Mahasiswa Unimus Semarang Hadirkan SLEEP-7, Inovasi Digital untuk Membantu Pasien Hipertensi

2026-08-02 11:41:16 | Diperbaharui: 2026-08-02 11:41:16
Mahasiswa Unimus Semarang Hadirkan SLEEP-7, Inovasi Digital untuk Membantu Pasien Hipertensi
Inovasi Digital SLEEP-7 yang digagas mahasiswa keperawatan Unimus Semarang bersama dosen pembimbing Prima Trisna Aji/Foto: Redaksi

Mahasiswa Keperawatan UNIMUS Hadirkan SLEEP-7, Inovasi Digital untuk Membantu Pasien Hipertensi Tidur Lebih Berkualitas

Semarang – Lima mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang (FIKKES UNIMUS) menghadirkan SLEEP-7, sebuah model keperawatan digital hibrida yang dikembangkan untuk membantu meningkatkan kualitas tidur pada pasien hipertensi.

Inovasi bertajuk SLEEP-7: Sleep Enhancement through Lifestyle Education and Evidence-Based Practice tersebut akan diperkenalkan kepada publik dalam rangkaian EXPO Mahasiswa Keperawatan FIKKES UNIMUS 2026 pada 7 Agustus 2026.

SLEEP-7 dikembangkan oleh Kesuma Wardhani, Masdalifa Anbiya, Riza Khoirun Nisa’, Ghina Raudhatul Jannah, dan Indika Azkiyatul Karima. Kelima mahasiswa tersebut mendapat pendampingan dari Prima Trisna Aji, dosen Spesialis Keperawatan Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang.

Inovasi ini berangkat dari kenyataan bahwa gangguan tidur kerap dialami pasien hipertensi, tetapi penanganannya belum selalu menjadi perhatian utama. Padahal, tidur yang tidak berkualitas dapat memengaruhi kondisi fisik, kemampuan menjalankan aktivitas, serta pengendalian tekanan darah.

Melalui SLEEP-7, mahasiswa menggabungkan intervensi keperawatan nonfarmakologis, pendidikan kesehatan, pemantauan mandiri, dan pendampingan berbasis teknologi dalam satu program yang terstruktur. Model tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam buku saku digital interaktif agar lebih mudah digunakan oleh pasien, keluarga, mahasiswa, maupun tenaga kesehatan.

Menjelang pelaksanaan expo, tim pengembang juga menyiapkan kegiatan bedah buku SLEEP-7. Forum tersebut dirancang sebagai ruang untuk membahas latar belakang pengembangan inovasi, dasar ilmiah yang digunakan, isi buku, serta kemungkinan penerapannya dalam pendidikan dan pelayanan keperawatan.

Kegiatan bedah buku diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari persiapan pameran, tetapi juga membuka dialog antara mahasiswa, dosen, tenaga kesehatan, dan masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan kualitas tidur pada pasien hipertensi.

Buku saku digital SLEEP-7 telah memperoleh nomor resmi QRSBN atau QR Standard Book Number sebagai identitas penerbitan digital. Produk tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian luaran akademik yang meliputi Hak Kekayaan Intelektual, publikasi dalam jurnal ilmiah, poster edukasi, video tutorial, buku panduan implementasi, publikasi media massa, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Pada pelaksanaan EXPO Mahasiswa Keperawatan FIKKES UNIMUS, tim juga merencanakan pelayanan pemeriksaan kesehatan dan edukasi bagi pengunjung. Kegiatan tersebut menjadi bentuk penerapan langsung inovasi sekaligus sarana memperkenalkan upaya nonfarmakologis yang dapat mendukung pengelolaan hipertensi.

Buku saku digital SLEEP-7 dikemas dengan pendekatan visual dan bahasa yang mudah dipahami. Materinya mencakup pengenalan hipertensi, keterkaitan antara tekanan darah dan kualitas tidur, latihan pernapasan dalam secara perlahan, aromaterapi lavender, latihan handgrip, musik relaksasi, pendampingan melalui WhatsApp, kebiasaan tidur sehat, pola makan, aktivitas fisik, serta pemantauan harian.

Buku tersebut juga dilengkapi kode QR yang menghubungkan pengguna dengan video edukasi, formulir pemantauan, media konsultasi, dan informasi pendukung lainnya. Kehadiran fitur digital itu diharapkan membuat edukasi kesehatan tidak berhenti pada kegiatan tatap muka, tetapi dapat dilanjutkan secara mandiri di rumah.

