Selama ini, kita sering memahami kesehatan sebagai urusan rumah sakit, puskesmas, atau tenaga medis. Padahal, pengalaman pandemi, bencana, dan penyakit tidak menular memberi pelajaran penting: kesehatan sesungguhnya hidup di tengah masyarakat.
Di sinilah kehadiran Tim Kesehatan Masyarakat (KESMAS) MPKU menjadi relevan. Tim ini tidak diposisikan hanya sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi sebagai penggerak komunitas, penguat kesiapsiagaan, dan penyampai syiar kesehatan Islam berkemajuan—sebuah pendekatan yang menyatukan ilmu, nilai, dan aksi sosial.
Kesehatan Kota: Masalahnya Nyata, Solusinya Harus Dekat
Wilayah perkotaan seperti Jakarta Selatan menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks: kepadatan penduduk, banjir, kebakaran, masalah kesehatan remaja, lansia yang hidup sendiri, hingga pekerja informal yang minim perlindungan kesehatan.
Masalah-masalah ini tidak selalu bisa diselesaikan dengan menambah layanan klinis. Yang dibutuhkan adalah pendekatan berbasis wilayah, mengenali persoalan lokal, dan menghadirkan aktor kesehatan yang dipercaya masyarakat.
Tim KESMAS MPKU hadir untuk mengisi ruang ini.
Pilar Pertama: Public Health Warrior Berbasis Wilayah
Setiap wilayah memiliki cerita kesehatan yang berbeda. Karena itu, Tim KESMAS mendorong setiap Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) untuk melakukan mapping masalah kesehatan di wilayahnya sendiri.
Mulai dari isu banjir dan dampaknya terhadap penyakit, masalah remaja dan bullying, hingga kesehatan lansia—semua dipetakan sebagai dasar kampanye kesehatan berbasis lokal.
Di sini, kader KESMAS bukan sekadar relawan, tetapi tampil sebagai Public Health Warrior: wajah Muhammadiyah yang hadir, menyapa, dan membantu masyarakat sekitar.
Pilar Kedua: Kesiapsiagaan Bencana, Bukan Sekadar Reaksi
Jakarta adalah kota rawan bencana. Namun kesiapsiagaan sering kali baru disadari setelah musibah terjadi.
Melalui Tim Rescue KESMAS, pendekatan diubah: dari reaktif menjadi preventif. Kegiatan seperti pelatihan penanganan awal kebakaran bersama Damkar, simulasi evakuasi gempa, hingga edukasi penggunaan APAR di tingkat RT/RW menjadi bagian dari kerja kesehatan masyarakat.
Kesehatan tidak hanya soal tubuh, tetapi juga soal keselamatan hidup.
Pilar Ketiga: Layanan Kesehatan Berbasis Siklus Hidup
KESMAS hadir langsung ke sekolah, masjid, dan lingkungan warga. Setiap kegiatan dirancang sederhana tapi fokus: skrining kesehatan gratis ditambah satu intervensi utama.
Intervensi ini disesuaikan dengan kelompok sasaran:
-
Lansia dengan edukasi kepatuhan minum obat
-
Ibu dan anak dengan penguatan gizi dan pencegahan stunting
-
Remaja dengan isu kesehatan mental dan bullying
-
Disabilitas dan penyintas stroke dengan rehabilitasi berbasis rumah
Pendekatan ini membuat layanan lebih tepat guna dan berkelanjutan, bukan sekadar seremonial.
Pilar Keempat: Kesehatan Kerja di Ruang Perkotaan
Banyak pekerja kota hidup dan bekerja di ruang yang jarang tersentuh layanan kesehatan: apartemen, pertokoan, kawasan padat kerja.
Melalui pengembangan Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK), Tim KESMAS melakukan pemetaan risiko kerja, edukasi keselamatan, dan pelatihan respon darurat. Ini bukan hanya soal produktivitas, tetapi soal hak pekerja untuk hidup sehat dan aman.
Pilar Kelima: Media dan Syiar Kesehatan Islam Berkemajuan
Gerakan tidak akan besar tanpa narasi yang konsisten. Karena itu, KESMAS juga hadir di ruang digital.
Konten edukasi kesehatan, dokumentasi kegiatan, serta pesan keislaman yang mencerahkan disebarkan melalui media sosial dan podcast. Kesehatan disampaikan bukan dengan bahasa menakutkan, tetapi dengan pendekatan nilai, empati, dan solusi.
Inilah syiar kesehatan Islam berkemajuan—agama hadir untuk menjaga kehidupan, bukan sekadar ritual.
Penutup: Kesehatan adalah Gerakan Sosial
Ketika kader bergerak, komunitas teredukasi, dan nilai keislaman hadir sebagai energi perubahan, maka kesehatan tidak lagi menjadi urusan segelintir orang—melainkan tanggung jawab bersama.
Dan dari sinilah, perubahan besar biasanya dimulai: dari komunitas, untuk masyarakat, dan demi kehidupan yang lebih bermartabat.