkan, mempertentangkan, dan menyimpangkan.

Untuk menyusun gaya bahasa dalam cerpen agar lebih mantap yaitu dengan pemerataan kosakata untuk menciptakan vibes, menggunakan sensorik (indra), dialog selang aksi, dan bermetafora yang tidak biasa. Selain itu, Mas Praja juga memberikan panduan cara mengkonversi hasil riset ke cerpen yaitu dengan menghidupkan riset (mengaitkan dengan tokoh), harus spesifik/detail, riset sambil berjalan dengan kepenulisan, dan membungkusnya menjadi satu permasalahan. Jurusnya adalah dengan mengurangi footnote. Di akhir presentasi, Mas Praja merangkum semuanya bahwa tak ada arti teori jika tidak dipraktikkan alias mulai menulis. Tulis, tulis, dan tulis. Bangun emosi pembaca dan lampui batas imajinasi.

Takjub, gak, dengan materi yang dibawakan Mas Gagah? Masih bingung? Bisa dilihat lagi ya di youtube Pulpen Kompasiana atau boleh juga bertanya langsung ke Mas Gagah melalui media sosialnya ataupun media lain. Tenang, orangnya gak gigit kok. Kalau diikuti dengan serius, percaya deh, kamu juga bisa menulis cerpen sebagus Mas Gagah bahkan kalau bisa melampauinya. 

Pertemuan Pulpen XX hari itu, dihadiri oleh lebih dari 30 cerpenis Pulpen Kompasiana. Dimoderatori oleh Stevanie Herawati Putri yang sangat manis membawakannya di hari Sabtu nan syahdu.

Teruslah datang dengan cerpenmu, Mas Gagah. Jangan pergi. Kami senang saat Mas Gagah datang. Terus berprestasi.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
3 Orang menyukai Artikel Ini
avatar