Ketua tim pengembang, Kesuma Wardhani, mengatakan bahwa SLEEP-7 dirancang untuk menyatukan sejumlah pendekatan yang sebelumnya lebih sering diberikan secara terpisah.

“Banyak pasien hipertensi mengalami gangguan tidur, tetapi belum semuanya memperoleh edukasi dan pendampingan yang terarah. Karena itu, kami mencoba menyusun intervensi keperawatan yang lebih praktis, terintegrasi, dan dapat digunakan secara berkelanjutan,” ujar Kesuma.

Menurut dia, penggunaan teknologi digital memungkinkan pasien mengakses informasi kesehatan tanpa dibatasi tempat dan waktu. Pasien juga dapat mengikuti panduan latihan, mencatat perkembangan kondisi, serta memperoleh dukungan selama menjalankan program.

“SLEEP-7 tidak hanya menyampaikan informasi. Di dalamnya terdapat panduan latihan, pemantauan, pembentukan kebiasaan sehat, dan pendampingan digital. Kami berharap inovasi ini membantu pasien tidur lebih baik, lebih konsisten menjalankan perawatan, dan semakin mampu mengelola kesehatannya secara mandiri,” katanya.

Kesuma menambahkan, tim berupaya menyajikan materi dengan bahasa sederhana dan tampilan yang menarik agar dapat diterima oleh berbagai kelompok pengguna. Dengan demikian, buku saku tersebut tidak hanya memiliki fungsi akademik, tetapi juga dapat menjadi media edukasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Dosen pembimbing, Prima Trisna Aji, menilai SLEEP-7 menunjukkan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menghasilkan karya yang lebih aplikatif.

“Mahasiswa perlu didorong agar hasil belajar dan penelitiannya tidak berhenti sebagai laporan. Karya akademik harus memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi media edukasi, model pendampingan, publikasi ilmiah, serta program yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat,” ujar Prima.

Ia menjelaskan bahwa SLEEP-7 mempertemukan tiga unsur penting dalam pengembangan keperawatan masa kini, yakni praktik berbasis bukti, inovasi teknologi, dan pemberdayaan pasien.

“Melalui inovasi ini, mahasiswa belajar menelaah masalah kesehatan, merancang intervensi, menyusun media pendidikan, menghasilkan publikasi, mengurus perlindungan karya, dan mempersiapkan implementasinya. Proses tersebut penting untuk membentuk perawat yang tidak hanya kompeten dalam memberikan asuhan, tetapi juga mampu menjadi inovator,” katanya.

Menurut Prima, berbagai luaran yang menyertai SLEEP-7 memperlihatkan adanya upaya hilirisasi hasil pembelajaran dan penelitian. Buku saku digital, buku panduan, video tutorial, poster, jurnal ilmiah, HKI, publikasi media, pemeriksaan kesehatan, dan pengabdian masyarakat disusun sebagai satu rangkaian yang saling melengkapi.

Ia berharap pengembangan SLEEP-7 tidak berhenti setelah kegiatan expo. Evaluasi dan penelitian lanjutan diperlukan untuk menilai kemudahan penggunaan, penerimaan pasien, serta manfaat model tersebut dalam mendukung peningkatan kualitas tidur dan pengelolaan hipertensi.

Kehadiran SLEEP-7 sekaligus memperlihatkan pergeseran peran mahasiswa dalam pendidikan tinggi. Mahasiswa tidak lagi hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi turut menghasilkan gagasan, media, dan pendekatan baru yang berangkat dari permasalahan kesehatan di masyarakat.

Melalui bedah buku dan EXPO Mahasiswa Keperawatan 2026, FIKKES UNIMUS berupaya mempertemukan proses pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian dalam satu ruang pembelajaran. SLEEP-7 menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi mahasiswa dan dosen dapat melahirkan karya yang memiliki nilai ilmiah sekaligus peluang penerapan.

Dengan semangat membawa hasil riset menuju inovasi dan manfaat sosial, tim berharap SLEEP-7 dapat terus disempurnakan serta menjadi referensi pengembangan edukasi dan pendampingan digital bagi pasien hipertensi. Lebih dari sekadar produk pameran, inovasi tersebut diarahkan menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan keperawatan yang lebih mudah diakses, partisipatif, dan relevan dengan perkembangan teknologi.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar